Di tengah meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia, chatbot berbasis akal imitasi (artifical inteligent/AI) mulai menjadi "tempat curhat" baru. Tersedia selama 24 jam, tidak menghakimi, dan selalu siap merespons, AI menawarkan sesuatu yang sering kali sulit ditemukan remaja, yaitu menjadi pendengar yang selalu ada.
Namun, para dokter dan ilmuwan mengingatkan agar kemudahan tersebut tidak berubah menjadi jebakan.
Dokter anak yang juga Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Angga Wirahmadi, menegaskan bahwa AI sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai sumber informasi atau pendamping untuk persoalan ringan, bukan sebagai alat diagnosis maupun terapi gangguan kesehatan mental.
"Kalau sudah mengarah pada gangguan mental, tetap harus diperiksa oleh tenaga kesehatan. Jangan mengandalkan AI sebagai alat diagnosis atau terapi," kata Angga, dalam diskusi daring yang diselenggarakan IDAI pada Selasa (21/6/2026).
Peringatan itu muncul pada saat masalah kesehatan mental remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sekitar 15,5 juta remaja, atau hampir sepertiga dari total 46 juta remaja di Indonesia, mengalami masalah kesehatan mental.
Sekitar satu dari 20 remaja telah memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan perilaku. Ironisnya, hanya sekitar 10 persen yang mencari bantuan profesional. Masalah kesehatan mental di kalangan remaja ini juga kerap dikaitkan dengan tingginya angka bunuh diri.
Fenomena ini membuat chatbot AI menjadi alternatif yang semakin menarik. Remaja yang enggan berbicara kepada orang tua, guru, atau psikolog dapat dengan mudah membuka aplikasi di telepon genggam dan mencurahkan seluruh kegelisahannya kepada mesin.
Secara global, penggunaan chatbot AI memang meningkat sangat cepat. OpenAI melaporkan ChatGPT telah digunakan oleh lebih dari 700 juta pengguna aktif setiap pekan pada pertengahan 2025, dan jumlah itu terus meningkat hingga 900 juta pengguna aktif mingguan pada awal 2026.
Sekitar 70 persen percakapan dengan chatbot justru berkaitan dengan persoalan sehari-hari, termasuk emosi, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa percakapan dengan chatbot tidak lagi didominasi oleh urusan pekerjaan atau tugas sekolah. Sekitar 70 persen percakapan dengan chatbot justru berkaitan dengan persoalan sehari-hari, termasuk emosi, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Bahkan, hampir separuh orang dewasa yang telah didiagnosis mengalami gangguan mental pun mengaku pernah menggunakan chatbot AI untuk mencari dukungan psikologis, sering kali tanpa sepengetahuan dokter atau terapis mereka.
Bagi banyak pengguna, chatbot AI menawarkan kemudahan yang sulit diperoleh dari layanan kesehatan mental konvensional. Layanan ini tersedia selama 24 jam, mudah diakses, dapat digunakan secara anonim, dan dinilai tidak menghakimi penggunanya. Karakteristik inilah yang membuat sebagian orang memilih berkonsultasi dengan chatbot sebelum mencari bantuan profesional.
Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Psychopathology and Clinical Science edisi Juli 2026 mengingatkan bahwa kenyamanan tersebut dapat membawa konsekuensi yang tidak diinginkan apabila chatbot digunakan tanpa pengawasan. Laporan ini ditulis Javad Abbasi Jondani dari Department of Psychology, University of Isfahan.
Setelah menelaah berbagai penelitian, Jondani mengidentifikasi lima pola risiko yang berpotensi memperburuk kesehatan mental. Risiko pertama adalah menunda mencari pertolongan profesional. Karena merasa sudah memperoleh jawaban dan dukungan dari chatbot, seseorang dapat menunda berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Padahal, pada kasus depresi sedang hingga berat, gangguan kecemasan berat, atau munculnya pikiran bunuh diri, penanganan profesional sangat menentukan keselamatan pasien.
Risiko kedua, penggunaan chatbot AI bisa memperkuat perilaku kompulsif. Pada orang yang mengalami gangguan kecemasan atau obsessive compulsive disorder (OCD), chatbot yang selalu sabar menjawab dapat berubah menjadi sumber kepastian tanpa akhir. Pengguna terdorong terus mengulang pertanyaan yang sama demi memperoleh rasa tenang, sehingga kecemasannya justru semakin menguat.
Ketiga, AI dapat memperdalam isolasi sosial. Remaja yang mengalami perundungan, kesepian, atau sulit berinteraksi dengan teman sebaya mungkin merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot yang tidak pernah menolak ataupun menghakimi. Dalam jangka panjang, hubungan dengan AI dapat menggantikan interaksi sosial yang justru penting untuk membangun ketahanan mental.
Risiko keempat bisa memperkuat keyakinan yang keliru. Chatbot modern dirancang agar responsnya terdengar ramah, suportif, dan sering kali menyetujui pengguna. Pada individu yang mengalami gangguan psikotik atau delusi, kecenderungan AI untuk tidak banyak membantah dapat memperkuat persepsi yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagian peneliti mulai menyebut fenomena ini sebagai AI-induced psychosis atau "psikosis AI", meski istilah tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Yang terakhir adalah ketergantungan dalam mengambil keputusan. Ketika setiap persoalan, mulai dari urusan sekolah, pertemanan, hingga hubungan pribadi, selalu diserahkan kepada chatbot, pengguna berisiko kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri. Padahal, masa remaja merupakan periode ketika kemampuan mengambil keputusan dan mengendalikan emosi masih berkembang hingga usia sekitar 24 tahun.
Temuan ini menjadi penting karena remaja memang berada pada fase kehidupan yang sangat rentan. Selain mengalami perubahan hormonal, mereka juga sedang membentuk identitas diri, mencari penerimaan dari lingkungan, serta menghadapi tekanan dari sekolah maupun media sosial.
Dalam diskusi sebelumnya, IDAI mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memperbesar risiko gangguan mental. Remaja yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di media sosial perlu mendapat perhatian lebih, terutama bila aktivitas digital mulai menggantikan hubungan dengan keluarga atau teman.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa AI bukanlah musuh kesehatan mental. Sejumlah aplikasi AI memang dirancang khusus untuk mendukung kesehatan psikologis dan telah menunjukkan manfaat dalam membantu mengurangi stres ringan atau mengajarkan teknik mengelola emosi. Yang menjadi persoalan adalah ketika chatbot umum, yang sebenarnya tidak dirancang sebagai layanan kesehatan, diperlakukan layaknya psikolog atau psikiater.
Pada individu yang mengalami gangguan psikotik atau delusi, kecenderungan AI untuk tidak banyak membantah dapat memperkuat persepsi yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan.
Mereka juga mengingatkan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak AI terhadap kesehatan mental masih berkembang. Sebagian besar penelitian yang ada masih berupa laporan kasus, studi observasional, atau korelasi sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Namun, dengan semakin luasnya penggunaan AI oleh anak muda, para peneliti menyerukan perlunya pengawasan yang lebih ketat, pengembangan fitur keselamatan oleh perusahaan teknologi, serta peningkatan literasi digital. Dengan demikian, masyarakat memahami batas kemampuan chatbot.
Bagi keluarga, pesannya menjadi penting. AI dapat menjadi pintu awal untuk mencari informasi atau memahami perasaan, tetapi tidak boleh menggantikan percakapan dengan orang tua, guru, teman, maupun tenaga kesehatan.
Sebab, tidak seperti chatbot, manusia mampu membaca ekspresi, menangkap bahasa tubuh, memahami konteks kehidupan seseorang, dan mengambil keputusan klinis yang dapat menyelamatkan nyawa. Ketika seorang remaja mulai kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, menarik diri dari lingkungan, mengalami kecemasan berat, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bantuan profesional tetap menjadi pilihan yang paling aman dan paling efektif.





