JAKARTA, KOMPAS.com – Layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater semakin populer di kalangan anak muda karena menawarkan kemudahan bertransaksi, cicilan ringan, hingga berbagai promo menarik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, psikolog menilai ada faktor psikologis yang membuat banyak anak muda sulit menolak menggunakan fasilitas tersebut.
Psikolog Klinis Virginia Hanny mengatakan, daya tarik PayLater tidak hanya berasal dari kemudahan teknologi, tetapi juga dari cara kerja otak manusia dalam mengambil keputusan.
"Manusia cenderung memilih kesenangan saat ini dan tidak memikirkan konsekuensinya di masa depan. Kecenderungan ini dinamakan present bias," kata Virginia saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/7/2026).
Baca juga: Psikolog: PayLater Terasa Tak Menyakitkan, Padahal Tetap Utang
Ketika seseorang dapat langsung memperoleh barang yang diinginkan melalui PayLater, otak lebih fokus pada rasa puas yang muncul saat itu dibandingkan kewajiban membayar cicilan pada bulan-bulan berikutnya.
Beban pembayaran di masa depan terasa lebih abstrak sehingga sering kali tidak menjadi pertimbangan utama ketika seseorang memutuskan berbelanja.
"Namun beban itu terasa abstrak karena otak secara otomatis memprioritaskan kepuasan instan (instant gratification)," ujarnya.
Selain itu, PayLater juga mengubah cara seseorang merasakan pengeluaran uang.
Virginia mengatakan, pembayaran secara tunai atau langsung memotong saldo rekening umumnya terasa lebih "menyakitkan" karena seseorang menyadari uangnya langsung berkurang.
Sebaliknya, PayLater membuat rasa kehilangan tersebut seolah tertunda karena pembayaran baru dilakukan di kemudian hari dan dicicil selama beberapa bulan.
Baca juga: PayLater Bukan Uang Tambahan, Waspadai Risiko di Baliknya
Padahal, menurut Virginia, sekecil apa pun cicilan yang harus dibayar tetap merupakan utang.
FOMO membuat anak muda semakin tertarikVirginia menilai, media sosial juga menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda semakin tertarik menggunakan PayLater.
Ia mengatakan, paparan terhadap kehidupan teman, keluarga, maupun influencer secara terus-menerus dapat memunculkan Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal.
"Ketika seseorang melihat kehidupan orang lain, baik teman, keluarga, maupun influencer, terutama secara terus-menerus, terdapat kemungkinan perbandingan itu menjadi berlebihan dan tidak sehat," ujar Virginia.
Keinginan untuk memiliki barang atau menikmati pengalaman yang sama dengan orang lain kemudian mendorong sebagian anak muda menggunakan PayLater agar tidak merasa tertinggal.





