Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan meminta badan usaha BBM, baik itu PT Pertamina (Persero) maupun SPBU swasta lain, untuk menyesuaikan harga BBM.
Bahlil memastikan pasokan minyak mentah dan BBM nasional dalam kondisi aman. Selain harga BBM subsidi yang tidak akan ada penyesuaian, dia membuka peluang ada penurunan harga BBM nonsubsidi.
"Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," ungkapnya kepada awak media di kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (21/7).
Bahlil menilai harga minyak mentah dunia sudah melandai, setelah sempat melonjak imbas Selat Hormuz diblokade. Meskipun dia menyebutkan bahwa Harga Indeks Pasar (HIP) BBM sangat dinamis perubahannya.
"Saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain, ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," jelasnya.
Dia pun memastikan akan mencari formulasi harga BBM yang bijak dan tidak memberatkan masyarakat, termasuk bagi konsumen BBM nonsubsidi yang tertekan kenaikan harga yang signifikan sejak bulan lalu, namun juga tidak membebani perusahaan.
"Kita mencari formulasi yang bijak, yang tidak memberatkan rakyat pengguna khususnya yang non-subsidi, ini kan totalnya 20 persen, ini saudara-saudara kita yang mampu. Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan," tutur Bahlil.
Sebelumnya, PT Pertamina sudah menahan harga Pertamax sejak April 2026 meskipun harga minyak mentah pada saat itu melonjak tinggi. Perseroan baru menaikkan harganya pada 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.250 per liter dan dipertahankan hingga saat ini.
Adapun harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Juni 2026 kembali menurun menjadi USD 83,45 per barel, dari sebelumnya USD 106,56 per barel pada Mei 2026. ICP bahkan sempat menembus USD 117,31 per barel pada April 2026.





