Bodi Kurus Tapi Kolesterol Tinggi? Ini 4 Penyebab Utamanya

celebesmedia.id
8 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Banyak orang masih beranggapan bahwa tubuh ramping adalah jaminan tubuh yang sehat dan bebas dari ancaman kolesterol tinggi.

Anggapan ini kerap membuat mereka yang berbadan kurus merasa tenang-tenang saja saat menyantap hidangan berlemak.

Padahal, realitanya tidak selalu demikian. Angka timbangan yang ideal tidak lantas mencerminkan kondisi metabolisme yang sama idealnya di dalam tubuh.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengungkapkan bahwa ada setidaknya empat faktor utama yang dapat menyebabkan seseorang bertubuh kurus tetap mengidap kolesterol tinggi.

Dalam sesi edukasi media di Jakarta, ia menekankan bahwa kondisi ini tidak hanya dipicu oleh pola makan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan serta bagaimana lemak terdistribusi di dalam tubuh.

Salah satu penyebab yang kerap tak disadari adalah faktor genetik atau dikenal sebagai familial hypercholesterolemia (FH).

Kelainan bawaan ini membuat kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL)—yang sering dijuluki kolesterol jahat—tetap melonjak tinggi meski seseorang memiliki berat badan normal.

Karena bersifat genetis, metabolisme tubuh secara alami memproses kolesterol dengan cara yang berbeda dari orang kebanyakan.

"Jadi memang banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan maupun distribusi lemak di tubuh," kata Susetyo.

Meski begitu, faktor genetik bukanlah satu-satunya dalang. Pola hidup sehari-hari tetap memegang peranan yang sangat besar.

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng serta kaya akan lemak jenuh dan lemak trans perlahan meningkatkan kadar kolesterol jahat, yang berisiko memperbesar pembentukan plak di pembuluh darah tanpa memandang seberapa ramping tubuh seseorang.

"Jadi jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," katanya.

Risiko tersebut kian diperparah oleh minimnya aktivitas fisik. Kurang bergerak dapat mengganggu metabolisme lemak, sehingga proses pembersihan kolesterol jahat dari dalam darah menjadi lambat dan kadarnya terus menumpuk.

Selain itu, ada pula ancaman berupa obesitas sentral atau penumpukan lemak viseral di rongga perut.

Kondisi ini kerap mengecoh karena bisa terjadi pada orang dengan indeks massa tubuh normal, sehingga keberadaan lemak perut tersebut tidak selalu terlihat dari luar.

Dokter Susetyo mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada angka di timbangan, sebab berat badan yang tampak normal bisa saja menyimpan penumpukan lemak di rongga perut dalam jumlah banyak.

Khusus pada populasi Asia, obesitas sentral ini ditandai dengan ukuran lingkar pinggang yang melebihi 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Pada akhirnya, bentuk tubuh yang ramping bukanlah tameng mutlak dari penyakit kardiovaskular. Menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala—terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga—merupakan langkah terbijak untuk memastikan tubuh benar-benar sehat, baik di luar maupun di dalam.

Sumber: ANTARA


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prediksi risiko stroke, peneliti kembangkan perangkat arteri pada cip
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Truk Tanah Terguling di Flyover Sudirman Tangerang, Arus Lalu Lintas Sempat Macet
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Ratusan Pemotor Terekam ETLE Lakukan Ini saat Melintas di Kemayoran
• 29 menit laluviva.co.id
thumb
Pembangunan Daerah Terus Berjalan, Dasco-Cucun Terima Dialog APKASI
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Penyidik Masih Rahasiakan Modus Eks Jampidsus Febrie Lakukan TPPU
• 14 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.