Prospek Emas Belum Pudar, Peluang Saham ANTM-MDKA Cs Masih Terbuka

idxchannel.com
23 jam lalu
Cover Berita

Prospek saham-saham tambang emas dan tembaga dinilai kembali menarik setelah tekanan dari kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Prospek Emas Belum Pudar, Peluang Saham ANTM-MDKA Cs Masih Terbuka. (Foto: Pexels)

IDXChannel – Prospek saham-saham tambang emas dan tembaga dinilai kembali menarik setelah tekanan dari kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai banyak tercermin dalam harga.

Dengan potensi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan meredanya tensi geopolitik ke depan, ruang kenaikan harga emas dinilai lebih besar dibandingkan risikonya.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah Jelang Rilis Laporan Keuangan Big Tech

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang diterbitkan pada 21 Juli 2026 menilai harga emas mampu bertahan di kisaran USD4.000 per troy ons meski konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Di sisi lain, harga minyak Brent sempat melonjak hingga sekitar USD90 per barel.

Baca Juga:
Perkuat Operasional, PGJO Tambah Armada Kapal Tugboat dan Tongkang Senilai Rp62 Miliar

Menurut mereka, tekanan jangka pendek terhadap harga emas memang masih dapat terjadi.

Namun, faktor-faktor negatif seperti potensi kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil US Treasury dinilai sudah banyak diantisipasi pasar.

Baca Juga:
Cadangan Nikel RI Capai 40 Persen Dunia, RI Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Listrik

Sebaliknya, sejumlah katalis positif belum sepenuhnya tercermin dalam harga, mulai dari peluang The Fed menjadi lebih dovish hingga kemungkinan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah menjelang pemilu paruh waktu AS.

Dengan kondisi tersebut, Indo Premier memperkirakan harga emas berpeluang mencapai sedikitnya USD4.500 per ons pada akhir 2026, didorong oleh persoalan struktural berupa keberlanjutan fiskal AS yang masih menjadi perhatian.

Di dalam negeri, perkembangan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) juga dinilai berpotensi menjadi katalis bagi PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mulai 2027.

Freeport memperkirakan tambang Grasberg baru beroperasi pada kapasitas 60-65 persen pada semester I-2027, sebelum kembali mencapai kapasitas penuh pada semester II-2027. Artinya, peningkatan produksi sepanjang sisa 2026 diperkirakan masih terbatas.

Meski demikian, saat smelter PT Smelting dan smelter PTFI di JIIPE beroperasi penuh, Freeport diperkirakan mampu memproduksi hingga sekitar 50 ton emas per tahun.

Seluruh produksi tersebut direncanakan diserap oleh ANTM, setara tiga hingga empat kali volume pasokan emas domestik yang diperoleh perseroan pada kuartal I-2026.

Analis memperkirakan apabila kebutuhan impor emas dapat digantikan sepenuhnya oleh pasokan Freeport, volume perdagangan emas ANTM berpotensi meningkat sekitar 25-40 persen secara tahunan pada 2027.

Sementara itu, pendapatan utilitas AKRA juga diperkirakan meningkat signifikan seiring bertahap naiknya utilisasi kawasan industri JIIPE.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diperkirakan menghadapi periode penting pada kuartal III-2026 karena izin ekspor konsentrat tembaga akan berakhir.

Berdasarkan hasil pengecekan lapangan Indo Premier, volume konsentrat tembaga AMMN pada April 2026 lebih tinggi dibandingkan rata-rata kuartal I-2026.

Namun setelah izin ekspor berakhir, perusahaan diperkirakan sepenuhnya mengandalkan smelter katoda tembaga untuk menopang penjualan.

Untuk kuartal II-2026, produksi katoda tembaga dan emas murni diperkirakan turun sekitar 5-25 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Meski demikian, penjualan emas olahan diperkirakan membaik karena masih terdapat selisih sekitar 50 ribu ons antara produksi dan penjualan yang belum dibukukan pada kuartal I-2026.

Secara keseluruhan, Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam dan energi.

Analis juga kembali menegaskan rekomendasi beli pada saham-saham berbasis emas seperti ANTM, AMMN, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dengan keyakinan bahwa pengembangan proyek TB Copper tetap berjalan meski terdapat ketidakpastian regulasi.

Menurut mereka, investor global telah terbiasa beroperasi di wilayah dengan tingkat risiko politik yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Proyek North Hub Selat Makassar Diproyeksikan Perkuat Investasi Hulu Migas dan Ketahanan Energi Nasional
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Pertamina Trans Kontinental Dorong Edukasi Maritim kepada Anak
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bank Mandiri Catat Laba Bersih Rp 30,4 T per Juni 2026, Naik 24,4 Persen
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Oegroseno Mengaku Pernah Ditawari Rp 1 M dan Tanah 1.000 Meter Usai Pembelian Lahan Polri di Lembang
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Layanan SPBU di Palembang Optimal
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.