Probolinggo (beritajatim.com) – Ancaman kebakaran di Kota Probolinggo mulai meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau. Di tengah tren kejadian yang terus bermunculan hampir setiap pekan, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Probolinggo justru masih harus berjibaku dengan keterbatasan armada, minimnya alat pelindung diri (APD), hingga puluhan hidran yang belum mampu berfungsi maksimal.
Situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi petugas yang berada di garis depan penanggulangan bencana kebakaran. Meski demikian, Damkar memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan selama 24 jam.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP, Linmas, dan Damkar Kota Probolinggo, Tri Setyo Anggodo, mengatakan memasuki musim kemarau yang disertai angin kencang, intensitas laporan dari masyarakat terus berdatangan.
“Minimal dalam seminggu pasti ada pengaduan, baik kebakaran maupun nonkebakaran. Saat musim panas seperti sekarang, masyarakat harus lebih waspada karena potensi kebakaran meningkat,” ujar Tri saat ditemui di Mako Damkar Kota Probolinggo, Kamis (23/7/2026).
Data Damkar mencatat, tren kebakaran di Kota Probolinggo sempat melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021 terdapat 53 kejadian, meningkat menjadi 60 kasus pada 2022, kemudian melonjak drastis menjadi 105 kejadian pada 2023 dan kembali naik menjadi 117 kejadian pada 2024.
Meski angka tersebut turun menjadi 70 kejadian sepanjang 2025, ancaman kebakaran belum mereda. Hingga pertengahan Juli 2026 saja, petugas telah menangani 34 kejadian kebakaran.
Rinciannya, Januari tiga kejadian, Februari tiga kejadian, Maret dua kejadian, April lima kejadian, Mei enam kejadian, Juni 10 kejadian, dan Juli lima kejadian. Lonjakan pada pertengahan tahun menunjukkan dampak nyata musim kemarau terhadap meningkatnya risiko kebakaran.
Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, kemampuan operasional Damkar masih belum sepenuhnya didukung sarana yang memadai.
Dari enam unit mobil pemadam yang dimiliki, hanya empat unit yang masih bisa dioperasikan. Dua armada berkapasitas 4.000 liter dan 5.000 liter mengalami kerusakan sehingga belum dapat digunakan saat keadaan darurat.
Tak hanya itu, Kota Probolinggo juga belum memiliki mobil tangga (aerial ladder) untuk menjangkau kebakaran pada bangunan bertingkat.
Persoalan juga terjadi pada perlengkapan keselamatan personel. Dalam satu regu berisi sembilan petugas, APD tahan api yang tersedia hanya tiga set. Artinya, tidak seluruh personel memiliki perlindungan maksimal ketika harus masuk ke lokasi kebakaran. Padahal, harga satu set APD mencapai sekitar Rp12 juta.
Kendala lain terdapat pada sekitar 30 hidran yang tersebar di Kota Probolinggo. Sebagian besar belum mampu mengalirkan air dengan debit yang memadai sehingga petugas lebih sering memanfaatkan sungai maupun sumber air alternatif ketika melakukan pemadaman.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa memberikan dukungan anggaran yang lebih besar. Kami juga berharap perusahaan ikut berpartisipasi melalui program CSR karena tugas kami tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga aset perusahaan,” kata Tri.
Menurut Tri, kebakaran lahan menjadi kasus yang paling banyak muncul dalam beberapa pekan terakhir. Mayoritas dipicu aktivitas pembakaran sisa panen maupun pembakaran sampah yang ditinggalkan sebelum api benar-benar padam.
Beberapa kejadian bahkan terjadi dua kali di kawasan timur Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Probolinggo dan satu kali di belakang kawasan Playland.
Asap tebal dari pembakaran tersebut sempat mengganggu aktivitas masyarakat serta perkantoran di sekitarnya. “Petani kadang menganggap pembakaran itu tidak berdampak. Padahal asapnya mengganggu lingkungan sekitar karena banyak sawah yang berdekatan dengan permukiman maupun perkantoran,” ujarnya.
Selain kebakaran, Damkar ternyata lebih sering menerima laporan tumpahan solar di jalan raya dibandingkan laporan kebakaran.
Dalam sepekan, petugas bisa menerima dua hingga tiga laporan tumpahan solar, terutama di Jalan Pahlawan depan Palapa, tikungan menuju Brak, kawasan Flora, hingga Gladak Serang.
Lokasi tersebut merupakan jalur menikung yang sering dilalui truk bertangki penuh sehingga solar mudah tumpah saat kendaraan berbelok. Tri mengimbau perusahaan angkutan dan sopir truk tidak mengisi tangki secara berlebihan serta memastikan tutup tangki tertutup rapat.
Ia juga mengingatkan pengendara sepeda motor agar tidak menganggap semua jalan basah sebagai genangan air. “Kalau melihat jalan basah yang mencurigakan, sebaiknya dihindari. Banyak pengendara mengira itu air biasa, padahal bisa jadi tumpahan solar yang menyebabkan motor mudah terpeleset,” katanya.
Di sisi lain, Damkar Kota Probolinggo juga masih dihadapkan pada persoalan laporan palsu dari masyarakat. Beberapa kali seluruh personel dikerahkan menuju lokasi setelah menerima panggilan darurat, namun setibanya di tempat tidak ditemukan kejadian apa pun.
Menurut Tri, laporan palsu sangat merugikan karena menguras waktu, tenaga, bahan bakar, serta mengurangi kesiapsiagaan petugas jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran atau keadaan darurat yang sebenarnya.
Untuk menekan angka kejadian, Damkar kini memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui media sosial dan pelatihan langsung di sekolah, rumah sakit, perusahaan, hingga lingkungan permukiman. Edukasi tersebut mencakup penggunaan APAR, penanganan kebocoran LPG, bahaya korsleting listrik, hingga prosedur evakuasi kebakaran sebagai langkah membangun budaya pencegahan di tengah meningkatnya ancaman kebakaran saat musim kemarau. (rap/kun)




