IHSG "Merdeka" Tembus 8.000 Saat Agustusan? Bisa, Tapi Ada Syaratnya

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang melaju kencang akibat sentimen positif yang sudah mulai membanjiri pasar. Investor dan publik kini menunggu apakah IHSG mampu kembali ke level 8.000 pada Agustus tahun ini mereplikasi hal yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya.

Setahun lalu, menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan sempat menyentuh 8.017,07 ketika Presiden Prabowo Subianto ke-8 Indonesia menyampaikan pidato kenegaraannya pada 15 Agustus 2025. Saat itu, IHSG melesat setelah menjalani periode positif seperti halnya yang terjadi pada sekarang ini.

Berdasarkan data penutupan hari ini, IHSG mengakhiri perdagangan Selasa (21/7/2026) di 6.340,02 IHSG hari ini menguat 108,24 poin atau 1,74%.

Agar menyentuh 8.000 sebelum HUT RI tahun ini, indeks masih harus melesat 26,18% atau menambah sekitar 1.659,98 poin.

Selain itu, 17 Agustus 2026 jatuh pada Senin dan merupakan hari libur bursa. Deadline sebenarnya adalah Jumat, 14 Agustus, sesuai tanggal perdagangan bursa. Dari 22 Juli hingga tanggal tersebut hanya tersedia 18 sesi perdagangan.

IHSG memang menyentuh 8.017 pada 15 Agustus 2025, bertepatan dengan pidato kenegaraan Presiden Prabowo. Namun, kenaikannya tidak terjadi dalam semalam.

Posisi yang mendekati IHSG sekarang terjadi pada 16 April 2025, ketika indeks berada di 6.400. Dari sana, IHSG membutuhkan 121 hari kalender atau 78 sesi untuk naik 25,27% dan menyentuh 8.000. Memasuki 21 Juli 2025, indeks sudah berada di 7.398 sehingga hanya membutuhkan tambahan 8,37%.

Tahun ini kondisinya lebih berat. Dari 6.340 pada 21 Juli 2026, IHSG harus naik 26,18% hanya dalam 18 sesi. Masih mungkin, tetapi harus bergerak sekitar empat kali lebih cepat dibandingkan reli menuju 8.000 tahun lalu.

naiknya berapa

Matematika 8.000: Harus Naik 1,30% Setiap Hari

Dengan titik awal 6.340,02, IHSG perlu menghasilkan return geometrik sekitar 1,30% setiap hari selama 18 sesi tanpa koreksi berarti.

IHSG memang sedang mengalami rebound. Dalam delapan penutupan terakhir, indeks telah menguat sekitar 7,02%. Dari titik terendah 8 Juni di 5.342,14, pemulihannya mencapai 18,68%.

Baca: IHSG Pesta 9 Hari Tanpa Henti, Semua Mata Kini Tertuju ke BI

Namun, IHSG masih turun sekitar 26,68% sejak akhir 2025. Artinya, kenaikan terakhir lebih tepat dibaca sebagai pemulihan setelah kejatuhan ekstrem, belum sebagai konfirmasi bahwa tren naik jangka panjang telah kembali.

Apa Kata Model Kuantitatif?

Riset ini menggunakan 6.437 observasi harian IHSG sejak Januari 2000 sampai 21 Juli 2026. Model tidak dimaksudkan meramal satu angka penutupan, melainkan menguji seberapa ekstrem kenaikan 26,18% dalam 18 sesi dibandingkan sejarah.

Dari 4.470 titik awal perdagangan sejak 2008, hanya tiga observasi yang kemudian mencatat kenaikan intraday minimal 26,18% dalam 18 sesi. Titik-titik tersebut muncul pada 28 dan 29 Oktober 2008 serta 24 Maret 2020.

Baca: RI Terbelah! BI Rate Perlu Naik Lagi atau Saatnya Berhenti?

Ketiganya terjadi setelah kepanikan luar biasa akibat krisis finansial global dan pandemi. Historical hit rate-nya hanya sekitar 0,067%. Karena jendela pengamatan saling tumpang-tindih, angka tersebut bukan probabilitas literal, tetapi tetap menggambarkan betapa ekstremnya target sekarang.

Simulasi moving-block bootstrap kemudian dilakukan sebanyak 300.000 kali dengan mengambil blok return lima hari. Metode ini digunakan agar karakter momentum dan volatilitas jangka pendek tidak hilang sepenuhnya.

Model parametrik memberikan rentang lebih lebar. Dengan asumsi return tahunan 5% dan volatilitas 25%-40%, probabilitas menyentuh 8.000 berada di kisaran 0,04%-2,08%.

Setelah memberikan tambahan untuk kemungkinan gap harga, pidato fiskal, perubahan geopolitik, pergerakan saham berkapitalisasi besar dan keterbatasan model, estimasi final yang cukup longgar adalah peluang menyentuh 8.000 sebesar 1%-2%. Peluang ditutup di atas level tersebut kurang dari 1%.

Fundamental Bertahan, tetapi Ruang Re-Rating Terbatas

Perekonomian Indonesia belum berada dalam kondisi krisis. PDB kuartal I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Namun, konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81% menjadi salah satu pendorong utamanya, sedangkan sektor pertambangan terkontraksi 8,2% secara kuartalan.

Perbankan juga masih memberikan bantalan. Kredit April tumbuh 9,98% yoy, gross NPL berada di 2,17%, net NPL 0,84% dan CAR 23,97%. Angka tersebut menunjukkan bank-bank besar belum menghadapi kerusakan fundamental yang cukup untuk menggagalkan rebound IHSG.

Baca: IHSG Gaspol, 9 Hari Perdagangan Beruntun Parkir di Zona Hijau

Namun, tekanan inflasi, mata uang dan energi membatasi ekspansi valuasi. Inflasi Juni mencapai 3,34%, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%. BI Rate 5,75% dan yield SUN 10 tahun sekitar 7,2%-7,3% membuat obligasi menjadi pesaing langsung bagi saham.

Neraca perdagangan Mei mencatat defisit sekitar US$1,61 miliar setelah ekspor mencapai US$23,20 miliar dan impor US$24,81 miliar. Cadangan devisa sebesar US$145,6 miliar masih memadai, tetapi telah turun dari US$156,5 miliar pada akhir 2025. Di sisi domestik, indeks keyakinan konsumen tetap optimistis di 117,8, meskipun melemah dari 120,9 pada Mei.

Rating dan MSCI Menahan Risk Appetite

Status investment grade Indonesia masih bertahan. S&P mempertahankan rating BBB dengan outlook stabil pada 13 Juli dan menilai pelemahan fiskal serta eksternal kemungkinan bersifat sementara.

Namun, Moody's masih menempatkan Baa2 dengan outlook negatif, sedangkan Fitch mempertahankan BBB dengan outlook negatif karena kekhawatiran terhadap kepastian dan konsistensi kebijakan.

Tekanan lain datang dari MSCI. Indonesia tetap berstatus Emerging Market, tetapi MSCI masih mengevaluasi transparansi kepemilikan saham, free float dan dugaan coordinated trading.

Baca: Mari Tepuk Tangan! Harga Emas Terbang Meski Dikepung 3 "Musuh" Abadi

Efektivitas reformasi OJK, BEI dan KSEI akan kembali dinilai pada November 2026. Jika kemajuan dinilai tidak memadai, konsultasi mengenai perubahan status menjadi Frontier Market masih mungkin dibuka.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung menunggu bukti, bukan sekadar janji reformasi. Tanpa arus asing yang besar, reli 26% harus hampir sepenuhnya ditopang likuiditas domestik.

Skenario Menuju HUT RI

Peluang 8.000 baru meningkat signifikan jika IHSG menembus 6.845, Rupiah menguat ke bawah Rp17.500/US$, yield SBN turun di bawah 7%, Brent kembali ke bawah US$80-85 dan investor asing mencatat pembelian bersih secara berkelanjutan.

Tanpa kombinasi tersebut, target bullish yang lebih masuk akal berada di 6.790-7.238 karena merupakan angka valuasi yang dinilai fair.

Bisa, tetapi Bukan Base Case

Rebound IHSG saat ini valid. Valuasi pasar telah turun, fundamental perbankan belum rusak dan ekonomi domestik masih bertumbuh. Karena itu, pandangan bahwa IHSG telah melewati titik terburuk cukup masuk akal.

Namun, rebound valid tidak identik dengan lonjakan 26,5% dalam 18 hari.

Skenario dasar riset ini menempatkan IHSG Agustus di kisaran 6.100-6.900, dengan bullish extension menuju 7.000-7.238. Untuk akhir 2026, kisaran fundamental berada di sekitar 7.300-7.700. Level 8.000 lebih realistis sebagai skenario bullish kuartal IV apabila rupiah stabil, harga minyak turun, laba emiten membaik dan kepercayaan investor asing pulih.

Dengan kata lain, angka delapan dapat menjual cerita. Namun, untuk membawa kembali IHSG ke 8.000, pasar membutuhkan lebih dari sekadar pidato dan tanggal cantik. Pasar membutuhkan likuiditas, kredibilitas dan kepercayaan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menilik Kans Saham Masuk Global Indeks usai MSCI Ubah Aturan, Siapa Diuntungkan?
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pria di Tangerang Tusuk Teman Pakai Pisau, Motor-HP Korban Dibawa Kabur
• 13 jam laludetik.com
thumb
Hikmah di balik ekspor beras
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Antam (ANTM) Gandeng Bank Muamalat Distribusikan Logam Mulia
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Profil Lalu Ahmad Zaini, Bupati Lombok Barat yang Kena OTT KPK, Uang Senilai Ratusan Juta Berhasil Diamankan
• 20 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.