Dalam waktu kurang dari tujuh bulan, perjalanan saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) berbalik arah secara tajam.
IDXChannel – Dalam waktu kurang dari tujuh bulan, perjalanan saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) berbalik arah secara tajam.
Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level Rp14.750 per saham pada intraday 30 Desember 2025, harga saham FILM kini telah terkoreksi lebih dari 92 persen.
Berdasarkan data BEI, hingga jeda perdagangan sesi I pada Jumat (24/7/2026), saham FILM berada di level Rp1.085 per unit.
Tekanan terhadap saham FILM juga terjadi seiring meningkatnya perhatian regulator terhadap struktur kepemilikan saham perseroan, selain penurunan pasar secara umum di tengah terpaan sejumlah isu domestik hingga makro global.
Pada 14 Juli 2026, BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menerbitkan pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) yang menyatakan bahwa, berdasarkan data per 30 Juni 2026, sebanyak 92,98 persen saham FILM dikuasai oleh sejumlah pemegang saham terbatas secara agregat.
Dalam pengumuman tersebut ditegaskan bahwa tingginya konsentrasi kepemilikan saham tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.
Namun, kondisi tersebut menjadi informasi penting bagi investor karena struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi dapat memengaruhi likuiditas perdagangan saham di pasar.
Di sisi fundamental, MD Entertainment sebenarnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja.
Dalam Paparan Publik Juni 2026, perseroan melaporkan pendapatan tahun buku 2025 naik menjadi Rp496,4 miliar dari Rp455,9 miliar pada 2024.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis digital dan kontribusi MDTV yang semakin besar, meski pendapatan dari bioskop masih melemah.
Perseroan juga berhasil membalikkan kinerja pada kuartal I-2026. Pendapatan meningkat 23 persen secara tahunan menjadi Rp150,7 miliar, sementara laba bersih berbalik positif menjadi Rp9 miliar dari rugi bersih Rp20,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA juga melonjak menjadi Rp51,6 miliar dari Rp15 miliar.
Manajemen menilai prospek industri perfilman nasional masih menarik. Dalam paparannya, MD Entertainment mencatat jumlah penonton film Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 80,3 juta, dengan pangsa pasar film nasional sekitar 63 persen, serta masih terbuka peluang menuju 100 juta penonton dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, perseroan mengandalkan empat strategi utama untuk mendorong pertumbuhan pada 2026, yakni memperkuat produksi konten berkualitas, mempercepat monetisasi digital dan OTT, melakukan turnaround pada MDTV, serta menjaga fleksibilitas neraca guna mendukung investasi konten baru. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





