Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) masih menyisir data titik-titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penyisiran dilakukan agar SPPG beroperasi sesuai dengan target sasaran penerimaan manfaat, termasuk daerah yang memiliki angka stunting tinggi.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menyampaikan dalam praktik sebelumnya, pendirian SPPG tidak memperhatikan kebutuhan pemenuhan gizi suatu wilayah dan hanya memastikan lokasi tersebut dapat dibangun dapur untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak dilihat tingkat stunting di daerah tersebut dan sesuai sasaran penerima manfaat atau tidak.
"Mereka pokoknya ada SD sekitarnya, ada SMP di sekitarnya, mau gitu. Apalagi ketika titik-titik SPPG itu sudah terlalu banyak, malah ada di lapangan yang berebut. Itu yang sekarang sedang kami sisir lagi datanya," kata Agustina usai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 20 Juli 2026.
Baca Juga :
BGN Pastikan Penghentian SPPG Hanya SementaraIlustrasi makan bergizi gratis. Foto- Medcom.id.
Dia menyoroti terdapat 62,7 juta penerima manfaat MBG. Pihaknya sedang mengonfirmasi data tersebut serta membaginya ke kategori dan kelompok yang paling membutuhkan.
Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari proses perbaikan tata kelola program MBG yang tengah dilakukan pemerintah. Pembenahan itu dilakukan ketika sejumlah mantan pemimpin BGN ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola Program MBG 2025-2026 oleh Kejaksaan Agung.
Agustina sebelumnya mengatakan Presiden Prabowo Subianto sudah menginstruksikan jajaran BGN untuk mengkaji ulang sasaran penerima manfaat MBG. Presiden ingin penerima manfaat diprioritaskan kepada kelompok yang membutuhkan masuk dan masuk ke dalam kategori rentan, seperti masyarakat di desil bawah serta wilayah rawan stunting.



