Kisah Basuni: Dari Parut Kelapa, Antar Anak Kuliah di ITB Naik Bajaj dari Yogya

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Mata Basuni Yusuf (56) berkaca-kaca ketika menceritakan perjalanannya mengantar putra pertamanya, Andromeda Sufi Anggoro (18), berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada Jumat (17/7), Basuni mengantar Andromeda yang akrab disapa Andru dari rumah mereka di Karangwaru Kidul, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, menuju Bandung dengan mengendarai kendaraan roda tiga Bajaj.

Basuni sehari-hari mencari nafkah sebagai sopir Bajaj, pekerjaan yang baru setahun belakangan dijalaninya. Sebelumnya, selama puluhan tahun, ia bekerja memarut kelapa di pasar.

Andromeda merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Basuni dan Suci Wahyuningsih (45). Keluarga itu tinggal di sebuah rumah sederhana di dekat Pasar Karangwaru.

Perjalanan Andromeda hingga akhirnya bisa berkuliah di ITB bukan perkara mudah. Basuni sempat tidak mengizinkan putranya kuliah di Bandung karena khawatir tidak mampu membiayainya.

“Andru itu dulu lulus (SMA) mau kuliah di ITB, tapi saya enggak mengizinkan. Karena jauh dan saya enggak ada biayanya kalau kuliah di ITB. Kan biayanya mahal kalau di Bandung itu,” kata Basuni saat ditemui di rumahnya, Jumat (24/7).

Diam-diam Daftar ITB

Setelah lulus SMA, Andru berkuliah di Jurusan Teknik Informatika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY). Namun, tahun ini diam-diam ia mendaftar ke ITB.

Menurut Basuni, keputusan Andru berkuliah di UPN dilakukan untuk melegakan hati orang tuanya. Namun, keinginan untuk berkuliah di ITB tetap tersimpan.

Sejak sekolah, Andru memang bercita-cita masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB dan mengambil Astronomi.

“Tapi diam-diam tahun ini dia mendaftar lagi di ITB. Karena jurusan yang dia minati hanya ada di ITB. Fakultas MIPA, jurusannya Astronomi. UPN belum ada,” katanya.

Hingga suatu hari, Andru memberi tahu ayahnya bahwa ia diterima di ITB.

“Dan tiba-tiba dia itu, ‘Ayah, aku diterima di ITB. Aku mau ke Bandung, Yah.’ Terus waktu dengar itu saya juga apa ya, bingung. Makanya saya mau biayanya itu terus mau pakai apa, saya tuh sedang enggak pegang uang,” kata Basuni dengan haru.

Basuni akhirnya mengizinkan putranya berkuliah di Bandung dengan satu syarat: Andru harus mendapatkan beasiswa. Di sisi lain, Suci meminta suaminya terus mendukung cita-cita putra mereka. Ia meyakini akan ada jalan.

“Malam-malam saya berdoa, ‘Ya Allah, saya titip anak saya mau kuliah di Bandung.’ Kemudian saya sudah bilang anakku, ‘Le, Ayah ngijinke ke Bandung. Tapi kalau ada beasiswa, berangkat. Kalau enggak ada, enggak usah berangkat.’ Kemudian [dia] baru cari-cari beasiswa,” katanya.

Harapan itu akhirnya datang. Andru mendapat kabar bahwa dirinya memperoleh beasiswa dari kampus dan perusahaan swasta. Basuni hanya perlu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp 1 juta.

Antar Anak ke Bandung Naik Bajaj

Setelah persoalan biaya kuliah mendapat jalan keluar, Basuni ingin mengantar langsung putra pertamanya ke Bandung. Namun, biaya perjalanan menggunakan kereta api untuk keluarganya dinilai terlalu besar.

Ia kemudian memilih menggunakan Bajaj yang sehari-hari disewanya seharga Rp 80 ribu. Pemilik kendaraan mengizinkan Bajaj tersebut dibawa hingga Bandung.

Basuni berangkat bersama Andru, seorang adik Andru, dan Suci pada Jumat (17/7).

“Saya share, saya izin di grup, di grup orang tua mahasiswa ITB, Ikatan Orang Tua Mahasiswa. Itu saya sudah share, ‘Saya mau mengantar anak saya pakai Bajaj.’ Kemudian dari sana, dari Pak Imam Santoso namanya itu, dosennya itu, kita diundang ke sana,” katanya.

“Kita diundang mau dikasih beasiswa. Kemudian saya berangkat ke Bandung lewat jalur selatan,” lanjutnya.

Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 24 jam.

Mereka berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 17.00 WIB. Perjalanan sempat terhambat kemacetan di Gamping, Sleman, karena bertepatan dengan penyelenggaraan tradisi Bekakak. Setelah magrib, mereka baru bisa kembali melanjutkan perjalanan.

“Sampai Gombong saya jam 23.30 WIB,” katanya.

Di Gombong, Basuni dan keluarganya menginap di pondok pesantren milik kenalannya. Perjalanan kembali dilanjutkan pada pagi hari.

Setelah dua kali beristirahat dalam perjalanan, mereka akhirnya tiba di Bandung pada Sabtu sekitar pukul 20.23 WIB.

Keesokan harinya, Basuni terkejut karena kedatangan keluarganya mendapat sambutan dari pihak ITB.

“Paginya ternyata di sana (ITB) diacarakan, disambut, saya enggak ngerti. Datang begitu masuk kampus itu sudah diacarakan oleh Pak Imam Santoso itu, di gedung dan sebagainya. Saking senangnya saya sampai saya sujud syukur segala itu, ‘Ya Allah, saya syukur banget.’ Alhamdulillah ternyata dikasih itu disambut oleh Pak Dekan, kemudian Pak Rektor, di rumahnya Pak Rektor, rumah dinasnya,” ujarnya.

Kebahagiaan Basuni bertambah. Ia mendapat bantuan uang tunai untuk biaya perjalanan, Andru juga mendapat bantuan.

“Saya dikasih uang tunai untuk biaya perjalanan itu Rp 5 juta. Kemudian anak saya dikasih laptop. Terus alhamdulillah dikasih beasiswa untuk biaya hidup 1 semester itu Rp 6 juta,” katanya.

Rp 400 Ribu Bensin Yogya-Bandung PP

Basuni memperkirakan menghabiskan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu untuk membeli bensin selama perjalanan pulang-pergi Yogyakarta-Bandung.

Ia mengaku tidak merasakan lelah karena perjalanan tersebut dilakukan dengan perasaan bahagia.

“Fisik karena saking senangnya, semangat, jadinya tidak terasa. Terus jalan santai. Kalau waktunya salat, ya salat dulu,” katanya.

Basuni juga telah mempersiapkan Bajaj sebelum perjalanan panjang tersebut. Kendaraan itu diservis, termasuk mengganti oli dan tali kopling. Ia juga membawa sejumlah suku cadang, seperti kabel gas, untuk mengantisipasi kerusakan selama perjalanan.

Andru dan Kecintaannya pada Matematika

Basuni mengatakan, Andru telah menunjukkan prestasi akademik sejak kecil. Berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya, Andru sangat menyukai matematika.

“Dia paling suka matematikanya. Jadi kalau misalnya di SMP sudah mulai menonjol, SMP itu dia pintar,” katanya.

Saat SMP, kata Basuni, Andru pernah dites oleh ibunya untuk menyontek. Namun, Andru menolak karena menilai ujian harus dikerjakan dengan jujur untuk mengetahui kemampuannya sendiri.

Ketika bersekolah di SMA Negeri 4 Yogyakarta, kemampuan matematika Andru semakin menonjol. Ia bahkan kerap diminta gurunya membantu mengajar teman-temannya.

“Kalau di SMA 4 (Yogya) ini, dia sering sama Pak Gurunya disuruh ngajar, disuruh ngajar matematikanya ke teman-teman,” katanya.

Andru belum banyak bercerita kepada orang tuanya mengenai cita-cita setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, satu impiannya kini telah terwujud: berkuliah di ITB.

Selama menempuh pendidikan di Bandung, Andru tinggal di sebuah pondok pesantren mahasiswa.

“Di sana, di pondok pesantren mahasiswa,” kata Basuni.

Bagi Basuni, pendidikan merupakan hal utama. Ia berharap enam adik Andru kelak dapat mengikuti jejak kakaknya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinopsis SEBENING CINTA SCTV Episode 32, Hari Ini Jumat 24 Juli 2026: Bimo Umumkan Akan Menikahi Amanda, Melisa dan Lastri Syok
• 3 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pengukuran Lahan di Asemrowo Surabaya Diwarnai Penolakan Ahli Waris, Begini Duduk Perkaranya
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Bidik Pasar Ekspor Baru Antisipasi Tarif Tambahan AS
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Abbas Araghchi Mengecam Rencana Donald Trump Menggunakan Aset Iran untuk Ganti Rugi Kerusakan di Selat Hormuz
• 4 jam lalupantau.com
thumb
6 Zodiak yang Paling Ekspresif, Tak Pernah Menyembunyikan Perasaan
• 6 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.