Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koperasi mengatakan koperasi harus mampu menjadi penghubung rantai nilai ekonomi dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, nelayan, hingga konsumen.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi Destry Anna Sari mengatakan peran koperasi ke depan tidak lagi sebatas sebagai badan usaha atau lembaga simpan pinjam, tetapi sebagai penggerak ekosistem ekonomi yang terintegrasi.
"Koperasi menjadi penghubung antara petani, nelayan, usaha skala mikro kecil menengah, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, pasar, dan konsumen," ujar Destry dalam webinar yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar dari sumber daya alam, sumber daya manusia, serta potensi ekonomi yang tersebar di berbagai daerah. Namun, ia menilai potensi tersebut belum seluruhnya menghasilkan nilai tambah optimal karena masih terdapat persoalan keterhubungan antar rantai ekonomi.
Destry mengatakan pembangunan ekonomi tidak cukup hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga harus memastikan seluruh mata rantai ekonomi saling terkoneksi.
Ia menilai selama ini berbagai program pembangunan masih berjalan secara parsial. Ada pihak yang membangun produksi, gudang, gerai, maupun fasilitas pengolahan, tetapi belum seluruhnya terhubung dalam satu ekosistem ekonomi.
"Masyarakat tidak membutuhkan program yang berdiri sendiri. Masyarakat membutuhkan ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah dari hulu hingga hilir," ujarnya.
Menurut Destry, pendekatan berbasis ekosistem tersebut menjadi salah satu arah pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang diarahkan tidak hanya sebagai lembaga ekonomi desa, tetapi sebagai simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Melalui KDKMP, pemerintah mendorong koperasi desa dan kelurahan untuk berperan dalam memperkuat rantai pasok, termasuk menjadi offtaker atau penampung hasil produksi masyarakat, khususnya komoditas pertanian dan perikanan.
Koperasi juga diharapkan dapat membantu menyediakan akses pembiayaan bagi pelaku usaha desa serta membuka akses pasar yang lebih luas sehingga produk masyarakat tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat masuk ke proses pengolahan dan distribusi.
Dengan peran tersebut, koperasi diharapkan mampu mengurangi persoalan klasik yang dihadapi produsen kecil, seperti keterbatasan modal, kepastian pembeli, akses distribusi, serta rendahnya nilai tambah produk.
Destry menambahkan pemerintah terus mendorong transformasi koperasi agar menjadi modern, profesional, produktif, dan berbasis data melalui penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, tata kelola, akses pembiayaan, serta pengembangan talenta.
Ia menegaskan keberhasilan koperasi ke depan tidak hanya diukur dari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kemampuan koperasi dalam menghubungkan berbagai potensi ekonomi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Keberhasilan KDKMP harus diukur dari manfaat yang diterima anggota
Baca juga: Prabowo: KDMP jadi rantai pasok dari pusat hingga desa
Baca juga: Menkop gaet milenial dan Gen Z kenal koperasi lewat "Gen Coop Run"
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi Destry Anna Sari mengatakan peran koperasi ke depan tidak lagi sebatas sebagai badan usaha atau lembaga simpan pinjam, tetapi sebagai penggerak ekosistem ekonomi yang terintegrasi.
"Koperasi menjadi penghubung antara petani, nelayan, usaha skala mikro kecil menengah, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, pasar, dan konsumen," ujar Destry dalam webinar yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar dari sumber daya alam, sumber daya manusia, serta potensi ekonomi yang tersebar di berbagai daerah. Namun, ia menilai potensi tersebut belum seluruhnya menghasilkan nilai tambah optimal karena masih terdapat persoalan keterhubungan antar rantai ekonomi.
Destry mengatakan pembangunan ekonomi tidak cukup hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga harus memastikan seluruh mata rantai ekonomi saling terkoneksi.
Ia menilai selama ini berbagai program pembangunan masih berjalan secara parsial. Ada pihak yang membangun produksi, gudang, gerai, maupun fasilitas pengolahan, tetapi belum seluruhnya terhubung dalam satu ekosistem ekonomi.
"Masyarakat tidak membutuhkan program yang berdiri sendiri. Masyarakat membutuhkan ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah dari hulu hingga hilir," ujarnya.
Menurut Destry, pendekatan berbasis ekosistem tersebut menjadi salah satu arah pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang diarahkan tidak hanya sebagai lembaga ekonomi desa, tetapi sebagai simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Melalui KDKMP, pemerintah mendorong koperasi desa dan kelurahan untuk berperan dalam memperkuat rantai pasok, termasuk menjadi offtaker atau penampung hasil produksi masyarakat, khususnya komoditas pertanian dan perikanan.
Koperasi juga diharapkan dapat membantu menyediakan akses pembiayaan bagi pelaku usaha desa serta membuka akses pasar yang lebih luas sehingga produk masyarakat tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat masuk ke proses pengolahan dan distribusi.
Dengan peran tersebut, koperasi diharapkan mampu mengurangi persoalan klasik yang dihadapi produsen kecil, seperti keterbatasan modal, kepastian pembeli, akses distribusi, serta rendahnya nilai tambah produk.
Destry menambahkan pemerintah terus mendorong transformasi koperasi agar menjadi modern, profesional, produktif, dan berbasis data melalui penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, tata kelola, akses pembiayaan, serta pengembangan talenta.
Ia menegaskan keberhasilan koperasi ke depan tidak hanya diukur dari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kemampuan koperasi dalam menghubungkan berbagai potensi ekonomi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Keberhasilan KDKMP harus diukur dari manfaat yang diterima anggota
Baca juga: Prabowo: KDMP jadi rantai pasok dari pusat hingga desa
Baca juga: Menkop gaet milenial dan Gen Z kenal koperasi lewat "Gen Coop Run"





