Osan, desa kecil di Kecamatan Bulagi Selatan, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, merekam sejarah lewat tugu yang menjadi penanda penting bagi masyarakat adat di Pulau Peleng. Tugu Sea-Sea atau Sesea namanya. Monumen sederhana itu bukan sekadar penanda wilayah, melainkan simbol pengakuan berbagai komunitas adat terhadap Desa Osan sebagai kampung asal leluhur mereka.
Bagi masyarakat adat Lipu Tanga Sesea, Osan merupakan titik awal perjalanan panjang manusia dan peradaban di Pulau Peleng. Dari desa inilah, menurut penuturan yang diwarisi turun-temurun, nenek moyang Suku Sesea bermukim sebelum kemudian menyebar ke berbagai penjuru pulau dan membentuk komunitas-komunitas baru.
Tugu Sea-Sea atau Sesea menjulang di perbukitan Desa Osan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Warga Desa Osan berkumpul di Tugu Sea-Sea.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Anak-anak berkeliling Desa Osan sambil bermain.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
”Desa Osan menjadi tempat dimulainya sejarah manusia pertama dan awal peradaban di Pulau Peleng. Pulau ini sejak dahulu didiami Suku Sesea. Komunitas yang semula hanya di Desa Osan lalu bermigrasi ke seantero Pulau Peleng dan membentuk komunitas-komunitas kecil,” tutur Ketua Adat Lipu Tanga Sesea Toto’u Monggiloikon (Kompas.id, 20/7/2026).
Jejak hubungan itu masih terasa hingga kini. Komunitas adat Kayumbol di Bulagi, misalnya, masih meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Osan. Keyakinan serupa juga hidup di berbagai komunitas adat lain yang tersebar di Banggai Kepulauan. Meski kini tinggal berjauhan, mereka tetap memandang Osan sebagai akar yang menyatukan.
Dalam bahasa setempat, ”osan” berasal dari kata ”palosan” yang berarti tanda atau penanda. Masyarakat meyakini bahwa di wilayah Desa Osan penanda pertama sebagai tempat bermukim diletakkan. Dari titik itu, komunitas adat Lipu Tanga Sesea kemudian menyebar ke sembilan desa, yakni Palabatu, Tatarandang, Labotakandi, Lemelu, Osan, Momotan, Pipilogot Papaisu, Mangais, dan Alul.
Tidak hanya dipercaya sebagai lokasi awal permukiman, Osan juga dianggap sebagai pusat lahirnya berbagai pengetahuan yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Leluhur masyarakat Sesea diyakini telah mengenal pembuatan gerabah, teknik menganyam, hingga pengolahan logam untuk menghasilkan alat rumah tangga dan pertanian.
Proses pembuatan parang oleh warga.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Warga membuat keranjang dari anyaman rotan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Warga memberikan makan sapi ternaknya.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Cerita lain menyebut asal-usul nama itu berkaitan dengan kata ”seal-seal” yang menggambarkan sesuatu yang bergerak cepat atau berkelebat. Dalam kisah-kisah lama, istilah tersebut merujuk pada kemampuan para leluhur yang dipercaya dapat berpindah tempat dengan sangat cepat.
Bagi warga Osan, kisah-kisah itu bukan sekadar dongeng masa lalu. Mereka terus memaknainya dalam keseharian, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi, upacara adat, hingga berbagai kesenian yang masih dipertahankan.
Nilai-nilai tradisi itu terasa kental pada Sabtu (11/7/2026) pagi, ketika rombongan tamu memasuki desa. Suasana tenang berubah riuh oleh dentang Tatabua yang menggema dari kejauhan. Dengan penuh antusias, warga adat Lipu Tanga Sesea menyambut kedatangan tamu dengan cara yang telah mereka lakukan sejak lama.
Di jalan utama menuju desa, beberapa perempuan membawakan tari Salendeng seirama dengan tetabuhan tradisional. Setelah itu, alunan musik Talubatang yang cepat tiba-tiba mengentak mengiringi pertunjukan Balatindak, di mana dua penari saling berhadapan sambil membawa kayu atau bambu sebagai simbol senjata.
Warga menampilkan tarian perang Balatindak.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Tatabuan mengiringi tari Salendeng dan Balatindak.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Tari Salendeng untuk menyambut tamu di Desa Osan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Mereka bergerak lincah, menyerang dan menghindar, menampilkan adegan serupa pertempuran. Sorak-sorai warga sesekali pecah ketika salah satu gerakan tampak berhasil mengenai lawan. Tradisi yang dahulu digunakan untuk menghadapi musuh itu kini menjelma menjadi bentuk penghormatan kepada tamu yang datang berkunjung.
Penyambutan kemudian ditutup dengan Baode. Tanpa alat musik pengiring, syair dan pantun dilantunkan dalam nada khas yang bergema pelan di tengah desa. Suaranya mengalun khidmat, menghadirkan suasana yang seolah menghubungkan masa kini dengan kisah-kisah leluhur yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Bagi banyak warga di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, laut dan daratan bukan sekadar bentang alam. Keduanya adalah sumber penghidupan yang kini sama-sama menghadapi ancaman.
Di laut, nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang terus menurun. Gerson Maliko (57), warga Desa Bulagi II, Kecamatan Bulagi, merasakan perubahan itu secara langsung. Jika sekitar 10 tahun lalu ia bisa membawa pulang satu ember penuh ikan, kini semalaman melaut sering kali hanya menghasilkan beberapa ekor ikan.
Gerson Maliko merawat tanaman ubi Banggai.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Ubi Banggai yang menjadi makanan pokok warga.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Gerson Maliko memanjat pohon untuk mengambil kelapa.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Sebagai anggota komunitas adat Kayumbol, Gerson menilai maraknya penangkapan ikan menggunakan bom menjadi salah satu penyebab kerusakan sumber daya laut. Menurutnya, praktik itu umumnya dilakukan oleh pihak luar, sementara warga setempat hanya menangkap ikan untuk kebutuhan sehari-hari dan dijual dalam skala kecil.
Kondisi serupa dialami Musakkir Mangalia (41), nelayan dari Desa Lumbi-Lumbia, Kecamatan Buko Selatan. Ia mengatakan, nelayan kini harus melaut lebih jauh dibandingkan sebelumnya untuk mendapatkan hasil yang sama. Akibatnya, biaya operasional meningkat dan risiko melaut dengan perahu kecil semakin besar.
”Dulu memancing di dua mil laut sudah bisa bawa pulang sampai tiga ember ikan dan dapat kakap sampai 20 ekor. Sekarang, saya melaut sampai 10 mil jauhnya, kebanyakan dapat ikan kecil dan belum tentu bisa dapat kakap,” katanya (Kompas.id, 20/7/2026).
Berkurangnya hasil tangkapan membuat sebagian warga mencari alternatif. Lisa Ningsih Maluko (44) mulai membudidayakan teripang dan ikan bobara di pesisir dekat rumahnya. Namun, hasil budidaya baru bisa dinikmati setelah beberapa bulan sehingga kebutuhan harian keluarga masih banyak ditopang hasil kebun.
Lisa Ningsih Maluko membudidayakan ikan bobara dan teripang.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Permukiman nelayan di Desa Bulagi II, Kecamatan Bulagi.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Tempat budidaya teripang di pesisir Desa Bulagi II.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Sementara itu, di Desa Osan, masyarakat adat Lipu Tanga Sesea menolak rencana penambangan batu gamping yang izinnya mulai bermunculan di sejumlah wilayah Banggai Kepulauan. Warga khawatir aktivitas tambang akan mengganggu kebun, peternakan, serta sumber air yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Di tengah ancaman terhadap laut dan daratan, masyarakat adat dan warga lokal di Banggai Kepulauan terus berupaya mempertahankan ruang hidup yang selama ini menjadi tumpuan. Bagi mereka, menjaga alam bukan sekadar pilihan, melainkan cara untuk memastikan kehidupan terus berlangsung hingga ke generasi berikutnya.





