Anggaran MBG Tahun Ini Dipangkas Rp39 T Jadi Rp229 T, Begini Penjelasan BGN

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026, difokuskan ke penajaman penerima manfaat untuk mengutamakan kualitas, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Untuk sementara di tahun 2026, Sekretaris Utama BGN Lili Khamiliyah mengungkap pihaknya sudah mengefisiensi anggaran dari Rp268 triliun menjadi Rp229 triliun.

Baca Juga :
Perbaikan Kinerja DJBC Mulai Diakui Prabowo, Purbaya Batalkan Pembubaran Bea Cukai
KPK Ungkap Duit Rp12,4 Miliar Diduga Mengalir ke Bupati Lombok Barat, Begini Modusnya

"Tetapi itu kan sebelum dilakukan penyisiran ulang dari refocusing anggaran dan perubahan tata kelola. Jadi, ini yang sedang dilakukan oleh kami untuk bisa menyelesaikan apa saja yang nantinya akan terpengaruh kepada agar APBN ini kita bisa menjalankan secara efektif, efisien, transparan, dan ini kan statusnya sementara ya, nanti bisa efisien lagi," ujar dia, dikutip Rabu, 22 Juli 2026.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menambahkan penajaman penerima manfaat itu sejauh ini masih berada di angka 62,7 juta, dari sebelumnya target Presiden 82,9 juta penerima MBG.

Tapi, dirinya menegaskan angka tersebut belum final dan masih bakal terus disisir ulang hingga menunggu kebijakan Presiden Prabowo.

"Kami diberi waktu lagi oleh Bapak Presiden untuk mempertajam tata kelolanya, diberi waktu sebulan. Jadi, nanti dengan hasil penyisiran lagi dari 62,7 juta itu saya yakin sebenarnya itu nanti akan otomatis mengikuti, bahwa angkanya sekarang sudah ada gambaran. Kita akan turun dan finalnya nanti menunggu keputusan Presiden," ujar dia.

Ia menegaskan sinkronisasi anggaran masih berlangsung bersama Kementerian Keuangan dan Bappenas. Angka final anggaran nantinya akan mengikuti nota keuangan Presiden.

"Fokus utama saat ini adalah memperbaiki tata kelola sesuai arahan Presiden. Kualitas layanan lebih diprioritaskan dibandingkan mengejar jumlah penerima, dan tidak ada target angka penerima tertentu yang harus dikejar dalam waktu dekat," ujarnya.

Untuk perbaikan data penerima manfaat di sekolah, data akan disandingkan dengan data pokok pendidikan (dapodik) sehingga tidak terjadi duplikasi dan jumlah penerima benar-benar sesuai kondisi riil.

"Kami menemukan di suatu daerah bahwa satu sekolah dapat dilayani dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbeda, sebagian dilayani SPPG A, sebagian lagi oleh SPPG B. Ke depan, data ini akan disandingkan agar tidak terulang kejadian serupa," ucap Agustina. (Ant)

Baca Juga :
Polisi Tunda Pemeriksaan Pelajar Perakit Bom di MAN 3 Padang, Ternyata Masih Trauma
Ini Daftar Pejabat Baru BGN, Ada Eks Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana
Prabowo Minta Banyak Masukan Buat Putuskan Jampidsus Baru Pengganti Febrie Adriansyah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
6 Sepeda Motor Dilaporkan Hilang ke Radio Suara Surabaya Hari Ini
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bupati Lombok Barat Diduga Terima Upeti Uang, Alpard, Sepatu Hermes, hingga Sapi! KPK Tetapkan Tiga Tersangka
• 10 jam laluharianfajar
thumb
KPK Tegaskan Parsel Lebaran untuk ASN Termasuk Gratifikasi
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
PGN Pastikan Gas Bumi Aman Dipakai Warga, soal Ledakan Tunggu Hasil Investigasi
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.