CILEGON, DISWAY.ID– Polres Cilegon berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 50.000 ekor Benih Bening Lobster (BBL) yang diduga akan diperdagangkan secara ilegal ke Pulau Sumatera.
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan penyidik mengamankan dua tersangka serta menyelamatkan potensi kerugian negara mencapai Rp7,5 miliar.
"Dua tersangka yang diamankan masing-masing berinisial M, warga Kota Tangerang, Banten, dan AR, warga Kabupaten Lampung Barat, Lampung," ujarnya.
BACA JUGA:Menteri PU Tepis Isu Mutasi Akibat Surat Perjalanan Dinas ke Amerika Serikat Viral, Alasannya Klasik!
Keduanya kini ditahan di Rumah Tahanan Polres Cilegon untuk menjalani proses hukum.
Kasus ini bermula dari Laporan Polisi Nomor LP/A/05/VII/RES.5.4/2026/SPKT Satreskrim/Polres Cilegon/Polda Banten tertanggal 17 Juli 2026.
Kronologi Pengungkapan Kasus Penyelundupan Benih Lobster
Pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, personel Satreskrim Polres Cilegon bersama Subdenpom III/4-2 Merak melakukan pemeriksaan di Dermaga 6 Eksekutif Pelabuhan Penyeberangan ASDP Merak.
Petugas menghentikan sebuah mobil Toyota Avanza silver metalik nomor polisi B-1179-VMX yang dicurigai membawa muatan ilegal. Dari dalam kendaraan ditemukan 10 boks styrofoam berisi sekitar 50.000 ekor Benih Bening Lobster yang akan dikirim ke Palembang, Sumatera.
Para pelaku menggunakan modus mengemas BBL dalam boks styrofoam lalu mengangkutnya dengan mobil pribadi.
Motif kedua tersangka diduga semata-mata untuk mencari keuntungan ekonomi dari perdagangan ilegal komoditas laut bernilai tinggi tersebut.
BACA JUGA:Wamensos Tekankan Pentingnya Pengelolaan Sarpras Sekolah Rakyat
"Pengungkapan ini merupakan bukti nyata komitmen Polres Cilegon bersama Subdenpom III/4-2 Merak dalam menjaga kekayaan sumber daya kelautan Indonesia dari praktik penyelundupan," tegas Maruli.
Kedua tersangka dijerat Pasal 88 jo Pasal 16 ayat (1) dan/atau Pasal 92 jo Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana diubah dalam UU Cipta Kerja dan perubahan terbaru. Ancaman hukuman pidana penjara paling lama 8 tahun dan/atau denda maksimal Rp500 juta.
Penyidik saat ini masih melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Cilegon.





