Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memastikan kondisi lalu lintas di Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing, Jakarta Timur, telah kembali lancar setelah dilakukan rekayasa lalu lintas berupa penutupan sejumlah putaran balik (U-turn).
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan, arus kendaraan dari kedua arah sudah berangsur normal setelah pihaknya menerapkan skema rekayasa lalu lintas.
“Alhamdulillah semua bisa teratasi. Sebelah kiri maupun kanan kondisinya sudah sangat lancar setelah dilakukan rekayasa lalu lintas dengan penutupan U-turn di Cakung, Babek, dan JGC,” ujar Budi dalam keterangannya yang diterima kumparan, Rabu (22/7).
Menurut Budi, rekayasa lalu lintas mulai diberlakukan sekitar pukul 19.00 WIB. Hasilnya, sekitar 30 menit kemudian antrean kendaraan mulai bergerak dan kepadatan perlahan berkurang.
Meski kondisi telah membaik, Dishub DKI akan kembali menerapkan rekayasa serupa pada hari berikutnya. Penutupan U-turn di kawasan Cakung, Babek, dan Jakarta Garden City (JGC) akan dimulai pukul 15.00 WIB guna mengantisipasi kepadatan kendaraan.
Pelaksanaan rekayasa tersebut melibatkan sekitar 75 personel Dishub. Rinciannya, 30 personel berasal dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, 30 personel dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara, dan sekitar 15 personel dari tingkat provinsi yang ditempatkan di sejumlah titik pengaturan lalu lintas.
Petugas juga mengarahkan truk menuju Terminal Tanah Merdeka sebagai lokasi penampungan sementara apabila terjadi antrean menuju depo peti kemas.
Budi menjelaskan, kemacetan yang terjadi sebelumnya dipengaruhi oleh tingginya aktivitas impor yang tidak sebanding dengan arus ekspor. Akibatnya, peti kemas menumpuk di kawasan pelabuhan dan depo, sehingga memicu antrean panjang truk yang berdampak pada lalu lintas di Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing.
Karena itu, Dishub DKI berharap kapasitas penampungan depo milik Pelindo dapat ditingkatkan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Kami berharap kapasitas depo Pelindo dapat ditingkatkan dari 65 persen menjadi 75 hingga 80 persen agar tidak terjadi lagi penumpukan peti kemas di depo,” tutup Budi.
Kemacetan akibat aktivitas bongkar muat tersebut sempat ramai di media sosial. Dalam video yang beredar terlihat antrean truk dan motor yang mengular. Kemacetan terjadi pada Selasa (21/7) pagi. Menjelang sore arus lalu lintas kembali lancar.





