New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah saham Alphabet dan Tesla mengalami tekanan tajam. Di saat yang sama, lonjakan harga minyak dunia hingga menembus USD100 per barel akibat konflik di Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi dan suku bunga.
Mengutip Xinhua, Jumat, 24 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97 persen menjadi 51.711,65. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 90,66 poin atau 1,21 persen ke level 7.408,30, sedangkan Nasdaq Composite merosot 553,21 poin atau 2,15 persen menjadi 25.137,69.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sebanyak tujuh sektor ditutup di zona merah. Sektor layanan komunikasi memimpin pelemahan dengan penurunan 5,2 persen, disusul sektor barang konsumsi non-esensial yang turun 5,12 persen. Sebaliknya, sektor industri dan kesehatan mencatat penguatan masing-masing sebesar 1,77 persen dan 1,29 persen.
Baca Juga :
Wall Street Tergelincir Jelang Laporan Keuangan Alphabet-TeslaTekanan di pasar dipicu aksi jual pada saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar atau The Magnificent Seven setelah laporan keuangan kuartalan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Meskipun Alphabet membukukan kinerja keuangan yang relatif solid, keputusan perusahaan meningkatkan proyeksi belanja modal memunculkan kekhawatiran investor terkait imbal hasil investasi jangka pendek untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Saham Alphabet pun turun hampir 7 persen.
Sementara itu, saham Tesla anjlok 14,52 persen setelah laba kuartal II tercatat jauh di bawah ekspektasi pasar. CEO Tesla Elon Musk juga mengungkapkan 2026 akan menjadi periode belanja modal dalam skala besar seiring peningkatan investasi pada robot humanoid Optimus, robotaksi otonom, serta kapasitas pusat data.
Sentimen tersebut ikut menyeret saham teknologi besar lainnya. Amazon turun 4,57 persen, sedangkan Meta Platforms melemah sebanyak 3,36 persen.
(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Harga minyak dunia tembus USD100/barel
Di pasar komoditas, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah mendorong kenaikan tajam harga minyak dunia. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September naik USD5,36 atau 6,17 persen menjadi USD92,19 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah Brent kontrak September melonjak USD6,62 atau 7,04 persen menjadi USD100,69 per barel di ICE Futures Exchange London. Kenaikan tersebut membuat harga Brent kembali menembus level psikologis USD100 per barel.
Lonjakan harga minyak turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hingga di atas 4,7 persen, level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun meningkat ke atas 4,36 persen.
Ahli strategi pasar dari Baird menilai pergerakan imbal hasil obligasi jangka pendek menjadi indikator penting dalam membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, kontrak berjangka Fed Funds kini menunjukkan peluang sebesar 82 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan proyeksi 52 persen sepekan sebelumnya.




