Economics of the FIFA World Cup

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: FIFA bukan hanya ajang olahraga terbesar di dunia, tetapi juga sebuah industri bernilai miliaran dolar. Turnamen ini menjadi mesin ekonomi yang menggerakkan bisnis media, sponsorship, pariwisata hingga pembangunan infrastruktur. Di balik pertandingan, selama satu bulan terdapat perputaran uang yang sangat besar, baik bagi FIFA sebagai penyelenggara ataupun negara yang menjadi tuan rumah. Namun, besaran potensi pendapatan juga diiringi dengan biaya penyelenggaraan yang tidak sedikit. 

Lantas, seberapa besar keuntungan yang diperoleh FIFA? Apakah menjadi tuan rumah selalu menguntungkan? Dan bagaimana tren penyelenggaraan piala dunia ke depannya? 
Model Bisnis FIFA, komposisi pendapatan FIFA
FIFA memproyeksikan pendapatan ini sebesar USD10,9 hingga USD11 miliar dari siklus piala dunia. Sumber pemasukan terbesar memang masih berasal dari hak siar televisi yang mencapai sekitar USD4,2 miliar. Selain itu, FIFA juga mengantongi sekitar USD2,8 miliar  dari sponsorship dan juga hak komersial. Yang mana pendapatan ini berasal dari kerjasama dengan sponsor global dan juga berbagai mitra resmi turnamen.

Sementara itu, terkait dengan penjualan tiket dan juga paket hospitality ini menyumbang sekitar USD3 miliar. Jika kita melihat data ini, artinya model bisnis FIFA sangat bergantung pada nilai komersial turnamen. Baik dari sisi media ataupun pengalaman langsung dari para penonton.

Baca Juga :

FIFA Jual Cincin Juara Piala Dunia 2026, Harganya Tembus Rp2,7 Miliar
Estimasi biaya dan pengeluaran tuan rumah
Menjadi tuan rumah piala dunia membutuhkan investasi yang sangat besar. Afrika Selatan menghabiskan sekitar USD3,5 hingga USD4 miliar untuk membangun dan merenovasi stadion pada 2010. Kemudian yang kedua, Brasil dan juga Rusia yang mengeluarkan anggaran lebih dari USD11 miliar, terutama untuk pembangunan stadion dan juga modernisasi infrastruktur. Bahkan Brasil, besarnya anggaran sempat memicu protes publik karena dianggap mengorbankan kebutuhan masyarakat. 

Rekor biaya penyelenggaraan dipegang Qatar pada 2022 dengan nilai yang mencapai sekitar USD220 miliar. Investasi tersebut tidak hanya untuk stadion tetapi juga pembangunan kota baru, ada jaringan metro, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya. 
Realita ekomomi dan efek 'white elephant'
Meski menjanjikan dampak ekonomi, sebetulnya tidak semua investasi piala dunia ini memberikan hasil jangka panjang. Salah satu resikonya adalah munculnya fenomena white elephant, yaitu stadion yang megah tapi minim pemanfaatan setelah turnamen berakhir.

Yang pertama contohnya, ada Stadion Mane Garincha di Brasil,  yang menelan biaya sekitar USD550 juta. Setelah piala dunia usai, stadion tersebut justru lebih sering digunakan untuk kegiatan non-olahraga dan dinilai tidak mampu untuk menghasilkan pendapatan yang sebanding. 

Di sisi lain, penyelenggaran piala dunia memang mampu mendatangkan sekitar 200 ribu hingga 1,5 juta wisatawan asing. Namun, kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB umumnya hanya berada di kisaran 0,5 hingga 1%. 

Baca Juga :

FIFA Kantongi Rp268,5 Miliar Selama Ajang Piala Dunia 2026
Alokasi hadiah dan bantuan finansial tim
Alokasi hadiah dan bantuan finansial dari FIFA memang mengalokasikan hadiah yang terus meningkat. Total dari prize pool ini mencapai USD871 juta atau ada kenaikan hingga 65% dibandingkan edisi sebelumnya.

Sebagian besar dana dialokasikan sebagai performance prize pool itu sebesar USD655 juta. Yang mana juara akan menerima hadiah sebesar USD50 juta. Sementara untuk runner-up memperoleh USD33 juta.

Selain hadiah berdasarkan prestasi, seluruh tim peserta juga akan mendapatkan dana garansi partisipasi. Besarannya mencapai USD12,5 juta. Dana ini terdiri dari biaya lolos kualifikasi sebesar USD10 juta dan juga berbagai bantuan persiapan sebesar USD2,5 juta.
Tren model penyelenggaraan masa depan
Ke depannya, FIFA mulai mengubah model penyelenggaraan menjadi joint hosting atau tuan rumah bersama. Format ini yang diterapkan pada Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan juga Meksiko. Di saat yang sama jumlah peserta juga diperluas menjadi 48 tim dengan total 104 pertandingan.

Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan dan juga sekaligus memperluas partisipasi negara peserta. Dan model baru ini juga dinilai lebih efisien karena memanfaatkan stadion dan juga berbagai infrastruktur yang sudah tersedia. Dengan demikian, beban investasi bagi masing-masing negara tuan rumah dapat ditekan sekaligus mengurangi resiko munculnya proyek-proyek white elephant lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ironi Sekolah Roboh 2 Tahun Tak Diperbaiki, Padahal Ada di Ibu Kota
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Lelang 700 MHz Rampung, Komdigi Targetkan Lelang Frekuensi 900 MHz Digelar Akhir 2026
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Suka Karakter Malaikat Maut di Goblin? Ini 4 Rekomendasi Drama Korea yang Dibintangi Lee Dong Wook
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Tantri Kotak Dipeluk Penonton Pria Saat Manggung, Arda Hatna Ingatkan Penonton Hormati Batas
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Daftar LPDP dan Beasiswa Garuda Makin Sat Set, Nggak Perlu Input Data Berkali-kali!
• 23 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.