JAKARTA, KOMPAS — Pertobatan hati menjadi pesan penting dalam Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia atau FABC yang diselenggarakan di Jakarta. Seruan itu tidak hanya ditujukan bagi gereja Katolik di Asia, tetapi juga undangan bagi semua pihak, khususnya bagi para pengambil kebijakan dalam kehidupan masyarakat.
Sejak dibuka secara resmi pada Selasa (21/7/2026), para delegasi FABC yang setidaknya terdiri dari 120 uskup dan kardinal dari 22 konferensi waligereja dan wilayah gerejawi lainnya telah melakukan beberapa kegiatan, seperti rekoleksi, diskusi, debat, serta saling berbagi kisah/pengalaman. Beberapa ahli pun diundang untuk memberikan perspektif mengenai situasi dan kondisi global terkini.
Adapun tema Sidang Pleno XII FABC yang diselenggarakan di Jakarta adalah ”You Will See Greater Things (Jn 1:50): The Call to Synodal Conversion and the Mission of Bridge-Building in Asia”.
Sekretaris Eksekutif Komisi Sinodalitas FABC Clarence Devadass, dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (24/7/2026), mengatakan, para peserta diajak merefleksikan perubahan lanskap geopolitik, perubahan sosial, ekonomi, serta merefleksikan misi Gereja Katolik dalam konteks hari ini. Para peserta juga saling berbagi mengenai perjalanan gereja lokal di masing-masing negara sehingga saling menginspirasi satu sama lain.
Menurut Devadass, Sidang Pleno XII FABC tidak dimaksudkan semata-mata untuk menyusun dan menghasilkan suatu dokumen. Namun, para delegasi lebih diajak untuk memperdalam dan merefleksikan Gereja Katolik di Asia agar semakin bersekutu dan berjalan bersama-sama.
”Bagaimana gereja di Asia lebih menjadi persekutuan, membangun jembatan dengan berbagai agama, budaya, dan komunitas di tengah dunia yang terpolarisasi. Lalu juga merefleksikan bagaimana jalan agar semakin menjadi lebih sinodal di Asia,” tutur Devadass.
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan, tema Sidang Pleno XII FABC memang dimaksudkan bagi Gereja Katolik di Asia. Namun, tema tersebut juga menjadi undangan moral bagi mereka yang berada di posisi strategis atau pembuat kebijakan untuk melakukan pertobatan.
Pertobatan itu, kata Suharyo, semisal dalam hal menjunjung tinggi martabat manusia karena di banyak tempat di Asia, martabat manusia belum banyak dihormati. Hal berikutnya yang ditawarkan Gereja Katolik adalah dialog dengan kemiskinan.
”Itu jelas tanggung jawab, harus bertobat karena kemiskinan disebabkan kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi. Ini harus ditobati,” tutur Suharyo.
Nilai yang digarisbawahi berikutnya adalah solidaritas terkait dengan akses pada pendidikan, ekonomi, sampai politik, yang tidak dimiliki sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, perhatian yang lebih besar kepada mereka yang miskin harus dilakukan.
Hal terakhir yang digarisbawahi oleh Suharyo adalah bumi yang rusak karena keserahakan. Dari rangkaian Sidang Pleno XII FABC, semua persoalan itu bermuara pada perlunya pertobatan hati.
”Saya merasa bahwa ini adalah undangan tidak hanya kepada Gereja Katolik. Undangan bagi siapa pun yang berada pada posisi yang menentukan kehidupan bernegara dan berbangsa untuk juga menjalani pertobatan, khususnya dalam lima bidang itu,” tuturnya menjelaskan.
Kardinal Mario Grech, Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup, mengatakan, Asia merupakan benua yang sangat kaya. Gereja Katolik di Asia hidup berdampingan dengan berbagai agama dan budaya. Meski Gereja Katolik di Asia minoritas, banyak kisah yang menggetarkan hati dan bisa dipelajari oleh Gereja Katolik secara keseluruhan.
”Kami melihat kekayaan dalam diri orang-orang Asia. Gereja Katolik hidup dan berdampingan dengan agama dan budaya yang berbeda dan kita belajar dari sana. Kita belajar untuk kemudian melanjutkan misi kita,” kata Grech.
Menurut Grech, yang dibutuhkan Gereja saat ini bukanlah dokumen, melainkan tindakan. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah pertobatan yang bisa membawa pada perubahan cara hidup.
Pada kesempatan itu, Kardinal Pablo Virgilio David, Wakil Presiden FABC, menyampaikan kekagumannya kepada Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia serta dinamika perjalanan Gereja Katolik di Indonesia. Menurut David, Indonesia dengan Pancasilanya merupakan contoh nyata persaudaraan tanpa memandang etnis, ras, ataupun agama.
”Tidak peduli apa etnis atau agamanya, kita tetap bersaudara. Kita berbagi martabat manusia yang sama,” ujarnya.
Menurut rencana, Sidang Pleno XII FABC akan berakhir pada Minggu, 26 Juli 2026. Pada rangkaian acara penutupan, peserta Sidang Pleno XII FABC akan diajak melewati Terowongan Silaturahmi menuju Masjid Istiqlal.





