Barantin bangun laboratorium di Cilacap dan Waingapu

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Bogor (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) tengah membangun laboratorium yang terintegrasi dengan instalasi karantina di Cilacap, Jawa Tengah, dan Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai bagian dari penguatan sistem biosekuriti nasional.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan pembangunan dan revitalisasi laboratorium menjadi salah satu program prioritas badan tersebut untuk meningkatkan kemampuan pemeriksaan komoditas yang keluar dan masuk wilayah Indonesia.

"Kalau Karantina ini memang salah satu fokusnya, program prioritas salah satunya adalah revitalisasi dan pembangunan laboratorium. Jadi, segala upaya kita lakukan untuk memperbaiki dan membangun laboratorium," kata Karding di Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Ia mengatakan pembangunan laboratorium di Cilacap dan Waingapu saat ini sedang berlangsung. Selain itu, Barantin juga mengupayakan anggaran untuk merevitalisasi laboratorium yang telah beroperasi.

"Sekarang kita sedang proses pembangunan laboratorium di dua provinsi, di Jawa Tengah, di Cilacap, dan di NTT, di Waingapu. Untuk revitalisasi, sedang kita usahakan juga anggarannya," ujarnya.

Namun, Barantin belum dapat menyampaikan besaran anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan maupun revitalisasi laboratorium tersebut.

Baca juga: Barantin dorong penguatan laboratorium karantina secara bertahap

Baca juga: Barantin siapkan Rp5 triliun untuk modernisasi seluruh laboratorium

Berdasarkan data Barantin, badan tersebut memiliki 40 laboratorium yang dicatat berdasarkan jumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia.

Pembangunan laboratorium yang terintegrasi dengan instalasi karantina di Cilacap dan Waingapu tidak mengubah jumlah tersebut karena keduanya merupakan bagian dari UPT Barantin.

Dalam satu UPT dapat terdapat lebih dari satu laboratorium, termasuk yang berada di satuan pelayanan (satpel) di bandara maupun pelabuhan. Namun, secara administrasi seluruh fasilitas laboratorium tersebut tetap dihitung sebagai satu laboratorium pada masing-masing UPT.

Penguatan laboratorium juga menjadi salah satu fokus kerja sama Barantin dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), selain penguatan sistem biosekuriti, pengawasan, sistem peringatan dini, dan ketelusuran (traceability) komoditas.

Melalui proyek Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101), Barantin dan FAO menjalankan kerja sama selama dua tahun, mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028, dengan dukungan hibah FAO sebesar 200.000 dolar AS atau sekitar Rp3,59 miliar untuk memperkuat manajemen risiko karantina hewan secara terintegrasi.

Proyek tersebut mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem digital untuk pemetaan dan analisis risiko penyakit hewan, sistem peringatan dini (early warning system), serta komunikasi risiko.

Pentingnya kapasitas laboratorium tercermin dari pengujian terhadap 312 ton meat bone meal (MBM) asal Brasil senilai sekitar Rp2,4 miliar yang dimusnahkan Barantin setelah hasil uji laboratorium berbasis real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) menunjukkan adanya kandungan unsur babi (porcine).

Karding meminta eksportir dan importir mematuhi seluruh persyaratan pemasukan komoditas agar tidak menghadapi tindakan tegas maupun menanggung kerugian akibat barang yang tidak memenuhi ketentuan.

"Mari kita saling menjaga. Kami menjalankan aturan, teman-teman eksportir maupun importir taat aturan saja," tuturnya.

Baca juga: Barantin musnahkan 312 ton MBM asal Brasil yang mengandung porcine

Baca juga: Karantina NTB musnahkan tiga ton produk hewan dan ikan tanpa dokumen


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Jenazah Insiden KM Nurul Salsa Ditemukan, 16 Korban Masih Hilang
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Terseret Terorisme, Ulama Palestina Abdul Karim Miqdad Nikahi WNI dan Tinggal di Indonesia 3 Tahun
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Kadispenad Tegaskan Babinsa Tak Diberi Tugas Awasi Kepatuhan Wajib Pajak!
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Tembus Rp255,5 Triliun, SILPA APBN 2026 Dinilai Jadi Beban Fiskal
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Menakar Pemenuhan Hak Anak: Refleksi Hari Anak Nasional
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.