Eddy Soeparno Bicara Urgensi Transisi Energi untuk Pertumbuhan Ekonomi

detik.com
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno menegaskan bahwa di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, Indonesia harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi agar tidak terus bergantung pada impor energi yang rentan terhadap dinamika politik dan ekonomi dunia.

Menurutnya, berbagai konflik dan ketegangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketahanan energi kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional.

Hal tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi DBS-CNBC Indonesia Morning Coffee bertajuk 'Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik Global: Tantangan, Potensi, dan Arah Kebijakan' di Jakarta.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada energi impor. Kemandirian energi harus menjadi prioritas nasional karena menyangkut stabilitas ekonomi, daya saing industri, dan kesejahteraan masyarakat," kata Eddy, Kamis (23/7/2026).

Dia menegaskan bahwa transisi energi harus menjadi instrumen strategis untuk mencapai tiga tujuan sekaligus. Pertama, memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan impor. Kedua, menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen melalui penciptaan investasi baru, hilirisasi industri, dan lapangan kerja hijau.

"Ketiga, memenuhi komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon serta mempercepat dekarbonisasi menuju pembangunan berkelanjutan. Ketiga sasaran tersebut, menurut Eddy, bukanlah agenda yang saling bertentangan, melainkan dapat dicapai secara bersamaan melalui kebijakan yang tepat," lanjutnya.

Waketum PAN ini menjelaskan jalan menuju kemandirian energi harus ditempuh melalui percepatan transisi energi yang berpijak pada kekuatan sumber daya nasional. Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hidro, angin hingga bioenergi, yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.

Selain mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan, Eddy menilai reformasi tata kelola sektor energi juga harus menjadi prioritas. Penyusunan neraca migas nasional, perbaikan mekanisme Domestic Market Obligation (DMO), peningkatan kepastian investasi, serta penguatan perencanaan energi nasional diperlukan agar sistem energi Indonesia menjadi lebih efisien, tangguh, dan mampu mengantisipasi berbagai risiko global.

"Ketahanan energi dibangun dengan menambah kapasitas produksi sekaligus membenahi tata kelola yang baik, kepastian regulasi, dan perencanaan jangka panjang agar Indonesia siap menghadapi berbagai tantangan global," tutupnya.




(prf/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kabar Duka, Muhammad Basri Tutup Usia, Sosok Legendaris PSM dan Timnas Indonesia
• 23 jam lalueranasional.com
thumb
Kronologi Rudapaksa Paman ke Keponakan Selama 9 Tahun, Berawal dari Curhat Timbul Nafsu Bejat!
• 14 jam laludisway.id
thumb
AS akan berlakukan tarif baru hingga 12,5 persen ke 60 mitra dagang
• 3 menit laluantaranews.com
thumb
Hotman Paris Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus Febrie Gara-gara Saraf Kejepit
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Tiktoker Mondy Tatto Jadi Tersangka Pembunuhan, Ini Respons Keluarga Korban
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.