Pemandangan hutan mangrove yang lebat terpampang di sepanjang pesisir saat jolloro, perahu kecil yang kami tumpangi dari Makassar, mendekati Kuri Caddi. Ini adalah dusun di kawasan pesisir yang berlokasi di Desa Nisombalia Kecamatan Marusu, Maros, Sulawesi Selatan.
Beberapa kali kami harus menunduk saat ranting dan daun mangrove yang menjuntai, menghalangi jalur ke tempat perahu akan bersandar. Perahu berjalan lambat hingga akhirnya berhenti di tengah-tengah hutan mangrove.
Walau berada di pesisir Selat Makassar dan matahari yang mulai tinggi, berjalan di antara hutan mangrove ini, tak membuat panas begitu terasa. Sesekali angin bertiup di antara rimbun tanaman dan membawa udara yang terasa sejuk. Burung-burung tak berhenti berkicau. Suaranya merdu
“Sejak tanaman mangrove kembali tumbuh dan jadi hutan seperti sekarang, banyak burung yang datang. Macam-macam jenisnya dan beda-beda suaranya,” kata Rudi (31), warga Kuri Caddi, Senin (20/7/2026).
Tak hanya burung, kawasan mangrove ini juga jadi tempat berkembang biak kepiting dan udang. Bahkan nelayan yang menangkap rajungan di laut, menjadikan tambak di kawasan hutan mangrove ini sebagai tempat membesarkan rajungan. Ada pula udang windu dan bandeng.
“Sekarang harga rajungan per kilogram sampai 70.000 rupiah. Itu harga pembelian di nelayan,” katanya.
Hutan mangrove yang saat ini tumbuh subur di pesisir Kuri Caddi adalah hasil rehabilitasi yang dilakukan sejak 2013 oleh Yayasan Hutan Biru. Lembaga swadaya masyarakat ini memang aktif melakukan rehabilitasi mangrove di sejumlah pesisir di Sulawesi Selatan hingga Kalimantan.
Awalnya, hutan mangrove di Kuri Caddi nyaris habis akibat pembukaan tambak oleh warga setempat. Warga memang punya kebiasaan membabat mangrove untuk tambak. Akibatnya abrasi menjadi ancaman yang mengintai setiap saat.
“Biasanya saat akan membuka tambak, warga membabat mangrove. Hal ini karena di lahan bekas mangrove ada organisme yang membuat tambak lebih produktif dan hasilnya bagus. Tapi kondisi ini hanya berlangsung lima tahun dan setelahnya kualitas tambak mulai menurun,” kata Rahmat Mato, Partnership & Communication Coordinator Yayasan Hutan Biru.
Saat kualitas tambak menurun, warga akan memilih areal mangrove lainnya untuk dibabat dan dijadikan lokasi tambak baru. Tak heran, bukan hanya hutan mangrove yang perlahan habis, tambak yang terbengkalai juga banyak.
“Kami masuk ke Kuri Caddi dengan program rehabilitasi mangrove. Karena banyak warga yang memiliki tambak, kami jalankan program di mana tambak dan mangrove jalan beriringan,” ucap Rahmat.
Dalam upaya rehabilitasi ini, Yayasan Hutan Biru tak sekadar menanam mangrove, tapi lebih berfokus pada pengaturan pematang dan saluran air. Sebagai tanaman darat yang bisa beradaptasi dalam kondisi basah, pengaturan pematang dan air akan memberi kesempatan pada mangrove tumbuh secara alami.
“Ini yang terjadi di Kuri Caddi. Fokus kami pada pengaturan saluran air dengan mengatur pematang. Dengan kondisi yang baik, mangrove akan tumbuh secara alami. Di sisi lain, hal ini juga memberi ruang pada tambak untuk tetap produktif tanpa harus membabat mangrove,” katanya.
Hasilnya bukan hanya hutan mangrove yang tumbuh lebat dengan luasan yang kini mencapai 12 hektar, spesiesnya pun bertambah. Semula hanya ada lima spesies mangrove yang tumbuh di kawasan ini dan sekarang bertambah menjadi 15 spesies.
Udang, kepiting, dan ikan tentu saja jadi dampak positif lain dari rehabilitasi ini. Hutan ini juga menjadi ruang hidup bagi aneka jenis burung. Beberapa burung yang sering bermigrasi menjadikan hutan mangrove ini sebagai tempat singgah.
Direktur Yayasan Hutan Biru Rio Ahmad mengatakan, pemulihan mangrove sangat penting karena faktanya di Indonesia, kehilangan mangrove mencapai 52.000 hektar per tahun.
“40 persen hutan mangrove Indonesia hilang dalam tiga dekade akibat pembukaan tambak. Emisi karbon yang dilepas akibat kerusakan ini 190 juta ton Co2 Eq. Ini setara dengan emisi yang dikeluarkan jika seluruh kendaran di Indonesia mengelilingi bumi dua kali,” katanya.
Di Sulawesi Selatan, potensi habitat mangrove mencapai 124.570,53 hektar. Adapun yang eksisting hanya 10.800,31 hektar. Artinya masih cukup luas areal yang bisa dijadikan hutan mangrove.
Bagi warga pesisir sendiri, kembalinya mangrove di Kuri Caddi bukan sekadar membuat dampak abrasi bisa ditekan. Mereka juga mendapatkan berbagai manfaat lain, terutama untuk ekonomi keluarga. Perempuan-perempuan dusun yang semula hanya mengurus rumah tangga dan menunggu suami pulang melaut, kini jadi punya penghasilan tambahan.
Daeng Cora (50), misalnya. Kehadiran berbagai jenis mangrove termasuk spesies Acantus membuat ia kini punya usaha rumahan, yakni teh mengrove. Dengan memanfaatkan daun mangrove Acantus yang dikeringkan, dia bisa memproduksi teh yang punya pasar sendiri.
“Saya tinggal pergi ke hutan mangrove ambil daunnya, lalu saya cuci bersih dan keringkan. Di sini mudah mengeringkan secara alami karena sinar matahari cukup banyak. Setelah kering, daunnya saya haluskan dan kemas. Pembelinya lumayan,” katanya.
Dari menjual teh mangrove yang diberi merek Teh Kalli Kalli ini, dia mendapatkan ratusan ribu per bulan. Modalnya hanya blender dan kemasan yang rutin dia pesan. Selebihnya, mangrove dan matahari dia dapatkan cuma-cuma.
“Biasanya sebelum masuk musim hujan, saya ambil daun dalam jumlah banyak dan keringkan. Penyimpanan saya buat agar lebih tahan lama. Jika pesanan banyak di saat musim hujan, saya sudah punya bahan siap olah,” ujarnya.
Lain lagi dengan Nurdiana (42), yang punya usaha rumahan keripik rajungan, keripik ikan, dan sambal ikan dalam kemasan. Sebagian bahan baku diperoleh di sekitar tempat tinggalnya. Pengetahuan membuat aneka camilan dan pelengkap makanan ini diperoleh dari sekolah lapang Yayasan Hutan Biru.
“Sejak 2022 saya mulai usaha ini setelah mendapat pelatihan dari sekolah lapang Yayasan Hutan Biru. Sampai sekarang tetap jalan bahkan makin besar. Kerupuk saya dibawa jemaah sampai ke Tanah Suci,” katanya.
Keripik siap makan yang dijual seharga Rp 15.000 per bungkus dengan berat 400 gram, bisa diproduksi hingga ratusan bungkus per bulan. Nurdiana memperkerjakan banyak perempuan di dusun tersebut.
Di luar berbagai dampak positif ini, Kuri Caddi kini juga mulai dilirik menjadi tempat wisata. Cukup berperahu sekitar 15-20 menit dari Makassar, pantai berpasir putih, hutan mengrove, dan kicau burung bisa dinikmati dan sejenak melupakan kebisingan Makassar.





