Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencanangkan “jihad digital” sebagai langkah strategis untuk mengingatkan masyarakat agar tidak belajar agama hanya dengan mengandalkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Muhammad Cholil Nafis, Wakil Ketua Umum MUI, mengatakan perjuangan umat ke depan perlu masuk ke ranah digital. Tujuannya untuk memastikan masyarakat mendapat informasi keagamaan dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Cholil menilai AI dan media digital tetap boleh digunakan sebagai inspirasi atau sarana mencari informasi awal. Namun, teknologi tidak bisa dijadikan rujukan utama dalam mempelajari agama.
“Belajar agama itu butuh transmisi keilmuan yang disebut dengan sanad. Ada yang menjamin bahwa itu benar, orisinal, dan valid. Sementara dari media (AI) itu sering kita lihat mungkin sebagian benar, tapi sebagian salah,” katanya seperti dilaporkan Antara.
Melalui Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, MUI menegaskan pentingnya batasan penggunaan teknologi informasi dalam urusan keimanan. Cholil menekankan, mesin cerdas tidak dapat menggantikan peran ulama sebagai pembimbing sekaligus teladan.
“Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustadz yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin,” ujar Cholil Nafis.
Sementara itu, Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI, mengakui kehidupan umat dari berbagai profesi dan kalangan kini tidak bisa dilepaskan dari digitalisasi.
Menurut Anwar, perkembangan teknologi membawa manfaat besar, tetapi juga memiliki risiko yang tidak kalah serius. Karena itu, umat perlu aktif mengisi ruang digital dengan pesan-pesan moral dan dakwah.
“Kita ingin agar digitalisasi di negara ini, sebesar-besarnya akan kita isi dengan dakwah untuk membangun bangsa yang sebaik-baiknya,” ucap dia.
Untuk memperkuat dakwah digital, MUI juga menjalin kerja sama strategis dengan kalangan akademisi, salah satunya Universitas Indonesia (UI).
“Terutama AI yang menjadi kebutuhan ke depan, akan kita isi dengan dakwah yang bermartabat,” tutur Anwar Iskandar.(ant/iss)




