Jakarta: Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyampaikan salah satu arah restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk adalah memperkuat fokus bisnis di sektor jalan tol.
"Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar," ujar Dony dalam keterangan resmi, dikutip dari Antara, Rabu, 22 Juli 2026.
Menurut Dony, penguatan fokus bisnis tidak semata ditentukan oleh besarnya aset yang dimiliki perusahaan, tetapi juga harus didukung perhitungan bisnis yang matang, struktur keuangan yang sehat, serta proyeksi usaha yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.
Lebih lanjut Dony menjelaskan bisnis pengelolaan jalan tol memiliki karakteristik pendapatan jangka panjang sehingga dinilai dapat menjadi fondasi yang kuat bagi keberlanjutan usaha Waskita.
Meski demikian, sebelum memasuki tahap pengembangan, kondisi keuangan perusahaan harus dipastikan berada dalam keadaan sehat agar mampu memenuhi kewajibannya secara mandiri.
Menurut dia, kondisi keuangan yang kuat juga akan meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan sekaligus membuka peluang perusahaan memperoleh pendanaan, termasuk melalui pasar modal.
Baca Juga :
Waskita Karya Cetak Laba Kotor Rp1,58 Triliun di 2025, Naik 12%(Gedung Waskita Karya. Foto: dok Waskita Karya)
Restrukturisasi tak sekadar tunda kewajiban
Dony menegaskan restrukturisasi Waskita tidak bertujuan sekadar memperpanjang penyelesaian kewajiban atau menunda persoalan keuangan perusahaan. Sebaliknya, proses tersebut diarahkan untuk membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Ia menilai penyehatan perusahaan harus disusun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menghasilkan solusi permanen, memperkuat kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.
Dalam pertemuan dengan jajaran direksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Dony mengatakan pembahasan dilakukan secara menyeluruh terkait arah restrukturisasi perusahaan. Pembahasan mencakup valuasi aset, struktur dan kemampuan pembayaran utang, proyeksi arus kas, hingga penentuan model bisnis yang dinilai paling tepat untuk mendukung keberlanjutan usaha.
BP BUMN bersama Danantara, lanjut Dony, akan terus mengawal proses restrukturisasi agar tidak berhenti pada penyelesaian persoalan jangka pendek, melainkan menghasilkan transformasi perusahaan secara menyeluruh.
Melalui model bisnis yang lebih fokus, struktur keuangan yang lebih kuat, serta tata kelola yang semakin baik, Waskita diharapkan dapat tumbuh menjadi perusahaan yang sehat, berdaya saing, dan tidak kembali menghadapi persoalan serupa di masa mendatang.




