PT Pertamina (Persero) mengembangkan beberapa inovasi baru untuk pengembangan bahan bakar nabati (BBN), baik biodiesel maupun bioetanol dari pemanfaatan kelapa sawit.
Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7).
Oki menyatakan implementasi program biodiesel B50 mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia.
Jaringan distribusi biodiesel yang berbasis minyak kelapa sawit (CPO) pun telah masif, menjangkau 86 dari 121 terminal BBM milik perseroan di seluruh Indonesia.
Demi menekan impor bensin, Pertamina juga tengah membangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun. Fasilitas itu untuk mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.
Selain itu, Pertamina juga mulai melirik potensi besar yang belum tergarap maksimal yaitu Tandan Kosong Sawit (TKS). Dengan potensi volume sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai memiliki nilai tambah strategis untuk diolah menjadi bioetanol.
"Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia," jelas Oki dalam keterangan resmi, Rabu (22/7).
Fokus pengembangan juga diikuti dengan peningkatan kapasitas infrastruktur kilang hijau. Saat ini, Pertamina tengah mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap. Sebelumnya, perusahaan telah mengaplikasikan teknologi coprocessing secara komersial di Kilang Cilacap, dan tengah melakukan tahap uji coba untuk Kilang Balongan serta Dumai.
Oki menyebut bioenergi berbasis sawit merupakan solusi nyata untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan energi domestik yang masih ditopang impor minyak mentah dan produk BBM.
"Dengan sumber daya CPO dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi," ujar Oki.
Oki pun memaparkan tiga potensi utama bioenergi dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pertama, ketersediaan biomassa domestik yang sangat melimpah.
Kedua, perannya yang krusial dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat dekarbonisasi di sektor transportasi. Ketiga, bioenergi mampu menggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dia menegaskan Pertamina tidak bisa berjalan sendiri dalam transisi energi ini. Skema yang harus dibangun adalah memperkuat seluruh ekosistem biofuel. Mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi ke masyarakat.
"Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara," tutupnya.





