Kurang tidur secara sering dapat membuat tubuh lebih sedikit bergerak, mengganggu proses metabolisme, dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan meski durasi tidur yang berkurang tidak terlalu ekstrem.
Melansir Psychology Today pada Senin (20/7/2026), dua penelitian terbaru menunjukkan tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat.
Tidur merupakan proses biologis aktif yang membantu mengatur hormon, metabolisme, pemulihan jaringan, kewaspadaan, serta tingkat aktivitas fisik seseorang pada hari berikutnya.
Penelitian pertama terhadap 95 orang dewasa menemukan bahwa pengurangan waktu tidur rata-rata 80 menit setiap malam selama enam pekan berkaitan dengan kenaikan berat badan sekitar 0,45 kilogram.
Para peserta juga menghabiskan sekitar 17 menit lebih lama dalam kondisi tidak aktif setiap hari dibandingkan ketika menjalani jadwal tidur normal.
Temuan ini menunjukkan waktu terjaga yang lebih panjang tidak selalu membuat seseorang lebih aktif.
Akhirnya, tubuh mudah lelah sehingga seseorang cenderung melewatkan olahraga, mengurangi langkah, atau lebih banyak duduk.
Kondisi tersebut dapat berjalan bersamaan dengan perubahan hormon pengatur rasa lapar, pilihan makanan, dan pengendalian kadar glukosa.
Penelitian kedua yang diterbitkan dalam jurnal Cell juga menemukan hubungan antara tidur dan pelepasan hormon pertumbuhan. Hormon ini berperan dalam perbaikan jaringan, pemeliharaan otot dan tulang, metabolisme lemak, serta pengaturan glukosa.
Meski demikian, tidur lebih lama bukan jaminan berat badan akan turun karena berat badan dipengaruhi pola makan, aktivitas fisik, genetika, kondisi medis, obat-obatan, dan tingkat stres.
Para peneliti menilai tidur perlu ditempatkan bersama pola makan bergizi dan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan metabolik. Risiko terbesar bukan berasal dari satu malam kurang tidur, tetapi ketika kebiasaan tersebut terjadi berulang kali. (bil/ipg)




