SANAA - Kelompok pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran telah mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah ini menandai eskalasi terbesar antara kedua pihak dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah ini terjadi seminggu setelah pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Saudi membom Bandara Internasional Sanaa dalam upaya untuk mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi kembali dari Teheran mendarat.
Dalam sebuah pernyataan pada Senin, (20/7/2026), Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, mengutuk apa yang disebutnya sebagai "pengepungan yang tidak adil dan menindas" terhadap negara tersebut.
"Angkatan Bersenjata Yaman mendeklarasikan embargo maritim terhadap musuh Saudi yang kriminal, berdasarkan prinsip 'mata ganti mata,' yang berlaku segera," kata Saree dalam sebuah video yang diunggah di X, sebagaimana dilansir RT.
Juru bicara tersebut memperingatkan bahwa "tindakan bodoh apa pun" oleh Arab Saudi "akan ditanggapi dengan eskalasi yang komprehensif dan tegas."
Kementerian Luar Negeri Saudi mengutuk "milisi teroris Houthi" dan berjanji untuk "mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai dengan hukum internasional."
Kelompok Houthi, sebuah gerakan Syiah, merebut ibu kota Yaman, Sanaa, selama perang saudara di negara itu pada tahun 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin intervensi militer atas nama pemerintah yang diakui secara internasional. Kampanye pengeboman tersebut, yang dikutuk oleh PBB dan organisasi hak asasi manusia, memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Kelompok Houthi menanggapi kampanye yang dipimpin Saudi dengan meluncurkan rudal dan drone ke target di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas energi.




