Kemenkes Siapkan Skrining Retina di Puskesmas, Cegah Kebutaan Pasien Diabetes

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengintegrasikan layanan skrining retina bagi penyandang diabetes di Puskesmas sebagai upaya mencegah kebutaan akibat retinopati diabetik. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas deteksi dini komplikasi diabetes yang selama ini masih banyak tidak terdiagnosis.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, dr. Siri Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah tidak hanya berfokus mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah berbagai komplikasi yang timbul dari penyakit tersebut.

“Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunnya secara menyeluruh. Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes melitus juga bisa melakukan striking retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini,” kata Nadia dalam Forum Jurnalis Kesehatan dengan tema Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Senin (20/7).

Ia mengajak masyarakat memanfaatkan program pemeriksaan kesehatan yang tersedia sekaligus meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan kondisi mata sejak dini.

Forum tersebut menjadi momentum peluncuran kolaborasi Kemenkes, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Roche Indonesia melalui Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE). Kolaborasi ini akan mengembangkan proyek percontohan teleoftalmologi untuk memperluas skrining retinopati diabetik di fasilitas kesehatan primer.

Urgensi program tersebut didorong dari tingginya jumlah penyandang diabetes di Indonesia. Saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar kelima di dunia. Diperkirakan sekitar 26 juta penduduk dewasa hidup dengan diabetes, namun baru 15 juta yang berhasil terdiagnosis. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pasien berisiko mengalami komplikasi, termasuk retinopati diabetik, tanpa disadari.

Ketua Umum PERKENI, Prof. Em Yunir, mengatakan diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak berbagai organ tubuh, termasuk mata.

“Tingginya angka penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan besar kita saat ini. Gula darah yang tidak terkendali akan membuat kerusakan terus berjalan. Sayangnya, diabetes ini tidak datang sendiri, ia membawa ‘teman-temannya’ seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah hingga menyumbang 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah,” ujar Yunir.

Sementara itu, perwakilan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) bidang Oftamologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Muhammad Bayu Sasongko menilai retinopati diabetik masih menjadi komplikasi diabetes yang kurang mendapat perhatian.

“Retinopati diabetik ironisnya menjadi isu kesehatan yang paling jarang dibahas. Akibatnya muncul normalisasi bahwa gangguan penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah,” kata Bayu.

Ia menjelaskan kerusakan retina akibat diabetes berkembang secara perlahan sehingga banyak pasien tidak menyadari ancaman tersebut dalam lima tahun pertama sejak menderita diabetes.

Persoalan lain yang masih menjadi tantangan adalah belum meratanya akses pemeriksaan retina bagi penyandang diabetes. Kondisi tersebut diakui oleh Advokat Pasien, Anita Permata Sari yang telah hidup dengan diabetes selama 13 tahun.

“Sebagai seseorang yang telah hidup dengan diabetes selama 13 tahun, saya sangat memahami besarnya beban psikologis yang dihadapi pasien. Salah satu tantangan terbesar kami di Indonesia saat ini adalah masalah akses, di mana fasilitas untuk pemeriksaan retina bukan sekadar cek mata biasa belum tersedia secara merata di tingkat layanan kesehatan primer,” kata Anita.

Menurutnya, keterbatasan fasilitas dan hambatan geografis membuat banyak pasien enggan atau kesulitan menjalani pemeriksaan sejak dini. Padahal, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kebutaan akibat retinopati diabetik.

Kemenkes menargetkan melalui Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 sedikitnya 80 persen penyandang diabetes menjalani skrining retina secara berkala dan 60 persen pasien dengan retinopati diabetik yang mengancam penglihatan memperoleh pengobatan yang tepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Harga Toyota Kijang Innova Zenix Non Hybrid, Banderolnya Rp400 Juta
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
FOMO tapi Enggan Berprogress: Fenomena Fixed Mindset Mahasiswa di Zona Nyaman
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Tiba di Indonesia 20 September 2026, Kemhan Persiapkan Calon Kru
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Transformasi Digital Jadi Alasan Kenaikan Biaya Lepas Status WNI, Ini Kata Menkum
• 7 jam laludisway.id
thumb
Roy Suryo Siap Praperadilan Lagi: Jilid III Jalan, Jilid IV Tunggu Tanggal Main
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.