Melahirkan anak pertama pada Januari 2023 menjadi momen yang membahagiakan bagi Shafira. Masa nifasnya berjalan lancar, begitu pula hasil pemeriksaan ke dokter kandungan dan dokter anak. Tak ada tanda yang mengkhawatirkan. Hingga tiga bulan kemudian, kondisinya berubah drastis.
Shafira mulai mengalami batuk yang tak kunjung reda. Semula ia menganggapnya sebagai sakit biasa. Namun, batuk itu semakin parah hingga membuatnya sesak napas. Bahkan, untuk melakukan aktivitas sederhana seperti salat saja ia merasa tidak sanggup. Saat tidur pun ia harus dalam posisi duduk karena sulit bernapas.
"Tidurnya pun harus sambil duduk. Dan di situ aku sudah mulai curiga gitu, ‘Oh apa ini bukan cuma batuk ya’,” ucap Shafira kepada kumparanMOM, Jumat (17/7).
Diagnosis yang Mengubah SegalanyaSetelah tiga hari mengalami keluhan tersebut, Shafira memutuskan memeriksakan diri ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Dari sana, ia dirujuk ke dokter jantung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil elektrokardiogram (EKG) dan USG jantung menunjukkan kabar yang mengejutkan. Fungsi jantung Shafira hanya tersisa sekitar 25 persen. Pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita kemudian menegaskan diagnosis yang sama, yakni Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) atau gagal jantung yang terjadi pada akhir kehamilan hingga beberapa bulan setelah persalinan.
Diagnosis itu menjadi pukulan besar. Di saat ibu lain sedang menikmati masa-masa awal bersama bayi, Shafira justru harus menghadapi kenyataan bahwa jantungnya tidak lagi bekerja secara optimal.
Tetap Memerah ASI tapi Tak Bisa Diberikan pada BayiSebagai ibu baru, Shafira merasa harus menjalani dua proses adaptasi sekaligus. Ia belajar merawat bayi, tetapi di saat yang sama juga harus berjuang melawan penyakit yang baru didiagnosis.
Obat-obatan yang dikonsumsinya membuat ASI tidak bisa diberikan kepada si kecil. Ia tetap memompa ASI, tetapi harus membuangnya. Selain itu, dokter juga melarangnya menggendong bayi untuk sementara waktu karena aktivitas tersebut dapat memperberat kerja jantung.
"Yang tadinya aku belajar gimana cara untuk menggendong anak dengan baik dan benar, tapi sekarang rasanya aku harus belajar menerima bahwa aku sementara waktu nggak bisa menggendong anakku karena itu akan memperberat kerja jantungku,”kenangnya..
Meski demikian, Shafira tetap berusaha menjalin kedekatan dengan bayinya melalui cara lain. Ia memanfaatkan waktu dan tenaga yang dimiliki untuk tetap melakukan bonding bersama sang buah hati.
Selama sekitar lima hingga enam bulan, Shafira menjalani pengobatan intensif dan bolak-balik ke rumah sakit. Perlahan, kondisinya membaik hingga dosis obat mulai dikurangi.
Penyebab PPCM Masih Menjadi MisteriSelama menjalani pengobatan, Shafira berkali-kali bertanya kepada dokter mengenai penyebab PPCM yang dialaminya. Namun, jawaban yang diterima selalu sama: hingga kini belum ada penyebab pasti maupun faktor risiko yang benar-benar dapat menjelaskan mengapa penyakit tersebut terjadi.
Saat bergabung dengan komunitas penyintas PPCM, ia menemukan bahwa pengalaman setiap ibu sangat beragam. Ada yang melahirkan secara normal maupun operasi caesar, memiliki hipertensi ataupun tidak, tetap bisa mengalami kondisi serupa.
“Ibu-ibu dengan darah tinggi atau hipertensi saat kehamilan bisa kena juga, non-hipertensi seperti aku pun bisa kena, sampai saat ini belum ada faktor risiko yang cukup jelas, cukup clear, terkait dengan apa sih penyebab PPCM ini,” tegas ibu 2 anak itu.
Kini, pengobatan Shafira telah selesai. Meski demikian, ia masih harus menjalani pemeriksaan EKG atau USG jantung secara rutin setiap enam bulan hingga satu tahun sekali. Kabar baiknya, fungsi jantungnya telah meningkat menjadi 56 persen.
Dukungan Suami yang Menjadi Kekuatan TerbesarPerjalanan melawan PPCM tak hanya menguras fisik, tetapi juga emosinya. Shafira mengaku sempat merasa gagal menjadi seorang ibu dan istri. Ia merasa tidak mampu menjalankan peran yang selama ini diimpikannya.
Namun, di tengah rasa bersalah itu, sang suami justru menjadi sosok yang paling menguatkan. Alih-alih menyalahkan, suaminya terus mendampingi dan meyakinkan bahwa hal terpenting adalah kesembuhannya.
Pada 2025, Shafira kembali hamil. Demi memastikan keselamatan dirinya dan janin, ia berkonsultasi dengan tiga dokter jantung yang berbeda sebelum memutuskan melanjutkan kehamilan.
“Tahun 2025 akhirnya tanpa sengaja aku hamil kembali, aku mengunjungi tiga dokter jantung yang berbeda, untuk tahu ini kehamilannya boleh diteruskan atau harus terminasi,” tuturnya.
Kehamilan tersebut akhirnya berjalan baik hingga bayinya lahir. Setelah itu, Shafira dan suami sepakat untuk tidak menambah momongan lagi demi menjaga kesehatannya. Meski mereka sempat bermimpi memiliki tiga anak, pasangan ini memilih menerima kenyataan dengan lapang dada.
Bagi Shafira, keputusan itu terasa lebih ringan karena ia memiliki suami yang selalu menerima dirinya apa adanya. Ia pun mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada pria yang tak pernah meninggalkannya selama menghadapi masa-masa tersulit dalam hidup.
“Nggak pernah ngeluh capek, ini kapan sih berakhirnya, nggak pernah protes, tapi selalu ada mendampingiku dan menerima aku, menyerap semua perasaanku, emosiku, aku sangat berterima kasih untuk itu, semoga kamu hidup panjang dan sehat-sehat selalu,” pungkas Shafira.





