REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi pada saat yang sama dapat memunculkan tekanan baru bagi generasi muda. Kebiasaan membandingkan diri, fear of missing out (FOMO), hingga kelelahan digital dapat membuat seseorang merasa semakin jauh dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.
Mental Health Counselor Sasya Sava mengatakan, generasi Z perlu memiliki ruang untuk beristirahat sejenak dari dunia digital dan membangun kembali koneksi secara langsung. “Media sosial memudahkan kita terhubung, tetapi belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain,” kata Sasya dalam acara Lightplus Lightperience Picnic 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Tujuh Manfaat Nonton Ulang Film Favorit Bagi Kesehatan Mental
Ahli: Peran Orang Tua Penting untuk Menjaga Kesehatan Mental Anak
BKKBN dan Pemkot Yogyakarta Soroti Bahaya Gadget Serta Fatherless Bagi Kesehatan Mental
Menurut Sasya, penggunaan media sosial yang intens dapat memicu social comparison. Seseorang tidak hanya membandingkan dirinya dengan orang yang dikenal, tetapi juga dengan konten kreator maupun gambaran kehidupan ideal yang muncul di media sosial.
Kondisi tersebut dapat memicu FOMO. Ketika terus melihat pencapaian, gaya hidup, atau aktivitas orang lain, seseorang dapat merasa tertinggal dari lingkungan sekitarnya. “FOMO, membandingkan, lalu membuat kita merasa tertinggal. Akhirnya menjadi toksik,” ujarnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sasya mengatakan, media sosial yang ramai tidak selalu membuat seseorang merasa tidak kesepian. Koneksi di dunia maya juga berbeda dengan koneksi langsung yang memungkinkan seseorang hadir secara utuh bersama orang lain.
“Media sosial itu ramai, tetapi bisa membuat kita merasa sepi,” kata dia.
Menurut Sasya, kelelahan akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah digital fatigue, termasuk ketika seseorang merasa sulit berhenti mengonsumsi konten secara terus-menerus.
Kebiasaan berpindah dari satu konten ke konten lain juga dapat membuat seseorang mengalami perubahan emosi yang cepat. Setelah melihat konten yang menyenangkan, seseorang dapat tiba-tiba merasa marah, cemas, atau sedih setelah melihat konten berikutnya.
“Bisa terjadi emotional loop. Otak mendapatkan dopamine spike setiap kali melihat konten dengan emosi yang berbeda-beda,” ujarnya.
Sasya menyarankan masyarakat untuk memperhatikan tanda-tanda ketika tubuh dan emosi mulai membutuhkan jeda dari dunia digital. Beberapa di antaranya adalah meningkatnya kecemasan, mudah merasa stres atau marah, mual, sulit berkonsentrasi, serta perubahan emosi yang terjadi secara cepat.
Durasi penggunaan perangkat juga dapat menjadi salah satu indikator. Karena itu, masyarakat dapat mulai memeriksa screen time dan mengamati apakah penggunaan media sosial sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Kalau tiba-tiba merasa cemas, kemudian senang, lalu tiba-tiba marah atau stres, itu bisa menjadi tanda kita terlalu banyak melakukan scrolling,” kata Sasya.