Meisya Amira Akui Belajar Bahasa Isyarat Demi Perankan Karakter Tunarungu di Film Terbarunya

grid.id
9 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Aktris muda Meisya Amira menghadapi tantangan baru dalam perjalanan karier aktingnya. Untuk pertama kalinya, ia dipercaya memerankan karakter tunarungu dan tunawicara dalam film terbarunya yang berjudul Juminten Edan. Demi memberikan penampilan yang autentik, Meisya harus mempelajari bahasa isyarat hingga memahami cara menyampaikan emosi tanpa mengandalkan dialog.

Bagi Meisya, proses tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menantang yang pernah ia jalani sebagai seorang aktris. Pasalnya, sebelum menerima peran ini, ia sama sekali belum memiliki pengalaman mempelajari bahasa isyarat maupun memahami bagaimana berkomunikasi sebagai penyandang disabilitas pendengaran.

"Kalau jadi seorang tunawicara dan juga tunarungu itu menurutku sangat susah, challenging banget karena aku belum pernah belajar sebelumnya, baru kali ini," ungkap Meisya Amira di kawasan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Menurut Meisya, pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar ia dapat tampil lebih meyakinkan di depan kamera. Selama masa workshop, ia belajar bersama rekan-rekan pemain, termasuk Dimas dan Sharon, di bawah arahan pelatih yang berpengalaman.

"Dan di sini kita emang ada coaching dan juga kita belajar dua minggu sama-sama, sama Mas Dimas juga, sama Sharon juga. Dan itu menurut aku pengalaman yang baru dan pembelajaran yang baru juga," sambungnya.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Meisya bukan sekadar menghafal bahasa isyarat. Ia justru merasa kesulitan ketika harus menampilkan berbagai emosi tanpa bantuan dialog.

Jika biasanya seorang aktor dapat mengandalkan intonasi suara untuk memperkuat emosi sebuah adegan, kali ini Meisya dituntut menyampaikan seluruh perasaan hanya melalui tatapan mata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa isyarat. Ia mengaku membutuhkan proses yang tidak singkat untuk membiasakan diri dengan cara berakting tersebut.

"Yang menurut aku juga challenging adalah gimana aku harus mengekspresikan semuanya tanpa dialog dari mata, emosi, semuanya itu bener-bener dilakukan dengan bahasa isyarat. Itu salah satu yang bener-bener pengalaman baru dan lumayan sulit bagi aku tapi dengan adanya proses, alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancar," kata Meisya.

Agar penggambaran karakter lebih akurat, tim produksi menghadirkan seorang coach yang merupakan penyandang tunarungu. Kehadiran pelatih tersebut dinilai sangat membantu para pemain memahami cara berkomunikasi sekaligus budaya dalam komunitas tuli.

Meisya mengatakan proses belajar berlangsung secara intensif. Bahkan, ada hari khusus yang difokuskan hanya untuk mempelajari bahasa isyarat agar setiap gerakan yang dilakukan sesuai dengan penggunaannya.

"Ya kita ada workshop sama dua minggu itu sama coach yang emang dia itu tunarungu sih sebenernya. Jadi bener-bener intens belajar dan ada satu hari emang aku khusus belajar bahasa isyarat," tuturnya.

 

Persiapan Meisya tidak berhenti setelah workshop selesai. Ia tetap melatih bahasa isyarat secara rutin menjelang pengambilan gambar.

Setiap kali mengetahui adegan yang akan diambil keesokan harinya, Meisya memilih berlatih lebih dulu agar gerakan yang dilakukan saat syuting terasa alami. Kebiasaan itu dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya bahasa isyarat menjadi sesuatu yang muncul secara refleks.

"Jadi di sana juga latihan terus, jadi setiap misalkan besok ada scene apa aku harus latihan dulu hari sebelumnya. Dan lama-lama refleks kayak gitu aja. Terus jadi semuanya bisa," ungkap Meisya.

Sementara itu, film Juminten Edan menceritakan tentang Juminten, seorang perempuan tuna wicara yang pulang ke pulau tempat ia dibesarkan bersama suami dan anaknya setelah 8 tahun merantau. Kepulangan mereka berubah menjadi teror mencekam ketika ia sering kehilangan kendali dan menyerang keluarganya, mengungkap trauma kelam masa lalu yang belum selesai.

Film yang diproduksi oleh Mercusuar Films dan Digital Frame Production ini turut dibintangi oleh Dimas Aditya, Sharon Jovian, Anne J. Coto, Kukuh Prasetyo, dan masih banyak lagi. Film ini rencananya akan tayang pada 23 Juli 2026 di bioskop. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Impor Garam Naik di Awal Tahun 2026, Pemerintah Didorong Batasi Kuota Tambahan
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
2 Orang Tewas Dalam Insiden Kebocoran Gas di Perumahan Mewah di Medan | KOMPAS PETANG
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Piala Dunia 2026 Satukan Indonesia, Pemerintah Buka Akses Gratis Lewat TVRI
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Istri Pembakar 10 Rumah di Lubuklinggau Sujud Minta Maaf ke Tetangga
• 9 jam laludetik.com
thumb
Polda Metro Jaya Terima Laporan PWI Terhadap Hotman Paris yang Merendahkan Profesi Wartawan
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.