PELALAWAN, KOMPAS — Perguruan tinggi perlu bertransformasi agar bertahan dan tetap relevan demi menyiapkan lulusan yang unggul di era kecerdasan buatan. Hal ini bisa dilakukan dengan fokus pada inovasi pembelajaran sehingga mahasiswa bisa mengambil keputusan dan mengevaluasi pengetahuan dari akal imitasi melalui proses bernalar.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengutarakan hal itu dalam inspirational talks Tanoto Scholars Gathering 2026 di hadapan 242 penerima beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (23/7/2026).
Perkembangan akal imitasi (AI) yang mampu menciptakan pengetahuan menghadirkan pertanyaan tentang keberlanjutan perguruan tinggi. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa manusia atau lulusan perguruan tinggi akan tergantikan di dunia kerja oleh AI.
Stella mencontohkan, di Amerika Serikat, lulusan program studi ilmu komputer yang semula paling dicari dan diminati kini menghadapi ancaman tak mendapat pekerjaan. Sebab, pekerjaan oleh ahli komputer bisa digantikan AI, seperti memakai AI untuk koding jauh lebih murah, tak pernah tidur, tidak istirahat, dan lebih jago dari manusia.
”Mahasiswa masih ingin punya pekerjaan di dunia ini. Namun, jika kalian di bawah AI dan bergantung kepada AI, tentu sebentar lagi kalian akan digantikan AI. Apakah ini berarti kita menyerah, tidak usah lagi ke perguruan tinggi karena semua pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi sudah ada informasinya di AI?” tanya Stella.
Stella mengingatkan, ketergantungan yang besar pada kecerdasan buatan dapat menimbulkan persoalan energi hingga air bersih. Dari riset ilmuwan, tiap kali seseorang mengetik di AI ada biayanya karena memerlukan energi amat besar, listrik, dan air bersih.
Estimasinya tahun lalu, pemakaian energi oleh AI sama dengan pemakaian energi selama satu tahun dari seluruh negara Latvia selama satu tahun. Bahkan, pada tahun 2029 estimasinya seluruh Inggris Raya. Demikian juga air bersih untuk pendinginan pada tahun 2025, air yang dipakai untuk AI GPT-4 dikalkulasi setara dengan pemakaian air minum 1,2 juta manusia.
Di tengah ancaman fenomena gelembung atau bubble dan otomatisasi akal imitasi, lanjut Stella, kampus harus berfokus pada tiga pilar utama agar mahasiswa tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan.
Kampus fokus dalam penciptaan pengetahuan baru (creation of knowledge) yang inovatif, transmisi pengetahuan (transmission of knowledge) yang melatih proses berpikir kritis, serta kurasi pengetahuan (curation of knowledge) untuk menyaring informasi yang bermakna.
Pada sesi sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, pendidikan di perguruan tinggi perlu memperkuat pola pikir berkembang (growth mindset) mahasiswa. Tujuannya agar mahasiswa belajar untuk menghasilkan inovasi dan relevan dengan perkembangan zaman.
Para mahasiswa Tanoto Scholars menjadi bagian dari 14 persen angkatan kerja Indonesia dengan pendidikan tinggi, sedangkan 86 persen angkatan kerja Indonesia lainnya berpendidikan hingga sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK) sederajat.
Menurut Yassierli, bantuan beasiswa pendidikan yang juga dilengkapi dengan pelatihan kepemimpinan, pengembangan diri, dan wirausaha dalam program beasiswa TELADAN akan memperkuat SDM Indonesia menyongsong Indonesia Emas 2045.
”Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat dengan ekonomi dan pendapatan per kapita menjadi negara maju dan berdaulat. Karena itu, penyiapan sumber daya manusia dengan serius perlu dilakukan agar berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation Eddy Henry menegaskan, program TELADAN tidak sekadar membantu mahasiswa mengakses pendidikan tinggi melalui bantuan pembiayaan, tetapi juga membekali mereka dengan kompetensi kepemimpinan.
Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat dengan ekonomi dan pendapatan per kapita menjadi negara maju dan berdaulat. Karena itu, penyiapan sumber daya manusia dengan serius perlu dilakukan agar berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa.
”Pembekalan skill (kemampuan) kepemimpinan sangat berguna bagi mahasiswa. Ini bukan hanya untuk siap bekerja, melainkan juga bisa menjadi pemimpin bagi komunitas, masyarakat, dan negara,” ujarnya.
Eddy menambahkan, Tanoto Foundation berkomitmen mendukung penerima beasiswa bertumbuh sebagai pemimpin dengan mengembangkan potensi mereka. ”Potensi yang bertumbuh terus dibentuk agar menghadirkan dampak berarti bagi orang lain,” ujarnya.
Berinvestasi dalam pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa sebagai generasi muda dibutuhkan negeri ini. ”Pengetahuan saja tidak cukup. Bakat saja juga tidak cukup. Dunia butuh orang-orang yang menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang mereka miliki dan mengikatnya dengan purpose atau tujuan jelas,” katanya.





