Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Investor Respons Positif Kondisi Fiskal Indonesia

suarasurabaya.net
9 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (21/7/2026) di zona hijau. Rupiah ditutup menguat 60 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.888 per dolar Amerika Serikat (AS), dari penutupan sebelumnya di Rp17.948 per dolar AS.

Penguatan rupiah dipicu meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih berada di bawah batas aman.

Selain itu, investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait peluang kenaikan suku bunga acuan.

Lukman Leong analis Doo Financial Futures mengatakan, sentimen positif berasal dari laporan pemerintah yang menunjukkan defisit APBN hingga Juni 2026 sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sekaligus mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah 3 persen dari PDB.

“Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar 0,76 persen dari PDB hingga Juni serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB,” kata Lukman.

Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir pasar sempat dibayangi kekhawatiran bahwa defisit anggaran berpotensi melampaui batas yang ditetapkan pemerintah.

“Beberapa bulan terakhir, banyak dana asing yang keluar karena kekhawatiran defisit bisa melewati 3 persen, bahkan ada yang memperkirakan mencapai 4 persen,” ujarnya dilansir dari Antara.

Berdasarkan laporan pemerintah, pendapatan negara hingga Juni 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.

Penerimaan tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun yang terdiri atas penerimaan pajak Rp1.035,7 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp152 triliun. Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp271 triliun.

Di sisi belanja, realisasi belanja negara tercatat Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN 2026, meningkat 17,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap PDB. Meski demikian, keseimbangan primer masih membukukan surplus sebesar Rp85,1 triliun.

Selain faktor fiskal, pasar juga mencermati potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin (bps) dalam RDG BI yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026.

Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebanyak tiga kali sejak Mei 2026. Setelah sempat bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025, suku bunga acuan dinaikkan menjadi 5,25 persen pada Mei, kemudian menjadi 5,50 persen pada awal Juni, dan kembali naik menjadi 5,75 persen pada RDG 18 Juni 2026.

Rangkaian kebijakan pengetatan moneter tersebut membantu memperkuat nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan rupiah. Pada perdagangan hari ini, JISDOR berada di level Rp17.909 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.976 per dolar AS. (ant/saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Resmi! Bayern Munchen Perpanjang Kontrak Laimer Hingga 2029
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Puan Maharani Ingatkan Bahaya Hoaks yang Disebut Sengaja Diskreditkan DPR
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sempat Terhenti Sejak Awal Juli, Layanan Penyeberangan Perintis NTT Kembali Beroperasi
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Profil Andy Burnham, PM Baru Inggris
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Imigrasi Ungkap Modus 10 WNA Tersangka Kasus Investasi Bodong di Tangerang
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.