Denpasar, VIVA – Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan fenomena ribuan ikan mati mendadak di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, dipicu dinamika limnologi dan hidrotermal alami.
“Hal ini bukan merupakan indikasi akan terjadinya erupsi di Gunung Batur,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dikonfirmasi ANTARA di Denpasar, Bali, Jumat.
Adapun limnologi merupakan ilmu tentang ekosistem perairan darat yang kajiannya mengungkap struktur dan fungsi hubungan antara organisme perairan darat dan kaitannya dengan dinamika fisik, kimia dan biologi lingkungan.
Berdasarkan analisis Badan Geologi, fenomena munculnya letupan gas di danau terbesar di Pulau Dewata itu berkaitan dengan dinamika alami yang terjadi di dalam kaldera Gunung Batur.
Ia menjelaskan pada kondisi tertentu, terutama ketika terjadi percampuran massa air (overturn/upwelling), air dari lapisan dasar danau yang minim oksigen serta mengandung gas terlarut, seperti hidrogen sulfida (H2S), dapat terangkat ke permukaan.
Pelepasan gas tersebut, imbuh dia, dapat menimbulkan bau belerang dan penurunan kadar oksigen terlarut di perairan berpotensi menyebabkan kematian ikan secara massal.
Sementara itu, terkait aktivitas vulkanik di gunung berapi setinggi 1.717 meter di atas permukaan laut itu, Lana menambahkan tidak terdapat indikasi kenaikan kegempaan vulkanik.
“Tingkat aktivitas Gunung Batur masih pada level I atau normal dengan rekomendasi wisatawan atau masyarakat tidak beraktivitas di kawah Gunung Batur,” imbuh dia.
Sebelumnya, sejak awal pekan ini ribuan ikan jenis nila termasuk yang dibudidayakan petani mati massal.
Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (KPP) Kabupaten Bangli sedang menghitung estimasi jumlah ikan yang mati tersebut.
“Untuk angka jumlah ikan yang mati belum kami keluarkan karena semburan belerang masih belum berhenti betul,” ucap Kepala Dinas KPP Bangli Wayan Sarma. (Ant)





