Pertamina Drilling Bidik Pertumbuhan Pendapatan 11,33 Persen hingga 2034

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) membidik pertumbuhan pendapatan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 11,33 persen sepanjang periode 2026-2034.

Vice President Corporate Secretary & Legal Counsel Pertamina Drilling, Himawan Djatmiko, mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya memperkuat bisnis jasa konstruksi sumur secara end-to-end well construction business.

“Pendapatan 2026 sampai 2034, kita proyeksikan meningkat sebesar 11,33 persen, dan juga di sini [Pertamina Drilling] sebagai enabler strategist,” ucap Himawan dalam media briefing di Jakarta, Rabu (22/7).

Selain itu, Pertamina Drilling bakal mengambil peran sebagai strategic enabler dalam pengembangan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) lewat layanan terintegrasi yang mencakup rekayasa (engineering), pengawasan (supervisory), dan jasa pendukung.

Perseroan juga memperluas bisnis ke sektor panas bumi melalui Integrated Project Management (IPM), dan menargetkan keterlibatan dalam proyek deepwater sebagai penyedia supporting services mulai 2029.

Di sisi lain, Pertamina Drilling akan memperluas pertumbuhan lewat ekspansi ke pasar luar negeri dan kemitraan regional. Perusahaan juga membuka peluang pertumbuhan melalui akuisisi anorganik yang ditargetkan dan bersifat sinergis.

"Pertumbuhan berkelanjutan melalui ekspansi luar negeri dan kemitraan regional, mengubah cost center menjadi profit center," katanya.

Sebagai bagian dari pengembangan bisnis, anak usaha PDC bakal diberdayakan menjadi HTE Champion di lingkungan Pertamina Group untuk meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang pertumbuhan perusahaan.

Pertamina Drilling juga menargetkan keterlibatan pengembangan sumber daya migas nonkonvensional (MNK). Perusahaan akan mengadopsi teknologi Dynamic Gas Blending (DGB) guna mengurangi konsumsi bahan bakar rig, dan meningkatkan efisiensi operasional melalui penerapan teknologi Gas to Liquid (GTL).

"Melalui adopsi teknologi Dynamic Gas Blending, selain mengurangi konsumsi bahan bakar, kami juga mendukung operasi pengurangan emisi dan mengurangi biaya," tutur Himawan.

Sepanjang 2020-2025, pendapatan Pertamina Drilling hampir dua kali lipat, dari USD 221,1 juta menjadi USD 435,7 juta, dengan CAGR sekitar 14,5 persen.

Sementara, laba bersih melonjak dari USD 6,43 juta pada 2020 menjadi USD 29,61 juta pada 2025 atau sekitar 4,6 kali lipat, dengan CAGR sekitar 36 persen.

Di sisi operasional, perusahaan mencatat Total Recordable Injury Rate (TRIR) sebesar 0,29 pada 2025 atau sekitar 29 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata industri pengeboran global IADC yang sebesar 0,41.

Adapun Non-Productive Time (NPT) pada 2025 tercatat 1,29 persen, sekitar enam kali lebih rendah dibandingkan rata-rata kontraktor rig di Indonesia yang mencapai 8,19 persen. Produktivitas rig perusahaan juga mencapai 70,15 persen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNPP Percepat Pembangunan PLBN Long Midang, Perkuat Perbatasan RI-Malaysia
• 11 jam laludetik.com
thumb
Jelang Super League 2026/2027, Bernardo Tavares Beberkan PR Besar Persebaya
• 6 jam lalubola.com
thumb
Fitur bluGether dari blu by BCA Digital Jadi Favorit Gen Z untuk Nabung Bareng
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
BI Prediksi Suku Bunga The Fed Naik di Triwulan IV-2026
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Juga Terima Suap Berupa Sapi Kurban, Astaga
• 15 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.