AI, "Minyak Baru" yang Akan Menentukan Masa Depan Indonesia

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Indonesia pernah mengalami masa ketika minyak dan gas menjadi penentu arah pembangunan nasional. Pada dekade 1970-an, minyak membawa Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan. Penerimaan negara meningkat, pembangunan dipercepat, dan kekuatan ekonomi Indonesia bertumpu pada sumber daya alam.

Namun, zaman terus berubah.

Jika abad ke-20 ditentukan oleh siapa yang menguasai minyak, maka abad ke-21 kemungkinan besar akan ditentukan oleh siapa yang menguasai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hari ini, dunia sedang memasuki perlombaan baru. Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Timur Tengah berlomba membangun pusat data, menarik talenta digital, dan mengembangkan teknologi AI. Negara yang berhasil menguasainya berpotensi menjadi pemimpin ekonomi dunia pada masa depan.

Di tengah perubahan besar tersebut, Indonesia mulai menunjukkan ambisinya.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Shanghai pada Juli 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keinginan Indonesia untuk memperoleh posisi strategis dalam organisasi AI dunia. Bahkan, Indonesia juga mengusulkan agar Jakarta dipertimbangkan sebagai lokasi penyelenggaraan forum AI internasional di masa mendatang.

Tidak berhenti di situ, Indonesia juga resmi menjadi salah satu anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), organisasi internasional yang diikuti sekitar 30 negara untuk memperkuat kerja sama dan tata kelola AI global. Status sebagai anggota pendiri memberi Indonesia kesempatan untuk ikut menyusun arah kebijakan dan struktur kelembagaan AI dunia sejak awal pembentukannya.

Bagi sebagian orang, berita ini mungkin terdengar seperti agenda diplomasi biasa. Namun, sesungguhnya ini adalah pertaruhan besar tentang masa depan Indonesia.

Dari Minyak ke Data

Ada banyak kesamaan antara minyak dan AI.

Minyak mentah tidak memiliki nilai tinggi tanpa kilang dan industri pengolahan. Demikian pula AI. Ia membutuhkan data, infrastruktur, dan sumber daya manusia untuk menghasilkan nilai tambah.

Hari ini, setiap aktivitas digital menghasilkan data. Ketika kita menggunakan media sosial, berbelanja secara daring, memesan transportasi, atau mencari informasi di internet, kita sedang menghasilkan sumber daya yang sangat berharga.

Karena itu, banyak pakar menyebut data sebagai "minyak baru".

Namun, AI adalah mesin yang mengubah minyak baru tersebut menjadi kekuatan ekonomi.

Masalahnya, sebagian besar nilai ekonomi dari data masyarakat Indonesia masih dinikmati oleh perusahaan-perusahaan teknologi global. Kita adalah pengguna yang aktif, tetapi belum menjadi pemain utama.

Karena itu, langkah Indonesia untuk ikut duduk dalam pembentukan tata kelola AI global patut diapresiasi. Setidaknya, Indonesia mulai menyadari bahwa kekuatan negara pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan mengelola teknologi.

Perlombaan yang Tidak Menunggu

Dunia tidak sedang menunggu Indonesia.

Amerika Serikat telah menjadikan AI sebagai keunggulan strategisnya. China menargetkan diri sebagai pemimpin AI dunia. Jepang dan Korea Selatan terus memperkuat riset dan industri semikonduktor. Negara-negara Timur Tengah bahkan menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun pusat data dan menarik ilmuwan terbaik.

Perlombaan ini berlangsung setiap hari.

Negara yang terlambat beradaptasi berisiko menjadi pasar permanen bagi teknologi asing. Dalam konteks ini, Indonesia tidak memiliki banyak pilihan selain ikut berlari.

Untungnya, Indonesia memiliki modal yang tidak sedikit. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, bonus demografi, dan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem AI global.

Namun, modal saja tidak cukup.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara memiliki sumber daya melimpah, tetapi tidak semuanya berhasil mengubah potensi menjadi kekuatan.

Diplomasi Airlangga dan Langkah Pertama Indonesia

Dalam hubungan internasional, mereka yang hadir di meja perundingan memiliki kesempatan untuk menentukan aturan. Sebaliknya, mereka yang tidak hadir hanya akan menerima aturan yang dibuat pihak lain.

Karena itu, langkah diplomasi yang dilakukan Airlangga Hartarto memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar kunjungan kerja.

Dengan menjadi anggota pendiri WAICO dan mendorong Jakarta sebagai pusat forum AI internasional, Indonesia sedang mengirimkan pesan bahwa kita tidak ingin datang terlambat ketika masa depan sedang dirancang.

Tentu, menjadi anggota organisasi internasional tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai pemimpin AI dunia.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Jumlah peneliti perlu ditingkatkan, kolaborasi antara kampus dan industri harus diperkuat, serta investasi di bidang teknologi perlu terus didorong.

Namun, setiap negara besar selalu memulai perjalanannya dari satu langkah pertama. Dan mungkin, inilah salah satu langkah pertama Indonesia di era AI.

Kedaulatan Digital Adalah Kedaulatan Baru

Pada masa lalu, negara mempertahankan wilayah darat, laut, dan udara. Hari ini, negara juga perlu mempertahankan ruang digitalnya. Data pribadi, keamanan siber, dan pusat data kini menjadi bagian dari kepentingan nasional. Jangan sampai Indonesia menjadi negara yang kaya data, tetapi miskin manfaat.

Kita pernah terlalu lama mengekspor bahan mentah tanpa memperoleh nilai tambah yang maksimal. AI memberikan kesempatan baru agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Airlangga sendiri menyebut bahwa AI memiliki potensi besar untuk diterapkan pada sektor pertanian modern, transisi energi, energi terbarukan, hingga layanan kesehatan digital. Pemerintah bahkan memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia yang saat ini sekitar US$13 miliar dapat berkembang hingga US$300 miliar seiring semakin luasnya pemanfaatan AI.

Angka tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi isu masa depan. AI adalah isu hari ini.

Indonesia Emas 2045 Tidak Akan Terjadi Tanpa AI

Sulit membayangkan Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 tanpa memiliki posisi yang kuat dalam penguasaan teknologi.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih dari sekadar jalan tol dan kawasan industri. Indonesia membutuhkan ilmuwan, insinyur, peneliti, dan talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global.

Karena itu, pembahasan mengenai AI tidak boleh berhenti di ruang rapat kementerian. AI harus mulai dibicarakan di sekolah, kampus, dan ruang keluarga.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah kemungkinan besar akan bekerja pada profesi yang bahkan belum ada saat ini. Sebaliknya, sejumlah pekerjaan yang kita kenal hari ini akan berubah akibat otomatisasi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah Indonesia.

Jawabannya sudah pasti: ya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah Indonesia akan menjadi penonton, pengguna, atau justru salah satu pemain utama dalam perubahan tersebut?

Lebih dari Sekadar Teknologi

Pada akhirnya, AI bukan sekadar tentang komputer yang lebih pintar atau mesin yang dapat berbicara seperti manusia. AI adalah tentang siapa yang akan memimpin ekonomi dunia pada abad ke-21.

Jika minyak membentuk geopolitik abad ke-20, maka AI kemungkinan besar akan membentuk geopolitik abad ke-21. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang mampu membaca perubahan memiliki kesempatan untuk memimpin.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Indonesia sedang mencoba memastikan bahwa ketika sejarah baru itu ditulis, nama kita tidak hanya tercatat sebagai pasar.

Melainkan sebagai salah satu negara yang ikut menentukan masa depan dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Tembus US$100 Lagi, Pasar Saham Kembali Cemas
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Sebut PKB Punya Kelebihan, Singgung Karisma Gus Dur
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Bentuk Perlindungan Hak Konsumen
• 17 menit lalucumicumi.com
thumb
Potret Aksi PM Baru Inggris, Tarif Bus Langsung Dipangkas Segini
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lee Hong Nae Akan Bergabung dalam Jajaran Pemain Solo Leveling Live Action
• 23 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.