Palangka Raya: Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan saat ini belum terjadi lonjakan terhadap penyakit yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Berdasarkan hasil pemantauan kita, untuk kondisi kesehatan masyarakat masih relatif terkendali. Namun masyarakat diimbau untuk tetap waspada, karena saat ini Kobar telah masuk musim kemarau," kata Kepala Dinkes Kobar Hardino di Pangkalan Bun, Jumat, 24 Juli 2026, melansir Antara.
Baca Juga :
Karhutla di Kapuas Capai 305 Hektare, 22 Hotspot Terpantau"Dari data surveilans kesehatan kita untuk jumlah kasus ISPA turun dari 364 kasus menjadi 277 kasus atau berkurang sebanyak 87 kasus. Sementara itu, kasus ILI juga turun dari 10 kasus menjadi 7 kasus atau menurun sekitar 30 persen," ucapnya.
Berdasarkan data yang dimiliki pihaknya sampai saat ini belum terdapat peningkatan kasus gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla. Pihaknya akan tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam mengantisipasi apabila kebakaran terus terjadi dan kualitas udara memburuk, risiko peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan akan tetap ada.
Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat Hardino di Pangkalan Bun. ANTARA/Dinkes Kobar
Menurutnya, kelompok yang paling rentan terdampak asap karhutla tersebut di antaranya balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma maupun gangguan paru-paru. Hardino menambahkan pihaknya akan terus melakukan langkah antisipasi, dengan memperkuat sistem surveilans penyakit di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dalam melakukan pemantauan kualitas udara bersama instansi terkait agar dampak kesehatan dapat diantisipasi sejak dini. Dia mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, serta diminta untuk menggunakan masker apabila terjadi kabut asap dan memperbanyak konsumsi air putih.
"Masyarakat juga diminta untuk segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gejala, serta bagi masyarakat yang rentan untuk lebih membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara mulai menurun," kata Hardino.




