Batam ke Singapura: Kedekatan yang Melampaui Batas Negara

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Perjalanan Batam ke Singapura hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam melintasi selat sempit yang memisahkan Indonesia dan negara kota yang menjadi salah satu pusat ekonomi dunia.

Kedekatan geografis ini membuat hubungan kedua wilayah tidak lagi sekadar hubungan antarnegara, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di kedua sisi perbatasan. Perjalanan singkat saya pada Sabtu, 11 Juli 2026, memperlihatkan bahwa laut bukan menjadi pemisah, melainkan ruang yang menyatukan mobilitas, ekonomi, dan budaya.

Sabtu pagi, 11 Juli 2026, pukul 08.20 WIB, saya bersama peneliti senior, Prof Agus Trihartono berangkat dari Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam menuju Singapura menggunakan kapal feri Majestic. Pagi itu suasana Pelabuhan Batam Centre tidak terlalu ramai. Penumpang kapal Majestic yang saya tumpangi kurang dari 100 orang.

Bagi masyarakat Batam, perjalanan ke Singapura memang bukan sesuatu yang luar biasa. Jarak yang dekat membuat negara tetangga itu terasa seperti bagian dari ruang kehidupan sehari-hari. Batam dan Singapura terasa semakin dekat berkat jalur laut yang setiap hari dipenuhi aktivitas penumpang.

Ada lima pelabuhan feri internasional di Batam, yakni Batam Centre, Sekupang, Harbour Bay, Bengkong, dan Nongsa Point Marina. Sejumlah operator seperti Majestic Fast Ferry, Batam Fast Ferry, Horizon, dan Sindo Ferry melayani perjalanan lintas negara ini dengan jadwal yang padat. Di Singapura, kapal-kapal tersebut tiba di dua terminal utama, HarbourFront Centre dan Tanah Merah.

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan ini adalah kemudahan proses imigrasi. Di Pelabuhan Batam Centre, Batam, pemeriksaan paspor sudah menggunakan sistem autogate. Penumpang yang memenuhi persyaratan cukup melakukan pemeriksaan secara mandiri melalui mesin yang tersedia.

Pengalaman ini terasa berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika proses pemeriksaan masih dilakukan sepenuhnya melalui loket petugas. Dengan sistem otomatis, antrean menjadi lebih pendek dan proses keberangkatan berjalan lebih cepat.

Saat tiba di Harbour Front Centre, Singapura, pengalaman serupa juga saya rasakan. Pemeriksaan imigrasi berlangsung lebih praktis dengan sistem otomatis berbasis paspor dan biometrik. Penumpang tidak perlu lagi melalui proses wawancara singkat seperti yang sering terjadi pada masa lalu.

Kemudahan ini membuat perjalanan lintas batas terasa lebih sederhana. Batas negara memang tetap ada, tetapi teknologi membuat perjalanan antarwilayah menjadi semakin mudah.

Meski perjalanan Batam-Singapura semakin mudah, penumpang masih harus menyesuaikan biaya perjalanan dengan adanya tambahan biaya bahan bakar (fuel surcharge) yang diberlakukan operator feri sejak pertengahan Maret 2026.

Kebijakan ini muncul sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia yang ikut memengaruhi biaya operasional kapal. Penumpang dari Batam dikenakan tambahan sekitar Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per orang, sementara mereka yang berangkat dari Singapura dikenai biaya tambahan sekitar 6 dolar Singapura. Dengan penyesuaian tersebut, harga tiket feri Batam-Singapura kini berada pada kisaran Rp515 ribu hingga Rp595 ribu per orang, bergantung pada operator dan pelabuhan keberangkatan.

Dua Kota yang saling Membutuhkan

Dari perjalanan ini saya semakin melihat bahwa hubungan Batam dan Singapura bukan hanya hubungan antara dua wilayah yang berdekatan. Keduanya memiliki hubungan yang saling membutuhkan. Batam menjadi pintu masuk penting bagi wisatawan Indonesia yang ingin berkunjung ke Singapura. Banyak orang dari Jakarta, Surabaya, Medan, dan kota lainnya memilih terbang ke Batam kemudian melanjutkan perjalanan dengan feri karena lebih ekonomis.

Dalam perjalanan ini saya berbincang dengan Abdul (83 tahun), seorang pegawai hotel di Singapura yang telah lama bekerja di sektor perhotelan. Dari pengalamannya, ia melihat Batam memiliki posisi penting bagi Singapura. Menurut Abdul, banyak tamu hotel tempatnya bekerja berasal dari Indonesia dan masuk melalui dua jalur utama, yaitu Bandara Changi dan Batam. Banyak wisatawan memilih melalui Batam karena perjalanan lebih murah dan mudah.

Abdul sendiri melihat Batam diminati warga Singapura karena jarak yang dekat dan berbagai fasilitas menarik yang ditawarkan di Batam dengan harga murah. Batam punya banyak lapangan golf berkualitas bagus, tempat hiburan, kuliner yang beragam dan surga belanja murah. Ia sendiri mengaku juga sering ke Batam untuk bermain golf.

Bagi masyarakat Singapura, Batam menjadi tempat yang mudah dijangkau untuk berlibur. Kekuatan dolar Singapura yang jauh lebih tinggi dibandingkan rupiah membuat berbagai kebutuhan di Batam terasa lebih terjangkau bagi mereka.

Dengan membawa seribu dolar Singapura saja misalnya, wisatawan dapat menikmati hotel, kuliner, layanan spa, transportasi, hiburan, hingga aktivitas belanja dengan biaya yang relatif murah dibandingkan di Singapura. Perbedaan daya beli inilah yang membuat Batam menjadi pilihan populer untuk perjalanan singkat. Warga Singapura melepas penat sambil mendapatkan pengalaman berwisata dengan harga yang lebih bersahabat.

Kedekatan Batam dan Singapura tidak hanya terlihat dari jarak dan ekonomi. Ada faktor budaya yang membuat masyarakat Indonesia merasa nyaman ketika berada di Singapura. Bagi orang Indonesia, Singapura tidak terasa sebagai tempat yang benar-benar asing. Salah satu penyebabnya adalah bahasa.

Di banyak tempat, kita masih dapat menemukan orang yang memahami bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Saat berada di restoran, pusat perbelanjaan, atau tempat wisata, komunikasi tidak selalu harus menggunakan bahasa Inggris. Hal ini membuat wisatawan Indonesia lebih mudah beradaptasi.

Hal ini yang saya rasakan langsung. Di Singapura, petugas imigrasinya menggunakan Bahasa Melayu. Hal yang sama juga terjadi saat kami bersantai ngopi di Starbucks, pelayannya juga menggunakan Bahasa Melayu. Kondisi yang sama saat kami menikmati sajian nasi briyani legendaris di Kawasan Kampung Gelam, semua pelayannya yang dari etnik India itu menggunakan Bahasa Melayu.

Bagi warga Batam, Singapura dipandang sebagai simbol kemajuan yang memberikan inspirasi. Tata kota yang tertata rapi, sistem transportasi yang efisien, ruang publik yang terawat, serta beragam pusat hiburan, perbelanjaan, dan rekreasi menjadi daya tarik tersendiri.

Banyak warga Batam datang untuk menikmati suasana kota, mencari pengalaman baru, atau sekadar menghabiskan akhir pekan. Pengalaman tersebut kemudian turut membentuk ekspektasi masyarakat terhadap pembangunan Batam sebagai kota modern yang mampu bersaing di kawasan.

Tidak sekedar menyuguhkan suasana kota modern, negara yang dulunya bernama Tumasik itu juga kaya wisata sejarah. Inilah yang menarik perhatian kami saat melancong sehari tanggal 11 Juli 2026 itu.

Saya dan Prof Agus mengunjungi sejumlah masjid bersejarah, seperti Masjid Temenggung Abu Bakar di Teluk Belanga, Masjid Hajjah Fatimah, Masjid Malabar, dan sholat di Masjid Sultan di kawasan Kampung Gelam. Kami juga mengunjungi sejumlah madrasah tertua di Singapura, yakni Madrasah Alsagoff Al Arabiah (1912) dan Madrasah Aljuneid Al Islamiah (1927).

Sebaliknya, Setelah menghabiskan waktu di Singapura, saya kembali ke Batam Sabtu malam. Sekitar pukul 18.30 waktu Singapura, saya bersama peneliti senior kembali dari HarbourFront Centre menuju Batam Centre. Suasana pelabuhan malam itu jauh lebih ramai dibandingkan pagi hari. Banyak penumpang membawa tas belanja dan koper. Ada keluarga yang baru selesai berwisata, ada pula orang yang melakukan perjalanan singkat selama akhir pekan.

Perjalanan sehari ke Singapura usai sudah. Tetapi pengalaman yang dibawa pulang tidak berhenti di pelabuhan. Kedekatan geografis, hubungan ekonomi, dan kesamaan budaya menjadikan Batam dan Singapura seperti dua kota yang saling melengkapi di dua sisi Selat Singapura. Arus manusia yang setiap hari menyeberang menunjukkan bahwa batas negara bukanlah penghalang bagi interaksi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penempatan SAL di Himbara Tak Ada Masalah, Purbaya Tegaskan Terus Berkoordinasi Erat dengan BI
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Roy Suryo Belum Menyerah, Praperadilan Kasus Ijazah Jokowi Bisa Berlanjut hingga Empat Kali
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bea Cukai Persempit Ruang Gerak Rokok Ilegal Lewat Operasi ASAP 2026
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Capai 95 Persen, Kemnaker Telah Salurkan Salurkan Rp 9,63 Triliun BSU
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Justin Bieber Diam-Diam Promosikan Brand Sendiri di Piala Dunia
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.