Waka MPR Sebut Peningkatan Literasi Nasional Tidak Boleh Berhenti

detik.com
1 hari lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong solusi kolektif untuk mengatasi dampak keterbatasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Menurutnya, hal itu harus mendapatkan perhatian serius sebagai bagian upaya untuk meningkatkan literasi nasional.

"Sejumlah langkah nyata harus segera dilakukan agar gerakan literasi nasional tidak terhenti. Menghidupkan gotong royong dan kreativitas di semua lini bisa menjadi solusi bagi keberlanjutan gerakan literasi," kata MPR RI Lestari Moerdijat, Senin (20/7/2026).

Pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR, Kamis (16/7), Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyebut dengan pagu anggaran 2026 senilai Rp 377, 9 miliar, program pembagian buku gratis ke desa dan taman baca yang selama ini berjalan sukses terpaksa dihentikan total. Sebelumnya, pada 2025 Perpusnas mendapatkan alokasi anggaran Rp 721,6 miliar.

Baca juga: Waka MPR Kecam Pemerkosaan Lansia di Grobogan, Desak Hukum Maksimal

Menurut Lestari, program peningkatan literasi masyarakat harus konsisten dilakukan dan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

"Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat harus diperkuat dengan aksi nyata," jelasnya.

Apalagi, dia menjelaskan berdasarkan data terbaru Perpusnas menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional per Maret 2026 masih berada di angka 40,6 atau dalam kategori rendah.

Sejumlah langkah konkret harus segera dilakukan seperti antara lain, peningkatan peran daerah dalam ikut mendorong budaya baca dan literasi, serta penguatan kolaborasi multi-pihak yang melibatkan dunia usaha, pegiat literasi, dan komunitas.

Baca juga: Waka MPR Desak Respons Cepat Kondisi Darurat Kekerasan Perempuan

"Salah satu problem utama literasi bukan semata ketiadaan minat baca, tetapi masih rendahnya akses terhadap bahan bacaan bermutu. Butuh kreativitas bersama untuk menjangkau hingga pelosok, misalnya dengan memaksimalkan peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar di daerah," jelasnya .

Selain itu, harus didorong kebijakan fiskal yang ramah buku antara lain dengan menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) buku dan pajak kertas sebagai bahan baku buku.

"Literasi adalah fondasi kedaulatan bangsa. Jika generasi penerus tak mampu menelaah informasi dengan baik karena rendahnya kemampuan literasi, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan bangsa di masa datang," tutupnya.




(akd/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Anime "Tenmaku no Jaadugar" dan Para Perempuan Kekaisaran Mongol
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Landing Nongsa Changi Cable Tandai Era Baru Koneksi Digital ‘Kilat’ Tanpa Jeda
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Hari Ini 21 Juli, Simak Lokasi dan Jadwalnya
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Dalam 3 Bulan, Ada 74 Kasus Narkoba yang Dibongkar di Bogor: Barbuk Rp 10,8 M
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.