Proyeksi Kenaikan BI-Rate dan Sikap ”Wait and See” di Pasar Modal

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) periode Juli, suku bunga acuan atau BI-Rate diperkirakan naik menjadi 6 persen. Proyeksi ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi inflasi ke depan, terutama akibat lonjakan inflasi pangan dampak El Nino. Suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga diperkirakan naik setidaknya 25 basis points (bps) pada semester II-2026.

Saat ini, BI-Rate masih berada di level 5,75 persen. ”BI-Rate diproyeksikan naik 25 bps seiring dengan meningkatnya ekspektasi inflasi ke depan, terutama karena naiknya inflasi pangan terkait El Nino. Suku bunga The Fed juga diekspektasikan naik setidaknya 25 bps pada paruh kedua 2026,” kata Kepala Ekonom BCA David Sumual saat dihubungi pada Senin (20/7/2026).

Menurut David, BI-Rate sebenarnya sudah tertinggal (lagging behind) dari indikator suku bunga lain di pasar keuangan. Suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), misalnya, sudah lebih tinggi. Suku bunga antarbank overnight Indonesia (Indonia) juga konsisten di atas 6 persen selama dua pekan terakhir.

Untuk sektor perbankan, David menilai valuasi saham saat ini sebenarnya sudah relatif murah. Namun, arah pergerakannya masih sangat ditentukan oleh investor asing mengingat porsi kepemilikan mereka yang dominan. ”Sentimen asing masih relatif negatif terhadap kondisi ekonomi dan perbankan RI,” ucapnya.

Baca JugaSuku Bunga Naik, Pengusaha Pilih ”Wait and See”

​Secara terpisah, analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan menjelang pengumuman hasil RDG BI diperkirakan masih diwarnai sikap wait and see. ”Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI-Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan BI ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing,” ujarnya.

Pada perdagangan Senin (20/7/2026), IHSG dibuka melampaui level psikologis baru di 6.197. Menjelang penutupan perdagangan sesi I pukul 12.00 WIB, indeks bertengger di level 6.230. Nilai kapitalisasi pasar melonjak hingga Rp 10.850 triliun, ditopang oleh kenaikan harga lebih dari 400 saham, berbanding terbalik dengan sekitar 200 saham yang bergerak turun dan stagnan. Nilai transaksi pun menembus lebih dari Rp 6 triliun.

​Menurut Hendra, dalam kondisi seperti ini pasar umumnya lebih sensitif terhadap sinyal atau panduan ke depan (forward guidance) yang disampaikan BI dibandingkan dengan besaran suku bunga itu sendiri. Selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar diperkirakan cenderung positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan oleh investor.

Namun, apabila muncul sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Meski demikian, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan RDG BI, dengan level 6.500 menjadi area penopang penting.

​Untuk prospek hingga akhir tahun, lanjut Hendra, peluang IHSG masih cukup menjanjikan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Arah pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan BI, tetapi juga dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten.

Baca JugaIHSG Diproyeksikan Bergerak Terbatas, Pasar Menanti Perkembangan Geopolitik
Sentimen positif

​Kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Dalam kondisi tertentu, langkah tersebut justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing. Masuknya dana asing pada akhir pekan lalu dapat menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan terhadap pasar domestik mulai membaik, meskipun masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren pemulihan telah sepenuhnya terbentuk.

”Yang lebih penting adalah apakah arus dana asing tersebut berlangsung secara konsisten dalam beberapa pekan ke depan. Apabila stabilitas makro tetap terjaga, nilai tukar rupiah bergerak stabil, dan laporan keuangan emiten pada semester II menunjukkan perbaikan, IHSG berpeluang bergerak menuju kisaran 6.700–6.900 hingga akhir tahun. Bahkan, tidak menutup kemungkinan menguji level psikologis 7.000 apabila aliran dana asing terus berlanjut,” papar Hendra.

Di tengah dinamika tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam memilih sektor dan saham. Sektor perbankan masih menjadi pilihan utama karena memiliki fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, serta menjadi tujuan utama investasi asing ketika sentimen pasar membaik. Selain itu, sektor telekomunikasi juga menarik karena memiliki pendapatan yang relatif stabil dan valuasi yang relatif murah.

Sektor komoditas masih layak dicermati selama harga batubara, emas, dan nikel bertahan pada level yang menguntungkan. Sementara itu, sektor infrastruktur berpotensi memperoleh sentimen positif apabila realisasi belanja pemerintah meningkat pada paruh kedua. ”Masuknya dana asing memang merupakan perkembangan yang menggembirakan, tetapi bukan berarti investor harus terburu-buru membeli seluruh saham,” kata Hendra.

Strategi yang lebih bijak, menurut Hendra, adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi yang masih menarik, sembari tetap memperhatikan perkembangan sentimen global yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi arah arus modal.

Baca JugaSuku Bunga Tinggi Tekan UMKM

Dari sisi valuasi, kondisi pasar saham Indonesia saat ini masih tergolong menarik. Dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) IHSG yang berada di bawah 9 kali, valuasi pasar dinilai relatif murah dibandingkan dengan rata-rata historis maupun sejumlah bursa regional. Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.

Namun, pilihan investasi tidak harus terbatas pada saham. Obligasi pemerintah juga tetap menarik karena tingkat imbal hasil yang meningkat seiring kebijakan suku bunga. Oleh karena itu, strategi diversifikasi antara saham dan obligasi menjadi pilihan yang lebih bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian global.

Di antara saham-saham unggulan, sektor perbankan masih menjadi pilihan utama. Saham BMRI direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 4.710 didukung pertumbuhan kredit yang solid dan valuasi yang masih menarik. BBCA tetap menjadi pilihan defensif dengan target Rp 6.850 berkat kualitas aset yang sangat baik dan konsistensi pertumbuhan laba. BBRI memiliki target Rp 3.130 ditopang prospek pemulihan kredit UMKM dan perbaikan profitabilitas, sedangkan TLKM layak dicermati dengan target Rp 3.030 karena valuasinya yang murah, potensi dividen yang menarik, serta prospek pertumbuhan bisnis digital.

”Secara keseluruhan, strategi yang paling relevan saat ini adalah buy on weakness atau melakukan pembelian secara bertahap ketika terjadi koreksi, bukan mengejar kenaikan harga. Selama stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga dan arus modal asing terus membaik, peluang pemulihan IHSG hingga akhir tahun masih terbuka lebar, meskipun investor tetap perlu mewaspadai dinamika global yang berpotensi memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu,” ujar Hendra.

Baca JugaIHSG Satu Semester Anjlok, Investor Saham Masih Oke?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Ekshibisi Timnas Voli Putri Indonesia Vs Korea Selatan Pekan Ini: Dihadiri Megawati Hangestri
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Rusdi Kirana: AI Harus Perkuat Ekonomi Rakyat, Bukan Hanya Simbol Kemajuan Teknologi
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Sebut Prabowo Kemungkinan Batal Bubarkan Bea Cukai: Progresnya Amat Baik
• 21 menit lalukumparan.com
thumb
Kapolda Riau Lantik Kabid Humas Baru Kombes Akmadi
• 5 jam laludetik.com
thumb
Unggah Foto Bareng Anak, Dearly Joshua Malah Disangka Pamer Pacar Baru
• 21 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.