Model AI Buatan China Maju Pesat, Persaingan AS-China Memanas

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Dengan begitu cepat posisi Cina telah berubah. Dari yang tertinggal lima tahun dari Amerika Serikat di bidang kecerdasan buatan (AI) kelas atas menjadi tertinggal hanya beberapa bulan saja.

Sementara para pengembang AS, termasuk Claude dari Anthropic dan ChatGPT dari OpenAI, telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk mendorong kemajuan AI, Cina justru menempuh jalur yang berbeda.

Dihadapkan pada pembatasan AS terhadap cip kelas atas yang membantu AI melakukan pemrosesan tercanggih, perusahaan teknologi Cina memprioritaskan puluhan model AI dengan sumber terbuka yang dibangun dengan basis teknologi yang cukup baik.

Platform-platform ini, termasuk DeepSeek, Qwen dari Alibaba, dan MiMo dari Xiaomi, kini telah diterapkan secara luas di berbagai bisnis, layanan pemerintah, dan beragam perangkat konsumen di Cina.

Model AI Cina memperkecil 'gap teknologi' AS

Sebagai tanda terbaru bahwa jarak tersebut semakin menyempit, perusahaan rintisan Cina, Moonshot AI, pekan lalu meluncurkan Kimi K3, sebuah model yang mampu menyaingi salah satu model AI paling canggih, Claude Fable 5 dari Anthropic, sebagai tolak ukur pertama.

Dalam beberapa pengujian, Kimi K3 mampu menyamai atau bahkan mengungguli Claude dengan daya komputasi yang jauh lebih rendah dan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan biaya Claude.

Pakar teknologi global Alvin W. Graylin berpendapat bahwa kehadiran Kimi K3 mengubah AI kelas atas dari barang mewah yang mahal menjadi sesuatu yang praktis dan terjangkau.

Kimi K3 "menjadikan model-model terbaru sebagai komoditasnya," kata Graylin kepada DW.

"Bagi 98% pelanggan, perbedaan 1 hingga 2 persen (dalam pengetahuan) tidak sebanding dengan membayar 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal."

Washington mengemukakan kekhawatiran akan distilling AI

Kemajuan terbaru Cina telah memicu reaksi keras dari Washington, dengan ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan memblokir akses AS ke model-model AI Cina.

Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent memperingatkan awal pekan ini bahwa AS dapat menjatuhkan sanksi terhadap model-model Cina terkait dugaan pencurian kekayaan intelektual (IP).

Anthropic dan OpenAI menuduh laboratorium-laboratorium Cina menggunakan model AI AS untuk melatih sistem mereka, sebuah proses yang dikenal sebagai knowledge distilling atau transfer pengetahuan.

Meskipun distilling merupakan praktik umum yang dilakukan oleh laboratorium AI di seluruh dunia dalam skala terbatas, kedua perusahaan tersebut menyatakan bahwa model mereka telah dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan untuk mengekstraksi kemampuan penalaran tingkat lanjut. Washington memperingatkan pada bulan April bahwa Cina melakukannya praktik tersebut dalam skala industri.

Beijing menolak tuduhan tidak berdasar tersebut dan menyebut ancaman sanksi serta larangan penggunaan model AS sebagai intimidasi teknologi untuk menghambat kebangkitan Cina.

Giulia Neaher, seorang analis riset di Strategic Foresight Hub di lembaga think tank Stimson Center yang berbasis di Washington menyebut peran distilling tidak berperan penting dalam kemajuan Kimi. "Sebagian besar (kesuksesannya) disebabkan oleh bakat, infrastruktur, dan sumber daya yang dicurahkan untuk membangun model ini," kata Neaher kepada DW.

Mengapa pendekatan model terbuka Cina semakin populer

Pada tahap awal pengembangan kecerdasan buatan (AI) modern, Amerika Serikat memilih untuk merahasiakan cara kerja internal model-model unggulannya.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan teknologi raksasa memaksimalkan keuntungan lewat fitur langganan, pemberian lisensi kepada perusahaan, dan sistem pembayaran per token.

Sebaliknya, banyak pengembang AI terkemuka di Cina mengadopsi model terbuka. Artinya, perusahaan dan pengembang dapat mengunduh dan menjalankan model tersebut di server mereka, lalu menyesuaikannya sesuai kebutuhan.

"Sumber terbuka memungkinkan laboratorium-laboratorium di Cina untuk melibatkan komunitas AI global dalam meningkatkan dan menguji model-model mereka," kata Graylin kepada DW, sambil menambahkan bahwa pembatasan cip AS telah memaksa mereka untuk menjadi "lebih kreatif dan efisien."

Washington 'kebut' perkembangan frontier AI

Namun, meskipun Cina memiliki keunggulan dalam hal harga dan penerapan, penting bagi Washington untuk tetap mempertahankan keunggulannya di bidang kecerdasan buatan terdepan (AI frontier), karena siapa pun yang menguasai sistem AI paling canggih kemungkinan besar akan mendominasi militer, ekonomi, dan teknologi selama bertahun-tahun mendatang.

Model-model terdepan juga dapat mempercepat terobosan di bidang sains dan kedokteran.

Meskipun distilling mungkin telah membantu beberapa model AI Cina masuk ke peringkat 10 besar, Neaher menyamakan pendekatan tersebut dengan sekolah-sekolah yang mengajarkan siswa untuk lulus ujian tanpa membantu memahami materi secara menyeluruh.

"Anda mungkin memiliki nilai ujian yang sangat bagus, tetapi pembelajaran yang sesungguhnya mungkin tidak nampak," katanya kepada DW.

Neaher, yang penelitiannya mencakup kebijakan dan tata kelola AI, memprediksi terus meningkatnya antipati AS terhadap kemajuan AI Cina. Hal ini sejalan dengan tindakan Washington yang mulai memperketat kebijakan terhadap industri AI.

Mungkinkah Cina melampaui demam investasi AS?

Persaingan AI ini juga berpotensi memicu persaingan babak baru lainnya: rencana untuk melepas saham laboratorium AI paling sukses ke pasar modal.

Beberapa perusahaan AI AS telah dinilai bernilai hampir satu triliun dolar atau sekitar Rp17,9 triliun. Baik Anthropic maupun OpenAI dilaporkan sedang mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) pada akhir tahun ini untuk memanfaatkan minat investor yang sangat besar.

Di pihak Cina, DeepSeek dan Moonshot AI juga berupaya melantai di bursa saham. Moonshot AI berencana melakukan pencatatan saham di Hong Kong sebelum awal tahun depan.

Mengingat sektor teknologi Cina yang masih dinilai terlalu rendah oleh pasar, investor institusional AS diam-diam telah meningkatkan alokasi investasi mereka, bertaruh bahwa mereka dapat menghindari potensi gelembung AI di AS sambil mempersiapkan diri untuk memanfaatkan momentum Cina dalam persaingan yang semakin ketat.

"Tren jangka panjangnya tidak terlihat baik," kata Graylin. "Ada 'gelembung AI besar' di AS dan sudah waktunya terjadi perubahan dalam tiga hingga 12 bulan ke depan."

"Pihak Cina sedang mengembangkan model yang sebanding dengan biaya sepersepuluh dan harga sepersepuluh dari harga pasar AI tercanggih AS."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Arti Ekawati dan Adelia Dinda Sani

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Pertanyakan Urgensi Pembentukan URI
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Pertamina Trans Kontinental Dorong Edukasi Maritim kepada Anak
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kanwil DJP Jakpus perkuat sinergi lewat konsultasi publik
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Jaksa Agung Mutasi Mantan Anak Buah Febrie Ardiansyah
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Prabowo Pimpin Ratas Selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
• 21 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.