JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan, kementeriannya mendapatkan laporan 30.000 aduan masyarakat soal nomor-nomor ponsel yang melakukan scamming atau penipuan.
"Kami melalui aduannomor.id itu menerima sepanjang Januari sampai Juli 2026, lebih dari 30.000 nomor-nomor yang melakukan scamming atau kejahatan. Ini yang dilaporkan oleh masyarakat, artinya yang tidak dilaporkan bisa lebih banyak lagi," ujar Meutya, Kamis (23/7/2026).
Laporan tersebut disampaikan Meutya dalam agenda Deklarasi Komitmen Bersama Implementasi Penuh Registrasi Pelanggan Berbasis Data Biometrik, di Garuda Spark FX Sudirman, Jakarta Pusat.
Baca juga: Komdigi Ingatkan Registrasi Biometrik SIM Card Tidak Boleh Pakai Data Orang Lain
Kerugian akibat scam mencapai Rp 9,1 triliunLebih lanjut, data dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) milik pemerintah mencatat total kerugian masyarakat akibat penipuan digital menyentuh angka Rp 9,1 triliun
"Data dari Scam Center, Anti-Scam Center kita, yang menunjukkan bahwa dari kurang lebih sepanjang tahun 2025 itu nilainya Rp 9,1 triliun, angka yang berasal dari penipuan-penipuan digital," tutur Meutya.
Baca juga: Komdigi Tindak 3,7 Juta Situs dan Konten Bermuatan Judol dari Oktober 2024 hingga Juli 2026
Meutya mengatakan, pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan juga mengungkap perputaran dana judi online berasal dari nomor-nomor anonimitas.
Penerapan verifikasi biometrik cegah scamBerangkat dari banyaknya laporan penipuan melalui digital, Komdigi kini menerapkan skema verifikasi biometrik untuk pengguna kartu baru yang dimulai sejak Januari 2026.
"Kebijakan registrasi biometrik ini solusi di tingkat hulu, yaitu upstream solution untuk memutus akar masalah kejahatan berbasis digital dengan berusaha menutup celah anonimitas," ucap Meutya.
Meutya meyakini betul sebelum ada kebijakan biometrik ini, sejumlah oknum memanfaatkan NIK dan nomor KK orang lain untuk mendaftarkan kartu SIM seluler.
"Sehari bisa satu juta nomor baru tanpa registrasi biometrik, menggunakan NIK yang belum tentu NIK-nya diri sendiri. Jadi ini kami harapkan tentu membuat anonimitas yang dapat berpotensi menuju kejahatan digital itu dikurangi," imbuhnya.
Sejak biometrik diterapkan awal tahun, ia mengklaim registrasi kartu baru kini telah turun menjadi 250.000-280.000 pengguna per hari dari yang semula 1 juta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




