Bebi Romeo Masih Syok Usai Putranya Nyaris Tenggelam di Bali, Meisya Siregar: Dia Merasa Gagal Jadi Ayah

grid.id
7 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Musisi Bebi Romeo masih diliputi rasa syok setelah putra bungsunya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, nyaris tenggelam saat berlibur bersama keluarga di Bali. Meski sang putra berhasil diselamatkan, peristiwa tersebut meninggalkan luka batin yang mendalam, terutama bagi Bebi yang terus menyalahkan dirinya sendiri.

Sang istri, Meisya Siregar, mengungkapkan bahwa Bebi hingga kini masih belum bisa berdamai dengan rasa bersalahnya. Menurut Meisya, suaminya merasa lalai karena tidak berada di sisi Bambang ketika ombak menyeret putra mereka.

"Bebi kayak mau menangis gitu, ‘Enggak usah (posting), ntar dulu ya, aku masih belum kuat. Aku masih ngerasa jadi apa ya, bapak yang gagal lah, bodoh’ gitu. Dia nyalahin diri sendiri lah,” ujar Meisya Siregar saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan belum lama ini.

Perasaan bersalah itu membuat Bebi tak ingin berjauhan dari Bambang. Setelah insiden tersebut, pelantun Bunga Terakhir itu bahkan memilih terus berada di dekat sang putra karena masih dihantui ketakutan kehilangan.

Meisya mengatakan, malam setelah kejadian, Bebi berulang kali meminta maaf kepada Bambang atas apa yang terjadi.

"Malam itu setelah kejadian, Bebi papanya nggak mau pisah sama Bambang. Bolak-balik papanya cuma ngomong, ‘Bang, maafin Papa ya, harusnya Papa yang ada di situ, harusnya Papa yang narik Bambang, bukan orang lain’,” tutur Meisya.

Menurut Meisya, kondisi emosional Bebi masih belum sepenuhnya pulih. Bahkan hingga kini, sang musisi belum berani membuka media sosial karena masih berusaha menerima kenyataan dan memaafkan dirinya sendiri.

Sebagai istri, Meisya memilih memberikan ruang agar Bebi dapat melewati proses pemulihan secara perlahan. Ia tak ingin memaksa suaminya terlihat kuat di tengah rasa bersalah yang masih begitu besar.

"Aku memberikan ruang buat Bebi untuk bisa memaafkan dirinya, dan pelan-pelan aku selalu bilang sama dia, ‘Semua ini udah qadarullah, udah jalan dari Allah yang memang harus kita terima’,” pungkas Meisya.

Insiden tersebut terjadi ketika keluarga Bebi Romeo dan Meisya Siregar tengah menikmati liburan di salah satu pantai di kawasan hotel tempat mereka menginap di Bali.

Saat itu, Bambang meminta izin kepada orang tuanya untuk bermain di bibir pantai. Karena merasa sudah sangat mengenal lokasi tersebut dan sering mengunjunginya sejak Bambang masih kecil, Meisya dan Bebi mengizinkan dengan pesan agar tidak bermain terlalu ke tengah.

 

"Bambang izin, ‘Bun, Bambang ke pantai ya.’ ‘Memang, tapi ingat ya Nak, pantai cuma boleh di pinggirnya aja main tanah. Kalaupun mau main ombak, Bambang ingat ya Nak, jangan ada di tengah.’ ‘Iya siap, Bun!’” kenang Meisya.

Namun situasi berubah menjadi kepanikan. Bambang tiba-tiba kembali dalam kondisi lemas, sesak napas, dan menangis setelah sempat terseret ombak serta menelan banyak air laut. Beruntung, seorang pria yang tidak dikenalnya datang memberikan pertolongan sehingga nyawa Bambang berhasil diselamatkan.

"Bambang pas lagi tenggelam dia nggak tahu siapa yang nyelamatin, tapi Bambang ingat orangnya tatoan. Pakai celana, terus dia lemparin ban ke Bambang, warna oranye. Sespesifik itu,” ungkap Meisya.

Meisya mengaku dirinya sempat sangat panik dan membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada putranya.

"Wah, aku udah lemes, itu dengkulku tuh udah kayak, ‘Ya Allah, Ya Allah, masa sih ini liburan harus jadi mimpi buruk.’ Udah pikirannya udah ke mana-mana, udah ngaco,” katanya.

Di balik peristiwa tersebut, Meisya mencoba mengambil hikmah. Ia menilai musibah yang dialami keluarganya menjadi pengingat agar dirinya dan Bebi lebih berhati-hati serta tidak merasa terlalu percaya diri.

Menurutnya, rasa familiar dengan lokasi justru membuat mereka lengah dalam mengawasi sang anak.

"Ini murni karena kelemahan kita sebagai orang tua. Karena kita merasa familiar dengan lokasinya. Tempat itu tuh bukan tempat yang asing lah. Ibaratnya lingkungan yang kita udah kenal gitu, jadi rasanya tuh kayak di rumah sendiri. Nah, itulah kelemahan kita,” jelas Meisya.

Tak hanya itu, Meisya juga melakukan refleksi terhadap kehidupan spiritualnya selama menjalani liburan di Bali. Ia merasa ada sejumlah amalan yang mungkin sempat terabaikan karena terlalu menikmati suasana liburan.

"Aku ngerasa kayak, ‘Oh Allah tuh lagi ngasih teguran. Mungkin di sana aku lalai, banyak lalai. Namanya Bali ya Mbak, banyak mungkin yang biasanya dikerjain jadi nggak dikerjain, banyak syubhat-syubhat yang dikerjain,’ jadi ya udahlah itu teguran pure buat aku sama Bebi,” ujarnya.

Meisya kemudian menegaskan bahwa doa dan amalan orang tua menjadi salah satu bentuk ikhtiar dalam menjaga anak-anak dari berbagai musibah.

 

"Makanya tirakat orang tua itu penting. Gimana amalan-amalan kayak zikir pagi, zikir sore, itu yang aku yakin banget itu adalah salah satu kunci dan jawaban dari perlindungan Allah terhadap anak-anak,” tegasnya.

Menariknya, meski kedua orang tuanya masih mengalami trauma dan syok, Bambang justru tidak menunjukkan ketakutan yang berkepanjangan. Keesokan harinya, ia sudah kembali berani bermain di laut.

Meisya pun meyakini bahwa peristiwa tersebut merupakan teguran yang ditujukan kepada dirinya dan sang suami sebagai orang tua.

"Mungkin ya ini yang mau ditegur Allah itu orang tuanya, bukan anaknya. Bambangnya mungkin nggak kena impact apa-apa, emang targetnya nih orang tua nih, ‘Heh! Jangan sombong, biarin anak lu!’” tutup Meisya. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hotman Paris Tegas Bela Benny Jannah, Ungkap Kronologi Asprinya Ketemu Eks Jampidsus
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Dorong Modernisasi Pertanian, Sulsel Targetkan 91.340 Hektare untuk Swasembada Pangan 2026
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Studi Ungkap Pendekatan Baru Atasi Obesitas pada Pasien Skizofrenia
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebiasaan Pria Tidak Berempati yang Perlu Dihindari
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Perpres Ojol Difinalisasi, KemenUMKM Akan Awasi Kemitraan Driver dan Aplikator
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.