TABLOIDBINTANG.COM - Sensasi panas di dada atau heartburn sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, jika keluhan tersebut terus muncul berulang, kondisi itu bisa menjadi tanda Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yaitu penyakit asam lambung yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan.
Tak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, GERD juga dapat mengganggu kualitas tidur, membuat penderitanya enggan makan, hingga memicu komplikasi serius bila tidak ditangani.
Menurut Dr. Sundeep Jain, Direktur dan Kepala Departemen GI, GI Cancers, HPB & Bariatric Surgery di Fortis Hospital Jaipur, Inidia, GERD yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menyebabkan penyempitan kerongkongan (esophageal stricture), Barrett's esophagus, bahkan meningkatkan risiko kanker kerongkongan.
Kabar baiknya, perubahan gaya hidup sederhana dapat membantu mengurangi kekambuhan GERD. Berikut lima kebiasaan yang disarankan.
1. Jaga Berat Badan Tetap Ideal
Kelebihan berat badan, terutama lemak di area perut, dapat meningkatkan tekanan pada lambung. Kondisi ini membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Tak perlu menjalani diet ekstrem. Menurunkan berat badan secara bertahap, disertai aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki secara rutin, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi kambuhnya GERD.
2. Kenali Makanan Pemicu GERD
Tidak semua penderita GERD memiliki pemicu makanan yang sama. Karena itu, penting untuk mengenali makanan yang memicu gejala pada diri sendiri.
Menurut Dr. Jain, beberapa makanan yang sering memicu refluks asam antara lain:
- Makanan pedas
- Susu dan produk olahannya
- Cokelat
- Buah-buahan sitrus
- Makanan berbahan dasar tomat
- Daun mint
- Bawang putih mentah
- Bawang bombai pada sebagian orang
Mencatat makanan yang dikonsumsi selama dua hingga tiga minggu dapat membantu mengidentifikasi pola munculnya gejala sehingga Anda tidak perlu menghindari semua jenis makanan secara berlebihan.
3. Berhenti Merokok
Merokok tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga melemahkan katup antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter).
Saat katup ini melemah, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Selain itu, nikotin juga meningkatkan produksi asam lambung, sementara batuk akibat merokok dapat memperburuk refluks.
Karena itu, menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari semua produk tembakau menjadi langkah penting untuk mengendalikan GERD.
4. Batasi Kafein dan Minuman Beralkohol
Banyak orang hanya fokus menghindari makanan pedas, padahal minuman seperti kopi berkafein tinggi dan alkohol juga dapat memicu naiknya asam lambung.
Kafein dan alkohol diketahui dapat mengendurkan katup lambung sehingga asam lebih mudah naik ke kerongkongan. Selain itu, kafein meningkatkan produksi asam lambung, sedangkan alkohol dapat mengiritasi lapisan lambung.
Bukan berarti harus berhenti sepenuhnya. Mengurangi konsumsi kopi, tidak meminumnya pada malam hari, atau membatasi alkohol saat makan dapat membantu mengurangi gejala GERD.
5. Jangan Langsung Berbaring Setelah Makan
Kebiasaan langsung rebahan setelah makan malam dapat memperparah refluks asam lambung.
Saat tubuh dalam posisi berbaring, gaya gravitasi tidak lagi membantu menjaga isi lambung tetap berada di tempatnya sehingga asam lebih mudah naik ke kerongkongan.
Para ahli menyarankan untuk menunggu setidaknya dua jam setelah makan sebelum berbaring. Saat tidur, posisi kepala dan tubuh bagian atas sebaiknya dibuat sedikit lebih tinggi, misalnya dengan meninggikan bagian kepala tempat tidur atau menggunakan bantal khusus berbentuk wedge.
GERD Bisa Dikendalikan, Jangan Diabaikan
Heartburn yang sering kambuh memang umum terjadi, tetapi bukan berarti kondisi tersebut boleh dianggap sepele.
Menurut Dr. Jain, sebagian besar kasus GERD dapat dicegah dan dikendalikan melalui perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan, menghindari pemicu makanan, berhenti merokok, membatasi kafein dan alkohol, serta tidak langsung berbaring setelah makan.
Namun, bila gejala terus berulang atau semakin parah, penderita sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pada kasus tertentu, pengobatan jangka panjang atau tindakan operasi laparoskopi mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.




