Banda Aceh: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh memprakirakan fenomena hari tanpa hujan di wilayah Aceh akan berlanjut hingga 31 Juli 2026. Hal ini didasarkan pada prediksi curah hujan pada dasarian III yang menunjukkan angka 31 persen di bawah 50 milimeter.
"Masih ada sekitar 31 persen curah hujan di bawah 50 mm (rendah) yang diindikasikan akan berlanjut tanpa hujan hingga akhir bulan," kata Analis Stasiun Klimatologi BMKG Aceh, Harisa Bilhaqqi Qalbi, di Banda Aceh, Kamis, 23 Juli 2026, melansir Antara.
Harisa menjelaskan, akumulasi curah hujan yang minim pada periode sebelumnya (dasarian II Juli) telah memicu prakondisi kering yang meningkatkan kerentanan ekosistem terhadap kekeringan meteorologis.
Baca Juga :
Bengkulu Masuki Kemarau, BMKG: Hujan Ringan Masih Berpotensi TerjadiSementara itu, curah hujan rendah (0-50 mm per dasarian) dengan probabilitas 31 persen akan melanda sejumlah wilayah. Di antaranya Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie bagian utara, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur bagian utara, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Lebih rinci, prediksi curah hujan di bawah 20 mm berpeluang 60-70 persen terjadi di Kota Banda Aceh dan sebagian kecil Aceh Besar. Sebaliknya, curah hujan di atas 50 mm berpotensi mengguyur Aceh Timur bagian selatan, Langsa, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil, serta diprediksi khusus Simeulue peluangnya lebih dari 70 persen.
"Secara keseluruhan, Aceh sedang menghadapi tantangan defisit curah hujan yang terpusat di wilayah utara dan tengah, dan diprediksi masih akan terus berlanjut," jelas Harisa.
Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.
Ia menegaskan, puncak musim kemarau di Aceh telah diprediksi jauh hari. Mayoritas terjadi pada Juli (di enam zona musim), sementara ada satu zona musim yang puncaknya diprediksi jatuh pada Agustus mendatang.
Untuk itu, BMKG mengimbau para pemangku kebijakan segera melakukan mitigasi kekeringan melalui sistem peringatan dini (early warning), penghematan sumber daya air, serta perlindungan sektor pertanian.
"Perlindungan sektor pertanian mutlak dan segera diperlukan untuk wilayah pesisir utara. Sedangkan pesisir selatan relatif aman karena masih menerima pasokan curah hujan yang memadai," tutup Harisa.




