Dolar AS Gilas 6 Mata Uang Utama Dunia

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin waktu setempat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen pasar menguat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan "membayar" atas tewasnya tiga personel militer AS.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 21 Juli 2026, indeks dolar (DXY), yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,19 persen menjadi 100,957.
 
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1415 dari USD1,1436 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling Inggris turun ke USD1,3436 dari USD1,3454.
 
Dolar AS juga menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Nilai tukar terhadap yen Jepang naik menjadi 162,50 yen dari 162,45 yen, sementara terhadap franc Swiss meningkat menjadi 0,8100 franc dari 0,8075 franc.
 
Selain itu, dolar AS terapresiasi terhadap dolar Kanada menjadi 1,4059 dolar Kanada dari 1,4011 dolar Kanada, serta menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,6856 dari 9,6497.
 

Baca Juga :

Rupiah Dibuka ke Rp17.977/USD, Senin Pagi, 20 Juli 2026
  Konflik Timur Tengah jadi penopang dolar  
Pelaku pasar menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi menjadi faktor utama yang menopang penguatan dolar AS sepanjang pekan ini, terutama ketika agenda data ekonomi Amerika Serikat relatif minim dan pejabat Federal Reserve memasuki periode blackout menjelang rapat kebijakan.
 
Pada pekan lalu, dolar sempat tertekan setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan sehingga memicu penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam jangka pendek.
 
Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) mengalami moderasi. Selain itu, penjualan ritel di sektor SPBU menurun secara bulanan, sedangkan survei Universitas Michigan mencatat sentimen konsumen pada Juli mencapai level tertinggi sejak Februari disertai penurunan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan.
 
Kondisi tersebut memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan moneternya.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
  Ekspektasi suku bunga The Fed menurun  
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada akhir Juli turun menjadi sekitar 16 persen, dibandingkan hampir 42 persen pada awal bulan.
 
Namun, pelaku pasar kembali mencermati risiko inflasi setelah harga minyak melonjak menyusul memburuknya hubungan AS dan Iran. Sebelumnya, perlambatan inflasi pada Juni banyak dipengaruhi penurunan harga energi setelah kedua negara mencapai kesepakatan damai sementara.
 
Sejumlah pejabat Federal Reserve tetap menilai perjuangan menekan inflasi belum berakhir. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan menegaskan kebijakan moneter masih perlu dijaga ketat, termasuk mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi.
 
Selain mencermati perkembangan di Timur Tengah, investor juga menantikan keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis.
 
Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, bank sentral tersebut diperkirakan tetap menyampaikan sikap yang cenderung hawkish dengan menegaskan arah kebijakan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinergi Kementan dan Pemda Sulsel Percepat Program PM-AAS Demi Swasembada Pangan Nasional
• 14 jam laluharianfajar
thumb
PAN Pecat Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Madura United resmi datangkan Brandon Scheunemann
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Istri Pelaku Pembakaran 10 Rumah di Lubuklinggau Sujud Minta Maaf ke Para Korban
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT, DPR Ingatkan Pemerintah
• 11 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.