Cegah Kekerasan & Tekan AKI, GKMNU Gelar Halaqah Kesehatan Reproduksi Santri

jpnn.com
6 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - CIREBON - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong warganya kian peduli dengan kesehatan reproduksi.

Melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU), organisasi wadah nahdiyin itu menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7).

BACA JUGA: PP IPPNU Sosialisasi GKMNU, Alissa Wahid: Pelajar Putri NU Harus Lantang

Kegiatan tersebut diikuti para pengasuh pesantren dari Jabar dan Jawa Tengah. Siaran pers Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PBNU mengabarkan kegiatan itu sebagai upaya mencegah berbagai problem terkait fungsi reproduksi, termasuk menanggulangi kekerasan seksual terhadap santri.

Menurut Ketua Bidang Kesejahteraan Masyarakat PBNU Alissa Qatrunnada Wahid, penyelenggaraan halaqah itu juga merupakan respons atas meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pesantren, termasuk kekerasan seksual.

BACA JUGA: Kepala BKKBN: Kehamilan Usia Remaja Faktor Risiko Tinggi Kematian Ibu

"Kegiatan ini juga upaya untuk segera mengantisipasi dan mempersiapkan ekosistem pesantren agar pemahaman terkait kesehatan reproduksinya lebih baik sehingga bisa menanggulangi persoalan kekerasan seksual yang ada di pesantren," kata Alissa di depan peserta halaqah.

Putri Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu berpendapat bahwa pencegahan kekerasan seksual tidak cukup melalui penegakan aturan saja.

Alissa Wahid -panggilan kondangnya- menegaskan pencegahan tindak kekerasan seksual juga harus dibarengi dengan pendidikan yang membangun pemahaman sejak dini mengenai kesehatan reproduksi.

Aktivis berlatar belakang psikolog itu menambahkan selama ini banyak pemahaman yang salah terkait kesehatan reproduksi.

Menurut Alissa, masih banyak kalangan menganggap kesehatan reproduksi hanya menyangkut soal perilaku seksual.

Alissa menegaskan kesehatan reproduksi juga menyangkut angka kematian ibu, bayi, dan anak.

“Kemudian (kesehatan reproduksi) juga berbicara mengenai anemia pada anak-anak muda yang akan memengaruhi proses reproduksinya ketika nanti sudah menikah," tuturnya.

Oleh karena itu Alissa menekankan pendidikan kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, mulai dari pencegahan anemia, penurunan angka kematian ibu dan bayi, hingga mempersiapkan remaja menjadi calon orang tua yang sehat.

Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyatakan pendidikan tentang kesehatan reproduksi tersebut perlu menjadi ikhtiar bersama melalui upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, sehat, dan melindungi para santri dari berbagai bentuk kekerasan.

"Kesehatan reproduksi itu tidak seperti stigma yang selama ini ada," ujar Alissa.

Adapun Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi Abdul Barri menilai pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri, terutama yang sudah remaja dan sedang memasuki masa pubertas, merupakan kebutuhan yang harus terus diberikan.

“Santri usia SMP hingga SMA perlu terus diberikan pemahaman dan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan reproduksi," ujar Abdul Barri.

Oleh karena itu Abdul Barri menekankan pentingnya peran kiai, nyai, dan para pembimbing pesantren dalam mendampingi para santri.

“Pendidikan kesehatan reproduksi bukan hanya penting untuk kehidupan mereka saat ini, tetapi juga menjadi bekal ketika kelak berumah tangga dan memiliki keturunan," katanya.

Halaqah itu juga menghadirkan Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Evi Nilawaty.

Dalam paparannya, Evi mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia sekaligus mencegah tengkes (stunting) pada generasi yang akan datang.

Menurut Evi, AKI di Indonesia terus mengalami penurunan. Walakin, angkanya masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.

“Angka kematian ibu kita masih lebih tinggi dari negara tetangga kita yang notabene ASEAN, yang sudah berkembang bahkan maju," ujarnya.

Data Kemenkes menunjukkan AKI Indonesia turun dari 189 per 100.000 kelahiran hidup pada 2020 menjadi target 183 pada 2024.

Namun, AKI di negara lain di ASEAN lebih rendah, seperti Malaysia (29), Brunei Darussalam (31), Thailand (37), Vietnam (43), Filipina (121), Timor Leste (142), Kamboja (160), dan Laos (185).

Evi mengungkapkan AKI di Indonesia ditargetkan bisa menjadi 70 pada 2030 sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu penulis Buku Saku Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil dan Remaja Putri itu pun menegaskan kesehatan reproduksi remaja menjadi kunci untuk menurunkan AKI.

"Pendidikan kesehatan reproduksi juga perlu diberikan kepada remaja putra agar memiliki pemahaman dan tanggung jawab yang sama," katanya. (jpnn.com)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RUU PFII Disahkan, Ini 5 Fakta Penting Pusat Finansial Internasional RI
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Sebut Regulasi-Peraturan Indonesia Terlalu Banyak, Presiden Prabowo: Kita Harus Sederhanakan
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
KPK Periksa 8 Orang Pasca OTT di Lombok Barat, Bupati hingga Kadis PUPR Masih Diperiksa
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Golden Eagle TNI Bermanuver Bareng Jet Siluman Jepang di Australia
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Apakah 23 Juli 2026 Hari Anak Nasional Libur? Ini Jadwal Menurut SKB 3 Menteri
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.