Jelang Rilis Kinerja Raksasa Teknologi, Wall Street Ditutup Melemah

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Senin waktu setempat. Para investor cenderung menahan diri sembari memantau upaya deeskalasi konflik di Timur Tengah serta menanti rilis laporan keuangan kuartal kedua dari sejumlah raksasa teknologi pekan ini.

Mengutip Reuters, pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 307,16 poin atau 0,59 persen ke level 51.839,26. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 14.41 poin atau 0,19 persen ke posisi 7.443,28, dan Nasdaq Composite turun tipis 12,17 poin atau 0,05 persen ke level 25.508,07.

Indeks Nasdaq yang padat saham teknologi mencatat penurunan paling terbatas dibanding S&P 500 dan Dow Jones. Hal ini didorong oleh pulihnya sektor semikonduktor dari kerugian pekan lalu, serta penguatan di sektor jasa komunikasi, teknologi, dan saham energi.

Musim rilis laporan keuangan kuartal kedua akan mulai meningkat intensitasnya pekan ini. Sejumlah emiten kakap seperti Alphabet, Tesla, dan Intel dijadwalkan mengumumkan kinerjanya.

Laporan ini dinilai penting untuk memberikan gambaran lebih luas mengenai kesehatan korporasi di Amerika Serikat setelah pekan lalu didominasi oleh rilis dari sektor keuangan.

Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz, menilai pergerakan pasar saat ini mencerminkan sikap wait and see dari para pelaku pasar.

"Investor cenderung tidak agresif mengambil posisi sebelum laporan keuangan dari sektor teknologi, energi, dan bisnis konsumer benar-benar keluar," kata dia mengutip Reuters, (21/7).

Di sisi geopolitik, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran menyatakan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Langkah ini membuka celah baru dalam konflik yang melibatkan AS dan Israel, sekaligus memperluas ancaman terhadap pasokan energi global serta jalur perdagangan di luar kawasan Teluk.

Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pihak mediator telah menyampaikan proposal deeskalasi perang kepada pihak AS.

Proposal tersebut menawarkan gencatan senjata selama 10 hari guna mencari jalan keluar untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu.

Head of CIO Market Strategy Merrill and BofA Private Bank, Joe Quinlan, mengungkapkan investor sangat menantikan resolusi apa pun di Timur Tengah yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz demi memperbaiki pasokan dan harga minyak. Dengan adanya dialog dan penurunan intensitas pengeboman, harga minyak dan bensin diharapkan tidak melonjak seperti awal tahun ini, sehingga dapat mengurangi tekanan pada harga-harga konsumen.

Berdasarkan data LSEG, pasar memperkirakan pertumbuhan laba bersih emiten S&P 500 pada kuartal kedua akan mencapai 26 persen secara tahunan.

Proyeksi ini meningkat dari estimasi sebelumnya yang berada di angka 23,7 persen. Investor secara khusus memantau kinerja produsen cip seperti Intel dan Texas Instruments menyusul anjloknya indeks semikonduktor Philadelphia SE hingga lebih dari 20 persen dari rekor tertingginya pada akhir Juni lalu.

Dalam pergerakan saham individu, Apple Inc menjadi penekan terbesar bagi S&P 500 setelah sahamnya melemah 2 persen. Sebaliknya, saham Microsoft tampil sebagai pendorong utama indeks.

Penguatan tertinggi dicatatkan oleh Global Payments Inc yang melonjak 5,8 persen setelah Morgan Stanley menaikkan peringkat sahamnya menjadi overweight. Di sisi lain, Carvana Co menjadi saham dengan penurunan persentase terbesar setelah anjlok 4,8 persen.

Saham Alphabet juga menanjak 1,5 persen dan menyumbang sentimen positif bagi S&P 500. Kenaikan dipicu oleh laporan bahwa unit usahanya, Google, tengah mengembangkan cip server terintegrasi Gemini yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi kecerdasan buatan (AI) serta mengatasi keterbatasan kapasitas komputasi. Saham Domino's Pizza juga menguat 2,1 persen setelah pendapatan kuartalannya melampaui estimasi Wall Street.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang melemah mendominasi perdagangan di bursa New York Stock Exchange dan Nasdaq. Volume perdagangan di bursa AS terpantau relatif sepi dengan total 15,50 miliar saham yang berpindah tangan, berada di bawah rata-rata volume 20 sesi terakhir yang mencapai 19,94 juta saham.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Serangan Terbesar Sejak Perang Dimulai: Rusia Luncurkan Serangan Rudal Mematikan ke Ukraina
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Polisi Ungkap Asal-usul Senpi di Kasus Pengusaha Tewas di St Regis
• 20 jam laludetik.com
thumb
Cara Klaim Diskon Listrik 50% dari PLN, Terakhir 27 Juli 2026
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
KPU Mutakhirkan Data Pemilih, Generasi Milenial dan Z Masih Mendominasi
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Presiden Prabowo Sampaikan Pentingnya Digitalisasi Pemerintah
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.