Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026).
Pelaku pasar memilih menahan transaksi sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.
Pada perdagangan pagi, rupiah turun 42 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.930 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.888 per dolar AS.
Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see investor menjelang pengumuman hasil RDG BI.
“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.850–17.975 per dolar AS seiring pelaku pasar menantikan hasil keputusan kebijakan moneter tersebut,” ujar Josua dilansir dari Antara.
Josua memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada rapat kebijakan yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026.
“Kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” katanya.
Sepanjang 2026, Bank Indonesia telah beberapa kali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Kenaikan pertama terjadi pada Mei 2026 sebesar 50 basis poin setelah BI-Rate bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.
Meski demikian, rupiah masih sempat melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026.
Bank Indonesia kemudian kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026. Setelah kebijakan tersebut, nilai tukar rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Pengetatan kebijakan moneter berlanjut pada RDG Bulanan 18 Juni 2026 ketika BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Selain menanti keputusan Bank Indonesia, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik global.
Menurut Josua, sentimen pasar sempat membaik setelah sejumlah negara mediator mengusulkan gencatan senjata dan Amerika Serikat menyatakan kesediaannya mempertimbangkan usulan tersebut sehingga memunculkan harapan meredanya konflik.
Namun, optimisme itu tidak berlangsung lama setelah ketegangan kembali meningkat akibat ancaman kelompok Houthi di Yaman untuk memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
“Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent naik 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel,” ujar Josua. (ant/saf/ipg)




