Kabul: Sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang menerjang Provinsi Nuristan di timur laut Afghanistan pada Senin, 20 Juli 2026.
Otoritas setempat memperkirakan jumlah korban jiwa akan terus bertambah seiring tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau tersebut.
Di antara mereka yang masih hilang adalah Wali Kota Parun, ibu kota Provinsi Nuristan, beserta dua pengawalnya.
Dikutip dari India Today, Selasa, 21 Juli 2026, Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan menyatakan Parun menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah. Banjir menghancurkan rumah warga, kawasan pertokoan, serta berbagai infrastruktur lainnya.
Sedikitnya 80 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Namun, jalan yang rusak serta medan yang berat menghambat upaya tim penyelamat untuk menjangkau sejumlah wilayah terdampak.
Pihak berwenang memperingatkan bencana tersebut telah menyebabkan kerugian besar, baik dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi, sementara proses pendataan kerusakan masih terus dilakukan.
Afghanistan merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Frekuensi cuaca ekstrem yang meningkat, ditambah deforestasi di Nuristan dan sejumlah provinsi lainnya, dinilai memperparah risiko banjir bandang karena berkurangnya kemampuan tanah menyerap curah hujan tinggi.
Baca juga: Hujan Deras Memicu Banjir di Afghanistan, 17 Orang Dilaporkan Tewas



