The Odyssey merupakan salah satu film yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat. Film action-fantasy garapan sutradara Christopher Nolan ini telah tayang di bioskop Indonesia sejak 15 Juli 2026. Film berdurasi 172 menit tersebut diadaptasi dari karya sastra epos berusia hampir 3.000 tahun karya Homeros, atau yang lebih dikenal sebagai Homer, berjudul Odyssey.
Tokoh utama, baik dalam film maupun karya aslinya, adalah Odysseus. Ia dikisahkan sebagai Raja Ithaca, sebuah kerajaan kecil di Yunani. Odysseus merupakan suami Penelope dan ayah dari Telemachus, pewaris takhta Ithaca. Dalam kisah-kisah lanjutan mitologi Yunani, ia juga memiliki seorang putra bernama Telegonus dari penyihir Circe.
Odyssey mengisahkan perjalanan Odysseus kembali ke Ithaca setelah ikut berperang melawan Troya demi merebut kembali Helen, istri Raja Menelaus, yang dibawa lari Paris, pangeran Troya. Namun, perjalanan pulang itu tidaklah mudah. Selama sepuluh tahun, Odysseus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari murka para dewa, monster-monster laut, hingga badai yang menghancurkan kapal dan menewaskan satu per satu anak buahnya.
Berkali-kali Kena HukumanDalam mitologi Yunani terdapat konsep xenia, yakni hukum keramahtamahan yang dijaga oleh Zeus. Berdasarkan penjelasan kolumnis The New York Times, Sarah Bahr, dalam artikel "What to Know Before Seeing 'The Odyssey'", xenia merupakan aturan tak tertulis yang mengatur hubungan antara tuan rumah dan tamu.
Aturan itu menjabarkan bahwa tuan rumah wajib memberikan perlindungan, makanan, dan tempat tinggal, sedangkan tamu harus menghormati tuan rumah. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dipercaya dapat mengundang murka para dewa.
Menurut Koresponden TIME, Eliana Dockterman, dalam artikel berjudul "To Understand The Ending of The Odyssey, You Must First Understand 'Zeus' Law', Odysseus melanggar Hukum Zeus, yang pertama saat ia memberikan ide taktik ‘Kuda Troya’ saat Yunani berperang melawan Troya. Kala itu, ia dan pasukan Yunani lainnya datang ke Troya dalam rupa hadiah patung kayu kuda yang diantar oleh prajurit bernama Sinon.
Berkat kuda kayu itu, pasukan Yunani akhirnya berhasil menembus benteng dan mengalahkan Troya. Saat berhasil memasuki Troya, pasukan Yunani juga melakukan pelanggaran xenia dengan melakukan kekejaman.
Eliana juga menegaskan bahwa perang Troya juga pada awalnya dipicu oleh pelanggaran xenia. Paris, pangeran Troya datang ke Sparta lalu menculik istri sang tuan rumah, Helen.
Meski demikian, penjelasan Eliana adalah satu dari sekian banyak tafsiran terhadap cerita Odysseus. Ada pula penafsiran lain yang menyebut Odysseus tidak semata-mata disebabkan oleh pelanggaran xenia. Sebagian muncul akibat tindakannya sendiri, sementara sebagian lain dipicu oleh kemarahan para dewa maupun ulah anak buahnya.
Salah satu peristiwa penting terjadi ketika Odysseus membutakan Cyclops Polyphemus, putra dewa laut Poseidon, demi menyelamatkan diri dan anak buahnya dari gua sang raksasa. Setelah berhasil meloloskan diri, Odysseus justru mengungkapkan identitasnya kepada Polyphemus. Sang raksasa kemudian memohon kepada Poseidon agar membalas perbuatan tersebut. Sejak saat itu, Poseidon terus menghalangi perjalanan pulang Odysseus.
Odysseus juga mengancam Circe dengan pedang atas petunjuk Dewa Hermes untuk membebaskan anak buahnya yang disihir menjadi babi di Pulau Aeaea. Sementara itu, di akhir kisah, ia membunuh 108 pelamar Penelope yang selama bertahun-tahun menyalahgunakan keramahtamahan di Istana Ithaca.
Dalam Odyssey karya Homer, peristiwa itu sempat memicu konflik dengan keluarga para pelamar sebelum akhirnya Athena turun tangan mendamaikan kedua belah pihak.
Selain itu, hukuman juga menimpa Odysseus dan rombongannya setelah anak buahnya menyembelih sapi suci milik dewa matahari Helios di Pulau Thrinacia. Meski Odysseus telah melarang mereka, Zeus tetap mengirim petir yang menghancurkan kapal mereka atas permintaan Helios. Peristiwa itu membuat Odysseus menjadi satu-satunya yang selamat.
Meski berkali-kali memancing murka para dewa, Odysseus dikenal sebagai salah satu tokoh paling kompleks dalam mitologi Yunani. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, dan memiliki kecerdikan luar biasa. Berbagai julukan pun disematkan kepadanya, mulai dari "Odysseus yang Licik", "Pria yang Rumit", hingga "Polytropos" atau "Si Banyak Akal".
Julukan-julukan tersebut lahir dari berbagai tindakannya, mulai dari mengusulkan siasat Kuda Troya, mengelabui Polyphemus agar dapat meloloskan diri, hingga mengikat dirinya sendiri di tiang kapal agar dapat mendengar nyanyian Sirens tanpa kehilangan akal.
Sosok Odysseus Dipuja Masyarakat Ithaca KunoApakah sosok ini sungguh ada di dunia nyata? Atau sekadar khayalan Homer belaka?
Odysseus dikisahkan hidup pada zaman perunggu atau sekitar abad ke-12 sebelum masehi (SM). Selisih sekitar 4 abad dengan Odyssey yang diperkirakan ditulis pada abad ke-8 SM.
Berdasarkan laporan New York Times berjudul “Odysseus Wasn’t Real. But He Had Real Worshipers in Ancient Ithaca”, para arkeolog telah melakukan penggalian situs di Pulau Ithaca, Yunani. Penggalian ini mengungkap bahwa Raja Odysseus adalah tokoh yang dipuja secara lokal.
Arkeolog Yunani Giannos G. Lolos, dan rekan-rekannya menemukan nama Odysseus dicap atau diukir ke dalam tanah liat. Salah satunya diterjemahkan sebagai "milik Odysseus," yang menyiratkan bahwa sosok mitologis itu berkuasa atas wilayah tersebut. Satunya lagi bertuliskan "untuk Odysseus" yang berarti sebuah hadiah yang ditujukan kepadanya. Ukiran tersebut menunjukkan adanya pemujaan terhadap Odysseus.
Kompleks yang sebagian masih ada ini, diukir langsung di teras Gunung Exogi. Situs ini dikenal secara lokal sebagai Sekolah Homer. Para arkeolog telah menyelidiki situs ini selama lebih dari seabad, sebagian besar menolak adanya hubungan tempat tersebut dengan ‘Odyssey’.
Jika Cerita Odyssey Dikaitkan dengan Dunia NyataEncyclopedia Britannica merinci bagaimana kisah mitologi Odyssey ini boleh jadi punya kaitan dengan dunia nyata dalam sebuah artikel berjudul "Is the Odyssey a True Story?".
Pertama, saat Odysseus berkunjung ke istana Circe di Pulau Aeaea, para pasukannya berubah menjadi babi setelah meminum ramuan Circe. Perubahan dari manusia ke babi paling mungkin merupakan halusinasi daripada transmutasi fisik.
Sihir Circe gagal bereaksi saat masuk ke tubuh Odyssey karena sang raja telah meminum ramuan penangkal ‘moly’ pemberian Dewa Hermes. Beberapa teori menunjukkan bahwa moly mungkin adalah bunga salju (Galanthus nivalis). Bunga ini memiliki sifat menghambat enzim yang terkait dengan gangguan neurodegeneratif. Bunga salju juga secara visual mirip dengan deskripsi moly.
Sementara halusinasi yang dialami para pasukan saat berada di Negeri Para Pemakan Lotus, dikaitkan dengan tanaman opium poppy (Papaver somniferum) dan jujube (Ziziphus jujuba), alih-alih terkait tanaman seroja maupun teratai.
Monster-monster laut, petir yang menyambar kapal, jalur pelayaran baru, hingga gelombang mematikan yang dihadapi Odysseus diyakini merupakan keadaan asing yang ia amati di tempat-tempat yang baru dikunjungi.
Peneliti menghubungkannya dengan aktivitas perdagangan dan kolonisasi di Mediterania barat yang dilakukan oleh orang Yunani ketika karya Homer itu ditulis.
Pulau tempat tinggal raksasa Polyphemus bisa jadi adalah Pulau Sisilia modern, yang dijajah oleh bangsa Yunani pada abad ke-8 SM, bisa jadi juga adalah Pulau Kreta.
Sementara Scylla dan Charybdis, dua monster berbahaya yang bermukim di selat sempit dikaitkan dengan Selat Messina. Selat ini berada di antara Pulau Sisilia dan daratan Italia.
Di akhir artikel, Britannica menyebutkan, jika sosok Odysseus benar-benar ada, kemungkinan besar ia merupakan seorang kepala suku yang kisah hidupnya ‘dibesar-besarkan’ dalam legenda.
Kisah 'Counter' Ulysses Ala Dante AlighieriOdysseus diceritakan sebagai pahlawan, prajurit yang cerdik, dan suami sekaligus ayah yang setia untuk ‘pulang’. Namun, penyair Italia abad pertengahan akhir, Dante Alighieri menceritakan Odysseus dari sudut pandang berbeda.
Dalam karyanya yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ilahi) bagian pertama berjudul Inferno, Dante menggambarkan dirinya menjelajahi neraka. Ia menggambarkan neraka terdiri dari sembilan lingkaran. Masing-masing melambangkan tingkat kejahatan yang dilakukan individu.
Pada lingkaran ke-8, lagu XXVI, digambarkan bahwa Ulysses (nama Odysseus dalam bahasa latin) bersama Diomedes dihukum di dalam nyala api neraka. Dante menggambarkan mereka dihukum karena intrik ‘Kuda Troya’ saat perang melawan Troya, termasuk dalam kejahatan ‘memberikan nasihat jahat’.
Kisah akhir Ulysses juga berbeda dengan karya Homer yang ending-nya Odysseus berhasil kembali ke Ithaca. Versi Dante menggambarkan Ulysses melakukan pelayaran terakhir meninggalkan Pulau Circe. Saat berlayar melewati batas pilar Hercules, ia melihat Gunung Purgatorium, kapalnya terbalik dan ia tenggelam.




